Kopo

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

Apa yang terpikirkan ketika mendengar kata kopo? Seorang ibu rumah tangga dan seorang mahasiswi yang ditanya dengan spontan menjawab “macet”.

Nama geografi kopo diabadikan menjadi nama SD Kopo, Kota Bandung, yang dibangun oleh pemerintah kolonial awal abad ke 19 untuk penduduk setempat. Jalan di depan sekolah itu dinamai Kopoweg (kini ada ruang yang masuk ke Jl Pungkur dan Jl Pasirkoja), yang menerus ke arah selatan (kini sampai Jl Soekarno-Hatta).

Namun, masyarakat, bahkan sampai sekarang, menamai jalan yang menerus ke arah selatan dari Jl Soekarno-Hatta, masih populer menggunakan sebutan Terusan Kopo, sampai Katapang sebelum Soreng, di sana ada SD yang menggunakan alamat Terusan Kopo.

Jalan ini boleh berganti nama, namun masyarakat tetap menyebutnya jalan Kopo atau jalan Terusan Kopo, Kopo Caringin, Kopo Cirangrang, Kopo Sayati, Kopo Katapang, dan seterusnya. Kehendak otoritas Negara dalam memberi nama geografi, nama jalan, kadang ahistoris sehingga penamaan itu tidak mengakar di masyarakat.

Anak-anak tahun 1960-an, suka berguyon dengan nyanyian yang mirip teriakan. Saat itu masih ada anak yang menderita penyakit congek, infeksi di dalam telinga sampai bernanah, sehingga berbau. Itulah sebabnya yang congek atau kopok tidak perlu diundang karena bau. Anak-anak berteriak-berteriak dengan melagukan:

Kopo kondang 
Kopo kondang
Nu kopok 
Ulah diundang. 

Kopo kondang
Kopo kondang
Yang congek
Jangan diundang. 

Kopo yang dimaksud dalam tulisan ini tidak ada kaitannya dengan kopok. Kopo di sini adalah pohon jambu kopo yang tinggi pohonnya dapat  mencapai 20 m, dengan cabang-cabangnya yang kuat berwarna coklat kemerahan. Daunnya sepintas seperti jambuaer. Bunganya terletak di ranting, tapi kadang tumbuh di ketiak daun paling atas dan bunganya bercabang. Tabung kelopaknya berwarna merah, tajuknya putih agak merah. Tangkai sari sebelah bawah berwarna merah dan sebelah atas berwarna putih. Bunganya muncul sepanjang tahun, demikian pula buahnya. Buahnya agak kesed, sehingga tidak enak untuk dimakan. 

Bunga Kopo 2.jpg

Batang pohonnya besar, namun bengkok-bengkok, sehingga tidak dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Kulit kayunya dapat digunakan sebagai bahan pewarna hitam atau coklat. 

Masyarakat Sunda mengenal empat jenis kopo, yaitu:

1. Eugenia cymosa LAMK. Di Jawa Barat dikenal dengan nama kopo atau ki sireum. Sedang di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut manting. Tanaman ini tersebar di seluruh Pulau Jawa pada ketinggian di bawah 1.200 m dpl., yakni di hutan campuran. Tinggi pohon bisa mencapai 20 meter dengan gemang 85 cm. Pada tahun 1920-an, di Palabuanratu, kulit kayunya digunakan untuk menyelup kain atau benang menjadi warna hitam. 

2. Eugenia subglauca. Tanaman ini asli Pulau Jawa di bawah ketinggian 300 meter dpl. Di Jawa Barat tanaman ini disebut kopo, kopo laut, di Jawa Tengah dan Jawa Timur di kenal sebagai jembluk, jembluk krikil, klampokwatu. Sedangkan di Madura disebut klampok. Tanaman ini tersebar di Pulau Jawa, tumbuh di hutan-hutan, terutama di sepanjang aliran sungai. Bila daunnya diremas-remas akan mengeluarkan aroma wangi. Buahnya berwarna hijau kekuningan, rasanya manis sepet, tapi biasa dimakan walau kurang enak. Masih dapat ditemui di pinggir Ci Sukawayana – Cikakak – Palabuanratu, Kabupaten Sukabumi, atau di Taman Nasional Ujungkulon. 

3. Eugenia jamboloides. Di Pulau Jawa tanaman ini disebut kopo mangud, resep, atau risep. Sedangkan di Madura disebut klampokbato, resek. Tumbuhan ini tersebar di seluruh Pulau Jawa, paling umum terdapat di Jawa Tengah. Kulitnya banyak digunakan untuk menyelup kain atau benang menjadi warna hitam. Tahun 1920-an diketahui banyak pohon ini yang kulitnya dikelupas untuk bahan celup, namun luka-luka di kulitnya itu cepat pulih. 

4. Eugenia densiflora. Di Tatar Sunda, jambu ini disebut kopo, kopo lalay, kopo badak, atau petag. Kopo jenis ini tumbuh di Pulau Jawa, namun sebagian besar tersebar di Jawa Barat, tepatnya di hutan-hutan dengan ketinggian di bawah 1500 m dpl. Pohon ini tingginya bisa mencapai 20 meter dengan gemang 30 cm. Pada tahun 1920-an diketahui, di Bogor, bunganya dijadikan lalaban, dimakan dengan sambal. Walau kurang enak, buahnya yang matang biasa dimakan. Kulitnya digunakan untuk menyelup kain atau benang menjadi warna coklat. Di Taman Nasional Ujung Kulon terdapat kopo jenis ini.

Boleh jadi, karena buahnya kurang enak dimakan, serta bahan penyelup kimiawi dengan berbagai macam warna merajai pasaran, maka pohon kopo semakin kurang diminati untuk sengaja dibudidayakan. Saat ini yang kopo tumbuh alami di hutan-hutan campuran, atau di pinggir-pinggir sungai. Belum pernah mendengar ada penelitian tentang kandungan manfaat lainnya dari jambu kopo ini, sehingga menambah lengkap syarat-syarat kemusnahannya.

Di Cekungan Bandung, nama kopo sudah sangat populer karena kemacetannya. Di Jawa Barat banyak sekali daerah yang menggunakan kata kopo, seperti Cikopo. Oleh karena itu, jangan dilihat dari enak dan tidak enak rasa buahnya, namun nama buah jambu hutan itu telah menjadi nama geografi, maka menanam kembali pohon kopo adalah keniscayaan, sedikitnya di taman-taman kota atau di jalur hijau.***