Cekungan dan Beragam Namanya

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

SETIAP Idulfitri tiba, nama nama geografi Gentong, menjadi nama geografi yang banyak disebut oleh pembawa acara program mudik di beberapa stasiun televisi. Bahkan ada stasiun televisi yang terus-menerus melaporkan keadaan lalu lintas di jalan antara Bandung-Tasikmalaya itu. Di ruas jalan inilah sering menjadi penyebab kemacetan yang sangat lama, bahkan pernah macet total selama 9-10 jam, seperti yang terjadi pada Idulfitri 2017.

Kawasan Gentong rona buminya berupa cekungan yang dalam. Dalam imajinasi masyarakat dulu, geomorfologi kawasan ini menyerupai gentong, tempat air yang bentuknya seperti tempayan besar, pada umumnya terbuat dari tanah liat. Secara keseluruhan, kawasan ini menyerupai penampang gentong dibelah. Bila dilihat kedua sisi penampangnya, akan terlihat menurun tajam di kedua sisinya dan sedikit datar di bagian paling dasar.

Kalau melaju dari satu sisinya berjalan menurun, maka akan menanjak di sisi yang lainnya. Jalannya dibangun mengular menyusuri lereng dan lembah tempat bertemunya kaki gunung-gunung api purba yang melingkar, yang meletus jutaan atau ribuan tahun lalu. Kini, kawah-kawah dan kalderanya yang datar dan mati, sudah banyak dihuni dan rumah yang berderet-deret.

Setiap tahun, saat lebaran dan akhir pekan, atau pada masa-masa puncak liburan, di jalan ini, khususnya di daerah Gentong, pergerekan kendaraan menjadi sangat lambat. Apalagi bila ada truk yang sarat beban yang mendaki pelan di jalanan yang terus menanjak ke arah Bandung.

Selain nama geografi Gentong, ada juga Cigumentong, kantung perkampungan di dalam Taman Buru yang berada di dasar kaldera purba Gunung Kareumbi, di utara Cicalengka, yang kini dikelola oleh koperasi Wanadri. Kantung perkampungan itu rona buminya menyerupai gentong, kawasannya lebih cekung dari lingkungan sekitarnya.

Bila melaju di jalan raya selepas Nagreg ke arah Limbangan, ada nama geografi Cijolang. Dinamai Cijolang, karena kawasannya berbentuk cekungan yang memanjang, menyerupai jolang, tempat air yang berbentuk lonjong, terbuat dari seng tebal. Saat ini, jolang umumnya dibuat dari bahan plastik, dan lebih banyak dipergunakan untuk memandikan bayi.

Menyerupai periuk dan kuali

Nama geografi lain yang rona buminya berbentuk cekungan, namun tidak sebesar gentong dan jolang adalah Cipariuk dan Mariuk. Nama geografi ini diambil dari nama alat yang sangat popular pada zamannya, yaitu pariuk. Pariuk merupakan alat untuk menanak nasi atau memasak sayur, yang terbuat dari tanah liat. Selain abadi menjadi nama geografi, kata pariuk abadai dalam nyanyian permainan anak-anak tokecang, “tokecang… tokecang… sapariuk kosong…”.

Di pelabuhan laut yang kini wilayahnya termasuk ke DKI Jakarta Raya, di pantai utaranya terdapat Pelabuhan Tanjungperiuk. Pelabuhan ini semula berupa teluk yang tenang untuk dilabuhi perahu, yang bentuknya cekung menyerupai periuk.

Kawasan yang cekung seperti pariuk, yang rona buminya berupa cekungan adalah Sukajadi. Jadi itu nama lain untuk pariuk dalam bahasa yang lebih tua, yaitu alat untuk menanak nasi dan membuat sayuran, yang terbuat dari tanah liat. Sukajadi berarti tempat yang cekung yang sangat indah-permai.

Kawasan yang cekung lainnya ada juga yang dinamai Kawali, seperti kawasan di Ciamis utara, tempat astanagede berada. Di situs itu terdapat prasasti, teks yang ditulis dalam batu. Kawali, kuali, merupakan belanga untuk memasak atau merebus sayur, yang terbuat dari tanah liat. 

Hampir serupa dengan kuali adalah kancah dalam ukuran yang lebih besar. Kancah itu kuali besar, semacam katel besar yang terbuat dari tanah liat atau besi, biasa digunakan untuk membuat gula merah atau membuat dodol. Dinamai Kancah, bila kawasan itu cekung. Namun bila keadaan sebaliknya, bila kawasan itu bentuk rona buminya cembung membulat, seperti kancah yang terbalik, maka dinamailah kawasan itu Kancahnangkub, kancah yang telungkup.

Perkembangan bahasa

Ada juga nama geografi yang berupa cekungan, yaitu Cilegon. Legon, nyelegon, tempat yang cekung, sehingga sangat nyaman bila diduduki atau ditiduri. Legon pun dapat berarti sebagai kawasan yang cekung, baik cekungnya ke dalam atau ke bawah, maupun cekungnya itu ke samping berupa teluk kecil. Legon sebagai teluk kecil, nama-nama geografi ini banyak terdapat di pantai selatan Provinsi Banten, seperti Legon Matahyang, Legon Pari, dll. 

Nama geografi Cangkorah pun menunjukkan kawasan dengan rona bumi yang berbentuk cekungan. Kata cangkorah mempunyai arti yang sama dengan legon, yaitu tempat yang cekung, bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kursi yang nyelegon itu sangat nyaman bila diduduki karena bisa dipakai untuk tiduran.

Ternyata pemberian nama untuk rona bumi yang sama, cekung, bisa beragam nama. Melihat nama-nama yang dipakai, nampaknya susuai dengan perkembangan penggunaan istilah itu di suatu tempat. Nama jadi, tidak digunakan lagi setelah istilah itu sudah berubah menjadi periuk, misalnya. Menarik untuk disimak, bahwa makna legon, tidak seja cekung ke bawah, tetapi juga cekung ke pinggir, membentuk teluk. 

Nama-nama benda yang menjadi nama geografi itu sudah jarang atau tidak pernah dipakai saat itu. Beberapa bentuk dan materialnya sudah berubah, namun nama-nama itu abadi dalam nama geografi, seperti: Gentong, Cijolang, Cipariuk, Sukajadi, Kawali, Kancah, Cilegon, Cangkorah. Dengan mempelajari toponimi, sesungguhnya belajar juga tentang perkembangan bahasa.***