Kacakaca Kulon - Kacakaca Wetan

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

KINI, Jalan Kacakaca Wetan (Oosteinderweg) hanya berupa jalan penghubung antara Jalan Lengkong Kecil dengan Jalan Asia-Afrika di Kota Bandung. Semula, sebutan Kacakaca Wetan itu adalah nama kawasan dan mana jalan utama untuk ruas Grootepostweg-Kacakaca Wetan (sekarang Jalan Asia Afrika antara Jalan Tamblong sampai Simpang Lima).

Dalam Peta Bandung yang ada dalam buku "Batavia, Buitenzorg, end de Preanger, Gids voor Bezoekers en Toeristen" karya M. Buys (1891), kawasan Kacakaca Wetan sudah tertera, tapi Kacakaca Kulon tidak ditulis. Dari peta itu terlihat jelas, sampai batas mana daerah yang direncanakan dan masuk ke dalam wilayah Kota Bandung, yaitu kawasan dengan lebar barat-timur sekitar 3 kilometer dan panjang utara-selatan sekitar 5 kilometer.

Pada Peta Bandung tahun 1921 (Dutch Colonial maps-Leiden University Libraries), nama kawasan dan nama Jalan Grootepostweg-Kacakaca Wetan dan Grootepostweg-Kacakaca Kulon sudah tertera dalam peta. Batas kota paling utara sampai rumah Resident Priangan, menerus sampai kampus ITB, sedangkan batas selatan sampai lapangan olah raga Tegallega.

Batas sebelah timur sampai Kacakaca Wetan di sekitar Simpanglima, sebelum Grootepostweg berbelok ke arah Kosambi menerus ke arah Parakanmuncang. Batas barat sampai perempatan Grootepostweg Kacakaca Kulon (Jalan Jenderal Sudirman) dengan Chineeshe Tampleweg (Jalan Kelenteng). Kawasan di luar itu pada umumnya masih berupa sawah dan kebun.

Kini, nama kawasan dan nama jalan Grootepostweg-Kacakaca Kulon sudah tidak tertulis lagi dalam peta, sehingga ada warga kota yang kehilangan jejak, di mana letak gerbang kota di sebelah barat.

Apa itu Kacakaca?

Kacakaca adalah penanda kawasan, landmark. Pada mulanya, kacakaca itu berupa lengkungan (biasanya dari bambu), yang didirikan sebagai gapura, sebagai gerbang kota, atau penanda kemenangan, dan untuk menghormati seorang pahlawan.

Dalam bahasa Sunda, kacakaca berarti dua tihang gedé (tembok) di kénca katuhueun jalan, baheula jadi tanda wates kota, ari ayeuna mah diwangun dialus-alus, minangka perhiasan dina waktu raraméan (R. Satjadibrata, Kamus Basa Sunda, 2005), dua tiang besar (dari tembok) di kiri kanan jalan, dulu menjadi batas kota, sekarang dibangun dibagus-bagus, sebagai hiasan saat ada keramaian.

Kota Bandung yang luasnya sekitar 15 kilometer persegi itu semakin ramai, terutama setelah Jalan Raya Pos dapat digunakan dengan kereta kuda pada tahun 1820. Ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak (sekarang Dayeuhkolot) ke dekat Jalan Raya Pos di sekitar Alun-alun Bandung sekarang. Keadaan semakin maju ketika rel kereta api antara Jakarta-Bogor-Bandung-Cicalengka selesai pada tahun 1884. 

Dengan adanya Jalan Raya Pos, terutama karena adanya kereta api, telah memudahkan mobilitas barang dan jasa, sehingga menjadi pembangkit kegiatan ekonomi. Ekonomi Kota Bandung berkembang dengan pesat, namun, sesuai dengan rencana awal pembangunan kota, kegiatan ekonomi hanya terpusat di antara Alun-alun sampai Pasar Baru. Ini akan menimbulkan masalah di kemudiaan hari, tidak sehat dalam perkembangan kota.

Atas dasar permasalahan itulah penyebaran pusat-pusat kegiatan ekonomi diintegrasikan dalam pembangunan kota, sehingga lebih menyebar di koridor Grootepostweg, namun berada luar Kacakaca Wetan dan Kacakaca Kulon. Di timur dibangun pasar Kosambi, pasar Cicadas, dan pasar Kiaracondong. Di barat dibangun Pasar Andir dan Pasar Ciroyom. Di selatan dibangun Pasar Pungkur dan Pasar Tegallega.

Perkembangan kereta api

Kereta api dimanfaatkan dengan sangat baik oleh masyarakat. Rudolf Mrázek, dalam bukunya "Engineers of Happy Land" (Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni, 2006). Pada tahun 1883, sebuah terbitan resmi Belanda tentang jajahan Hindia Belanda zaman itu mengatakan, "Terutama penduduk asli sangat memanfaatkan keberadaan kereta api". Sehingga peningkatan jumlah penumpang kereta api terus meningkat.

Mrázek menulis, "Pada 1904, komisi penyelidikan khusus pemerintah melaporkan bahwa jumlah penumpang di kelas satu (Eropa) kereta api Hindia Belanda naik sebesar 4.000 selama tiga tahun terakhir. Di kelas dua (orang Eropa yang berpendapatan rendah dan pribumi kelas atas) jumlah penumpangnya naik 33.000. Di kelas tiga (pribumi), atau kelas kambing, sebagaimana biasa disebut, kenaikannya adalah 550.000."

Lebih lanjut Mrázek mengutip komisi penyelidikan, “Pemanfaatan kereta api dan trem oleh orang kecil naik lebih cepat dari dugaan semula". Secara pragmatis, secara masal, dan dengan pemanfaatan kereta secara efisien, mereka, 69,5 persen memanfaatkan jasa kereta api untuk kepentingan ekonomi, pasar, dan mencari kerja.

Dari data penumpang kereta api yang dikutip oleh Rudolf Mrázek, dan data penumpang kereta api yang turun di Stasiun Bandung, seperti dikutip oleh Haryoto Kunto (1984), 80 persen dari penumpang itu adalah para pendugdag (commuters), yaitu mereka yang setiap hari pergi-pulang ke kota Bandung untuk berdagang.

Melihat adanya pemusatan kegiatan ekonomi di satu kawasan, maka kegiatan ekonomi perlu disebar, salah satu caranya dengan dibangunnya pasar-pasar di luar pusat kota, yang diintegrasikan dengan rel kereta api, yaitu dengan menambah halte, tempat pemberhentian kereta api yang berdekatan dengan pasar, industri, dan permukiman. 

Bagi penduduk yang akan berdagang atau berbelanja di Pasar Andir, dibangunlah Halte Andir. Begitupun yang akan ke Pasar Ciroyom, dibangunlah Halte Ciroyom. Begitu pun yang akan ke Pasar Kosambi dan permukiman di Jalan Riau, dibangun Halte Cikudapateuh. Sedangkan bagi mereka yang akan ke Pasar Cicadas dan pasar Kiaracondong, dibangun halte Kiaracondong.

Penumpang yang menuju pusat kegiatan masyarakat Eropa di sekitar Insulinde Park, dibuatkan halte di Jalan Jawa. Dan bagi penduduk yang berkegiatan di sekitar Kacakaca Wetan di Parapatanlima, dibangun Halte Karees. Kereta api saat itu benar-benar terasa sangat melayani warga kota, dan pengangkutan hasil perkebunan, seperti teh dan kopi yang mempunyai nilai ekspor yang sangat baik saat itu.***