Taman Bumi Ciletuh

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

AMFITEATER Ciletuh, bentang alam yang megah. Rona bumi setengah lingkaran itu terbentuk setelah terjadinya longsoran raksasa dari Formasi Jampang. Pada mulanya, di selatan Pulau Jawa yang membujur barat-timur, termasuk kawasan Ciletuh, merupakan jalur gunung api bawah laut berumur Oligo-Miosen, sekitar 25-15 juta tahun yang lalu. Kawasan Ciletuh menghadap ke laut dalam, dilalui patahan yang berarah barat daya-timut laut di sisi barat dan timurnya, serta patahan berarah barat-timur, sehingga kawasan yang diiris patahan dari berbagai arah inilah yang kemudian runtuh, terjadilah longsor yang sangat besar dan luas.

Formasi batuan itu satuan dasar dalam pengelompokkan batuan, dengan ciri adanya keseragaman unsur pembentuk dan corak yang khas. Ketika Formasi Ciletuh dan Formasi Jampang sudah terangkat ke permukaan, dan Formasi Jampang masih berbatasan dengan laut, terjadi rekahan-rekahan dan patahan sebagai dampak dari kegiatan tektonik di selatannya. Kejadian itu mengakibatkan Formasi Jampang terpecah menjadi blok-blok yang mempermudah bagi terjadinya longsoran raksasa ke arah laut.

Mahkota longsor (bagian atas) membentuk rona bumi seperti tapal kuda atau amfiteater yang terbuka ke arah barat daya. Inilah cekungan setengah lingkaran terbesar di Indonesia, panjangnya mencapai 15 kilometer. Karena terjadi longsoran raksasa dari Formasi Jampang ini telah menyingkap Formasi Ciletuh yang berada di bawahnya, sehingga batuan bancuh, batuan campur-aduk (melangé) yang umurnya 65 juta tahun terungakap.

Inilah batuan yang terangkat dari zona subduksi di dasar samudra, merupakan batuan tertua di Jawa Barat. Dinding tegak di batas depan Formasi Jampang, menjadi latar yang jelas dari amfiteater Ciletuh yang megah, dengan air terjun yang berjajar di dindingnya. 

Dari menara pandang di ujung tebing amfiteater Ciletuh, terlihat bukit yang puncaknya membundar dan bukit yang puncaknya meruncing. Sepanjang pantai terlihat gumuk pasir yang sejajar dengan garis pantai. Lebih ke arah darat, terlihat rona bumi yang terbentuk dari hasil pengendapan, terdiri atas lempung dan pasir berbutir halus hingga kasar. Kawasan ini terhampar dari timur laut hingga selatan di Teluk Ciletuh, oleh masyarakat banyak yang dijadikan tambak ikan, persawahan, dan permukiman.

Untuk mengunjungi kompleks batuan tertua di Jawa Barat harus melalui jalur laut. Singkapan batuan yang mudah dijangkau pada umumnya berada di pantai-pantai di Teluk Ciletuh. Tempat-tempat yang menarik dalam lintasan saat ke Ciletuh adalah Pulau Mandra, Pulau Manuk, Pulau Kunti. Di pulau ini terdapat singkapan lava dengan struktur lava bantal. Komponen basal pada melangé, menurut Schiller berumur 89,6 juta tahun.

Evolusi tektonik

Sebagian besar kawasan Ciletuh merupakan kawasan Suaka Alam (kawasan Cibanteng) di utara, termasuk kawasan Gunung Badak, serta kawasan Suaka Margasatwa (kawasan Cikepuh) di selatan, termasuk ke dalamnya kawasan Citisuk, Cikepuh, dan Citirem. Kedua kawasan ini berada dalam pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Dampak positifnya, keragaman geologi yang berada di kawasan konservasi ini menjadi lebih mudah perlindungannya.

Secara umum, situs geologi di Geopark Nasional Ciletuh-Palabuhanratu ini dapat dikelompokan ke dalam: bentang alam, pantai, gua laut, pulau-pulau kecil, air terjun, batuan langka-unik, fosil, dan geyser. Pengunjung pada umumnya paling banyak hanya menikmati bentang alam berupa amfiteater Ciletuh dari Panenjoan, kemudian berkunjung ke curug atau air terjun. Untuk mencapai jenis batuan yang dikonservasi, yang menjadi unggulan utamanya, agak sulit dijangkau.

Batuan yang tersebar di amfiteater Ciletuh dapat menjelaskan tentang tektonik lempeng dunia. Bukan saja tentang zona penunjaman, tapi juga tentang bukti-bukti adanya batuan yang semula terbentuk karena proses pemekaran dasar samudra yang terus berjalan, menggeser batuan itu ke tepi benua. Batuan itu kemudian digerus karena masuk ke zona penunjaman antara dua lempeng besar, lalu terangkat ke permukaan. Di Ciletuh inilah evolusi tektonik Jawa Barat khususnya, dan Pulau Jawa pada umumnya dapat dijelaskan dengan baik. 

Pada 21 Juni 2016, Provinsi Jawa Barat memiliki satu taman bumi atau geopark nasional yang sesuai dengan standar geopark UNESCO, yaitu Taman Bumi Ciletuh-Palabuhanratu. Geopark ini berada di Kabupaten Sukabumi, luas keseluruhannya 1.261 kilometer persegi.

Taman bumi merupakan konsep manajemen pengembangan kawasan berkelanjutan yang menyerasikan antara keragaman geologi, keragaman hayati, dan keragaman budaya. Di Kawasan Ciletuh ini terdapat batuan tertua di Jawa Barat, sehingga keberadaannya harus dikonservasi untuk tujuan pendidikan melalui geowisata, yang akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Kawasan Ciletuh-Palabuhanratu sangat bagus bila dijadikan kampus lapangan bagi pelajar dan mahasiswa. Sedangkan bagi masyarakat umum yang berwisata, Ciletuh-Palabuhanratu merupakan tempat yang baik untuk geowisata, karena di sini terdapat perpaduan yang nyata antara ilmu-ilmu kebumian, hayati, budaya, dan petualangan.***