Wasit Asing

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

ADA yang unik dalam pertandingan Persib Bandung melawan PS TNI pada pekan ke-18 Liga 1. Pertandingan yang digelar di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu 5 Agustus 2017 itu dipimpin wasit asing. Wasit asal Australia, Evan Shaun Robert, bertindak sebagai pengadil di tengah lapangan. Evan dibantu dua hakim garis asal Negeri Kanguru, masing-masing Brown Wilson Keneth dan Lankrindis George. Sedangkan Hendri Kristanto bertindak sebagai wasit cadangan.

Inilah pertama kali wasit asing diturunkan dalam laga resmi domestik. Selain akan menurunkan wasit asal Australia, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) juga telah memutuskan memakai jasa wasit asal Kyrgyztan di Liga 1. Keputusan ini melengkapi komponen asing dalam struktur pertandingan sepak bola domestik, setelah sebelumnya diramaikan oleh pemakaian jasa pemain dan pelatih asing. 

Pemanfaatan wasit asing merupakan bagian dari usaha PSSI meningkatkan kualitas pertandingan pada kompetisi domestik. Langkah ini pun disambut baik para pemain. Mereka berharap, wasit impor tersebut dapat mengambil keputusan yang tepat, tegas, dan tidak merugikan pemain saat memimpin pertandingan.

Sayangnya embel-embel "asing" atau impor bukan jaminan mutu. Sudah banyak pemain asing didepak. Tak sedikit pula pelatih impor terlempar dari liga. 

Perekrutan pemain Eropa yang berjuluk "bintang" (marquee player) pun tidak selalu bersinar. Tidak sedikit pemain senior yang pernah bermain dalam tiga Piala Dunia terakhir, atau berlaga dalam liga elite Eropa (Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Belanda, Prancis, Portugal, dan Turki) kalah bersaing dan gagal masuk skuad inti klubnya.

Dalam tubuh Persib Bandung saja berderet pemain asing yang masuk dalam kategori gagal. Salah satu contoh paling mutakhir adalah Carlton Cole, pemain yang pada masa jayanya bersinar di Liga Inggris, didepak dari skuad Maung Bandung. Satu dari dua marquee player yang dimiliki Persib tersebut diputus kontrak di tengah jalan karena minimnya kontribusi bagi kemajuan klub.

Kedatangan Cole dan Michael Essien sempat melambungkan harapan bobotoh. Jersey Persib bertuliskan Essien dengan nomor punggung 5 pun menjadi buruan bobotoh jelang bergulirnya Liga 1 2017.

Mimpi juara liga pun disandarkan kepada prestasi mentereng kedua marguee player Persib ini. Namun apa daya, performa Cole tidak kunjung membaik. Essien sedikit lebih beruntung. Dari hari ke hari mantan bintang Chelsea ini terus mengalami kemajuan. Namun, kehadirannya belum mendongkrak prestasi Persib. Alih-alih juara paruh musim, Persib terperosok ke papan bawah klasemen jelang putaran pertama Liga 1 berakhir.

Kompetensi dan kompetisi

Fakta bahwa tidak semua pemain dan pelatih asing sukses dalam kancah liga mestinya menjadi pelajaran ketika keputusan memakai jasa wasit asing diambil. Meski secara gramatika, "asing" menjadi pembeda dari "lokal", namun hal khusus yang menjadi pembeda (specifica differentia) sesungguhnya terletak pada kompetensi dan keahliannya. Bila benar wasit asing jadi jaminan, tidak mungkin klub-klub kaya di Eropa terlibat pengaturan skor, atau mafia pertandingan. 

Kompetensi dan keahlian menjadi "agama" baru era persaingan bebas saat ini. Agama baru ini hadir berbarengan dengan berkuasanya "rezim" persaingan (kompetisi). Hanya mereka yang benar-benar ahli, atau memenuhi standar kompetensi yang disyaratkan yang akan keluar sebagai pemenang persaingan.

Inilah norma dasar era persaingan bebas. Apa pun diukur dari kompetensi, keahlian, dan kemampun menghadirkan keuntungan kompetitif. Seorang CEO General Electric legendaris, Jack Welch, mewasiatkan pentingnya keunggulan kompetitif bagi siapa saja yang akan maju dalam persaingan, "If you don't have a competitive advantage, don't compete."

Membangun keuntungan kompetitif tidak murah dan bukan pekerjaan sekejap. Karena itu, norma dasar pentingnya keuntungan kompetitif selalu diikuti logika bisnis, seperti profesionalitas, efisiensi, dan bersandar pada pertimbangan logis.

Hampir semua hajat diserahkan nasibnya kepada persaingan, atau logika pasar. Hanya aspek-aspek yang menguasai hajat hidup orang banyak yang akan dikelola negara. Inilah gagasan visioner pendiri bangsa tentang pentingnya memiliki kompetensi, keahlian, dan keunggulan kompetitif agar bisa menjadi bangsa unggul.

Tiga rumus tangkal virus asing

Di tengah keterbatasan yang ada, Indonesia harus memasuki era persaingan bebas. Proteksi tidak banyak menjanjikan, namun kompetisi pun belum sepenuhnya menguntungkan. Kembali kepada kearifan pengelola negara untuk menarik keran kebebasan secara hati-hati agar penerapan persaingan bebas tidak mematikan potensi lokal. Idealnya setiap pemanfaatan komponen asing disertasi transformasi pengetahuan dan keahlian. Namun, harapan ini tidak selalu mulus. Sebab tak jarang komponen asing yang seharusnya jadi lesson learned (pelajaran berharga) tidak seperti yang diharapkan.

Belajar dari pemanfaatan pemain dan pelatih asing, tiga ayat berikut penting dalam menangkal virus asal asing atau asal impor. Kesatu, mendasarkan keputusan pemanfaatan tenaga asing semata-mata berdasarkan kompetensi, keahlian, dan keuntungan kompetitif; bukan semata silau terhadap embel-embel asing atau "gila Barat" (westronomia).

Kedua, pahami secara benar kapan dan sampai dimana kran kebebasan akan dibuka, sehingga serbuan tenaga dan produk asing tidak membuat anak bangsa tersudut pada kelamnya peradaban dan menempatkan mereka hanya sekadar pemandu sorak. 

Ketiga, jangan rendah diri dan merasa kurang bila berhadapan dengan elemen asing. Karena seperti halnya mereka, kita pun memiliki daya saing unik yang mereka butuhkan. 

Dalam jagat yang terbuka, kesediaan untuk menerima harus sepadan dengan kegigihan untuk berbagi (inside-out) pengalaman terbaik. Seperti halnya mereka, kita pun penghuni sah bumi ini. Maka berbagi tanggung jawablah. Jangan sekadar menyediakan panggung bagi aktor lain, dan duduk manis sebagai pemandu sorak atau jadi pengagum semata.***