Cerita dan Theoria

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SEORANG teman muda, Sandy Fendrian namanya, datang ke rumah saya beberapa waktu lalu. Ia memberi saya draf kumpulan cerita pendek karya anggota lingkaran tempatnya bergaul. Mereka mempelajari psikologi di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Ada yang sudah tamat belajar sebagaimana Sandy, ada yang masih kuliah, ada pula yang putus sekolah.

Semua cerpen yang terhimpun dalam naskah itu terinspirasi oleh teori psikologi. Di akhir tiap cerpen, penulisnya menyebutkan teori tertentu yang mengilhaminya. Saya sendiri baru menyadari adanya keantengan menulis fiksi dengan disiplin demikian. Teori, yang sudah pasti abstrak, seakan dibikin konkret dalam wadah cerita rekaan. Hemat saya, itulah cara yang unik untuk memperlajari teori, juga cara yang unik untuk mengarang cerita.

Antologi itu memuat 13 cerpen. Tak sanggup saya mengomentarinya satu demi satu di sini. Kalaupun dipaksakan, Pikiran Rakyat pasti menendang saya minggu depan. Paling-paling, saya sanggup menyebut beberapa contohnya.

Intan Galiesta terinspirasi pemikiran Carl Rogers dan bercerita tentang anak kucing. Jaka Wisena terinspirasi pemikiran Lawrence Kohlberg dan bercerita tentang demonstrasi dan cinta. Nadhira Yusuf bercerita tentang kecemburuan karena terinspirasi pemikiran John Bowlby. Sandy bercerita tentang kebodohan kampus karena terinspirasi oleh pemikiran Leon Festinger.

Setelah membaca himpunan cerita itu, saya bertanya kepada diri sendiri, apa itu “teori”? Dari mana dia datang? Mengapa ia tampak begitu penting, sampai-sampai memengaruhi cara pandang orang yang mempelajarinya? Ada kaitan apa gerangan antara kegiatan berteori dan bercerita?

Melawat dan Melihat

Kata si empunya kamus, istilah “teori” dalam bahasa Indonesia, sebagaimana istilah theory dalam bahasa Inggris, berasal dari istilah Yunani, theoria. Sampai di situ, saya hampir putus asa. Bahasa Yunani, saya tak kenal. Bahasa Latin sama asingnya. Apa itu “theoria”?

Untung ada buku Andrea Wilson Nightingale, Spectacles of Truth in Classical Greek Philosophy: Theoria in Its Cultural Context (2004). Isinya membahas pemikiran teoretis para filsuf Yunani abad ke-4 SM. Wah, saya tak sanggup masuk ke gua filsafat dalam periode yang demikian silam. Buat saya, tema tersebut tak ubahnya dengan mesin waktu buat masuk ke liang cocopét. Saya hanya ingin tahu asal-usul theoria.

Kalau saya tidak terlalu keliru, dari buku itu dapat saya catat bahwa dahulu kala, di Yunani, ada kegiatan yang disebut theoria. Artinya, mengadakan perjalanan jauh, meninggalkan kota asal, untuk mengunjungi tempat suci atau menyaksikan kegiatan keagamaan. Orang yang mengadakan perjalanan demikian disebut theoros.

Theoros terbagi ke dalam dua golongan. Ada yang diutus oleh kota, ada pula yang berangkat atas kehendaknya sendiri. Kegiatan pokoknya sama, yakni menyaksikan apa yang berlangsung di tempat suci, menangkap pesan dewata di sana, seraya melibatkan diri dalam festival dan berinteraksi dengan sesama peziarah dari berbagai wilayah. Mereka akan kembali ke tempat asal dengan membawa wawasan baru.

Membaca dan Mencatat

Kalau theoros kembali ke kota asalnya, saya kembali ke dalam kumpulan cerpen. Sebagai pembaca yang sehari-hari bekerja di kampus, saya tertarik oleh cerpen karangan Sandy yang berjudul, “Dasar Kampus Bodoh”.

Tokoh cerita ini diliputi situasi diri yang penuh pertentangan. Dia bersusah-payah merampungkan kuliah tapi dia juga melihat kebobrokan dalam kegiatan belajar-mengajar di kampusnya.

Saya jadi termenung-menung sendiri. Bagaimana kalau situasi diri demikian terjadi pada mahasiswa saya? Jangan-jangan, saya adalah bagian dari kebodohan yang digambarkan oleh Sandy.

Diam-diam, saya tertarik untuk mengenal teman-teman muda itu lebih dekat. Komunitas mereka kelihatannya bersahaja. Ada grupnya dalam media sosial dengan nama “Dead Poets Society”. Film karya Peter Weir rupanya jadi inspirasi tersendiri.

Dengan segala masalahnya, Sandy dan teman-temannya seakan-akan sedang menjadi theoros untuk kembali kepada pembaca dengan membawa cerita tentang apa yang sesungguhnya berlangsung di luar sana. Saya sendiri, dengan senang hati, bersedia menyimaknya.***