Persib dan Sektor Kelima

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

Ada cerita menarik usai perhelatan SEA Games lalu, utamanya bagi para penggemar bola tanah air, yaitu terkait perkiraan harga seorang Febri Hariyadi yang hampir menyentuh angka 3 milliar rupiah. Keterangan ini dapat dilihat bebas di www.transfermarkt.com yang memuat prakiraan harga para pemain sepak bola profesional di seluruh dunia.

Terlepas dari metode dan asumsi yang www.transfermarkt.com gunakan untuk menghasilkan angka tersebut, data-data ini tentu menarik untuk di perbincangkan atau sekadar menjadi komparasi dengan pemain-pemain lain. Pada kenyataannya pembuat harga sesungguhnya adalah kesepakatan di antara klub yang melakukan transfer, sehingga seluruh rumor dan asumsi boleh saja menjadi begitu liar dan sah diyakini untuk sekedar mendapat kata pantas tak pantas.

Namun sebelum terjadi transfer tentu semua hanyalah sekadar prediksi belaka. Yang terpenting adalah arah sepak bola industri semakin nyata manakala patokan-patokan rupiah mulai tak tabu untuk diperbincangkan. Karena gestur keterbukaan itu yang nantinya akan membuat persaingan menjadi sehat dalam hal perpindahan pemain dari satu klub ke klub lain.

Asumsi-asumsi tentang harga pemain pun membuat tegas bahwa aset terpenting dalam sepak bola itu memiliki nilai dan kepastian yang bisa diukur secara rasional oleh uang. Manakala seluruh pemain dianggap aset dengan nilai nominal yang terukur, maka klub pun akan mulai menatap fase sepak bola yang lebih semarak dengan mengoptimalkan sektor kelima terkait sumber pendapatan klub profesional, yaitu jual-beli pemain.

Sumber Pendapatan Klub Profesional

Dalam konteks sepak bola Indonesia, seringkali disebut empat sektor pendapatan klub profesional yaitu iklan dan sponsorship, penjualan tiket pertandingan, hak siar televisi. Sebenarnya masih ada satu lagi sektor kelima yaitu penjualan pemain, namun sektor ini jarang sekali dibahas karena klub-klub Indonesia memang belum terbiasa menjadikannya sebagai sumber pundi utama.

Padahal seharusnya sektor kelima ini sama potensialnya dengan empat sektor lain. Kebiasaan klub sepak bola Indonesia yang doyan mengontrak pemain hanya satu musim saja menjadikan kultur 'berinvestasi' di sektor ini menjadi kurang populer. Padahal salah satu syarat terpenting untuk bisa mendulang keuntungan di sektor kelima adalah status si pemain yang secara de jure maupun de facto adalah milik klub tertentu untuk jangka waktu beberapa tahun ke depan. Sehingga jika ada klub yang berminat menggunakan jasa si pemain, maka klub tersebut harus menebus dan membayar sejumlah uang kepada klub pemilik.

Namun karena klub Indonesia terbiasa mengikat pemain hanya satu musim saja, maka otomatis di musim berikutnya si pemain akan berstatus bebas dan klub mana saja yang berminat berhak melakukan negosiasi dengan pemain itu.

Terkait status pemain yang bebas melakukan negosiasi dan lepas dari ikatan klub maka kita harus mengacu pada satu momentum terpenting dalam sejarah transfer pemain sepak bola.

Dalam konteks ini yang paling fenomenal tentulah aturan Bosman (Bosman ruling). Jean Marc Bosman bukanlah pemain hebat ataupun memiliki karir istimewa, namun dia telah melakukan sebuah revolusi dalam sepakbola.

Langkah hukumnya telah mengubah struktur transfer pemain secara radikal. Saat itu (menjelang akhir 80-an) Bosman ingin hengkang dari klub lamanya di Belgia. Namun ketika itu tidak dikenal status free transfer, sehingga seorang pemain yang ingin pindah klub nasibnya tetap bergantung kepada klub walau masa kontraknya telah habis.

Kemudian Bosman melakukan langkah hukum dengan menggugat klubnya ini ke pengadilan. Setelah melalui proses yang cukup panjang, puncaknya adalah pada tahun 1995 ketika Mahkamah Uni Eropa memenangkan gugatannya. Maka sejak itu pula setiap pemain yang telah habis kontraknya berhak menentukan masa depannya sendiri.

Lalu apa dampaknya terhadap wajah sepakbola? Sungguh besar, karena sejak saat itu klub lama tak berhak lagi mendapat fee dari klub baru saat si pemain kontraknya habis. Daya tawar pemain sepakbola pun menjadi lebih tinggi, hal yang bertolak belakang ketika aturan Bosman belum berlaku.Hal inilah yang memicu nilai transfer gila-gilaan. Percayalah, harga seorang Gareth Bale, Cristiano Ronaldo, Neymar, ataupun Pogba tak akan menyentuh angka 1 trilliun andai aturan Bosman tak ada.

Tak hanya kepada pemain, dalam jangka panjang eksesnya dirasakan klub. Aktivitas transfer dengan nilai gila-gilaan tak ayal membuat keuangan klub terganggu. Bahkan klub-klub besar pun sebenarnya terkena dampak serius aturan Bosman ini. Sejak saat itulah, pola 'investasi'  dengan mengikat pemain dengan durasi kontrak panjang mulai menjadi trend, agar kelak klub tak kecolongan dan tekor saat pemain mereka diminati klub lain.

Investasi

Mengikat pemain muda berbakat dalam durasi kontrak yang cukup panjang ibarat berinvestasi sekaligus melakukan perjudian. Jika di awal karir penampilan sang pemain langsung melejit dan konsisten untuk dipakai terus jasanya sembari meningkatkan nilai jualnya, tentu sebuah keuntungan pula jika kelak klub sukses menjual sang pemain dengan harga berlipat-lipat.

Namun tak sedikit kasus klub yang mengikat pemain muda yang tak sesuai ekspektasi. Terlebih jika didera cidera, maka kontribusi untuk klub tak ada, klub lain pun tiada yang tertarik. Oleh karena itu insting kemampuan memantau bakat yang ditunjang oleh insting 'bisnis' sangatlah penting diperankan oleh pemangku jabatan strategis di suatu klub profesional.

Salah satu contoh adalah keberhasilan Manchester United (MU) memperlakukan Rafael dan Fabio da Silva sejak keduanya masih berusia 16 tahun. Karena belum bisa mengikat kontrak profesional karena terbentur regulasi umur, pihak United membujuknya menetap di kota Manchester dengan berbagai fasilitas dan keleluasaan untuk mengajak serta keluarga.

Setelah umur mereka mencukupi, pihak klub langsung mengontraknya dalam jangka waktu yang lama. Saat memasuki pertengahan masa kontrak, kedua pemain tersebut dilepas dengan nilai jauh lebih tinggi dari saat pertama kali datang ke MU.

Dalam konteks yang mirip, Persib sebenarnya memiliki keleluasaan dan banyak pilihan untuk menentukan 'anak asuh'. Cara paling mudah tentunya mengoptimalkan bakat-bakat internal dari Bandung-Jawa Barat, walau kompetisi internal dan konsep untuk menjembatani Persib amatir-Persib profesional masih terus mencari bentuk ideal. Namun kewibawaan tokoh-tokoh bola dan alasan historis masih cukup jitu untuk menyodorkan talenta-talenta bola priangan yang memang seakan tiada pernah habis.

Nama-nama seperti Febri, Zola, dkk bisa menjadi bukti bahwa Persib tak perlu melihat kemana-mana untuk mendapatkan aset terbaik. Terlebih jika jenjang kompetisi sudah berjalan baik layaknya jenjang karir yang memberi kepastian. Maka mereka yang terbaik dari Persib U-19 ataupun U-21 takkan kemana-mana dan langsung menjadikan Persib senior sebagai prioritas, jika cocok ya langsung kontrak jangka panjang. Tak perlu langsung diberdayakan memang, bisa saja dipinjamkan atau disekolahkan lagi agar ilmu bolanya matang. Namun ketika saatnya tiba, maka si pemain akan menjelma menjadi aset yang berharga.

Ketelatenan dan kesabaran serta tak berharap hasil instan pun menjadi penting. Terlebih ada usia-usia di mana bakat pemain tampak dan memikat banyak pihak namun regulasi mengatakan pemain belum boleh dikontrak karena belum cukup umur. Maka pendekatan-pendekatan emosional dan kekeluargaan menjadi penting agar si pemain tak digondol klub lain. Sekali lagi Persib bisa memanfaatkan efek psikologis “Siapa sih pemain bola yang tak ingin bermain untuk Persib?”.

Oh ya, berdasarkan pengalaman saya, waspadai juga manuver pihak keluarga yang terkadang berlebihan. Karena dalam banyak kasus, keluarga atau saudara si pemain akan bertindak sebagai “agen” pertama dalam karir si pemain. Dan sialnya pola pikir agen gadungan seperti ini terkadang begitu pragmatis dan tanpa pertimbangan matang yang justru bisa merusak karir sang pemain.

Persib Terdepan

Dalam banyak hal terkait keprofesionalan klub sepak bola di tanah air, Persib sudah menjadi rujukan utama. Peluang menjadi yang terdepan untuk bisa mengoptimalkan sektor kelima sangat terbuka, stok pemain muda berbakat yang ingin bermain untuk Persib tentu sangat melimpah, baik yang berasal dari bumi priangan ataupun pemain-pemain luar yang terpantau oleh Persib.

Dalam rilis www.transfermarkt.com , Persib menempatkan 5 pemainnya dalam daftar 10 pemain termahal di Indonesia. Kapitalisasi sepak bola akan dengan mudah menaikkan angka-angka dan asumsi harga yang kini beredar, semua menjadi sangat dinamis.

Jika Persib jeli dan serius dalam menggarap sektor kelima ini maka kelak daftar pemain mahal dengan usia dibawah 21 tahun bisa jadi banyak menghuni skuat Maung Bandung. Sekaligus menunjukkan bahwa investasi Persib di sektor ini sukses, dan aset mereka akan sulit disamai oleh klub lain, namun tentu untuk menjalankan semua ini akan begitu banyak aspek yang harus terkondisikan,

Tapi satu yang pasti, jika memang punya dan kalkulasinya matang maka jangan ragu keluarkan uang disektor ini. Ingat, senin harga naik!