Warga Menjaga Kota

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

PENATAAN kota perlu kerja keras otoritas negara dan seluruh warga kota, agar energi dan napas penataan tak segera padam. Wali kota, ibaratnya seperti seorang konduktor dalam sebuah konser. Tak mungkin konser berjalan dengan baik, bila pemain musiknya tak mengikuti konduktornya, dan pendengarnya asyik dengan obrolannya sendiri.

Inilah pentingnya bagaimana konduktor mengatur harmoni, yang akan tercapai bila seluruh komponen memainkan perannya dengan baik. Bila ada pemain salah satu alat musik yang tidak kompeten memainkan alat musiknya dalam konser tersebut, maka akan sangat mempengaruhi harmoni dalam konser itu secara keseluruhan.

Pendengar konser yang baik, pasti akan mengetahui pemain musik mana yang tidak kompeten, dan bagaimana sikap yang baik para pendengar saat mendengarkan musiknya. Demikian juga dalam berjalannya roda pemerintahan sebuah kota, semua harus kompeten, dan memainkan perannya dengan baik. 

Sesungguhnya sebuah kota itu dirancang untuk kenyamanan penghuninya. Kenyamanan warga akan tercapai bila pengelola kota menjalankan pembangunan dan pemeliharaan kotanya secara terus-menerus. Warga kota juga turut menjaga kotanya dengan baik agar lingkungan tempatnya hidup dan berkehidupan tetap nyaman. Kenyaman itu tidak mungkin tercapai bila manajemen kota lupa memelihara kota dan warga kotanya tidak disiplin hidup di perkotaan. Kota jadi amburadul, sehingga kenyamanan menjadi mandul.

Selain dituntut untuk sangat berdisiplin hidup di perkotaan, warga kota pun harus terlibat dalam menjaga, memelihara, dan mengawasi apa yang terjadi di kotanya. Warga harus secara terus-menerus menjadi penjaga, pengintai, dan peneliti kotanya. Hal ini sangat diperlukan, karena belum tentu irama kerja, idealisme, semangat, kompetensi otoritas negara itu sama kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, warga kota harus ikut mengabarkan apa yang terjadi di lingkungan permukimannya, apa yang terjadi di sepanjang jalan, gang, selokan, parit, taman, dll.

Dinas-dinas dalam pemerintahan kota dapat dianalogikan sebagai urat yang menyalurkan darah pengelolaan kota. Bila ada dinas yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, sama dengan urat yang tersumbat, sehingga darah penataan kota tidak akan berjalan dengan baik. Bila hal itu terjadi, maka warga kota sebagai penjaga, pengintai, dan peneliti dapat segera melaporkan semua yang tersumbat, dengan harapan saluran darah perkotaan dapat kembali normal, kembali berjalan lancar. Bila sebaliknya yang terjadi, saluran darah perkotaan itu dibiarkan mampet, maka penyakit perkotaan yang lebih besar akan menimpa kota itu.

Peta RW

Warga kota, termasuk para siswa SMA dan mahasiswa, mempunyai kompetensi untuk menjadi penjaga, pengintai, dan peneliti kotanya dengan objektif. Warga kota dapat berbagi koordinat letak geografis dan foto bila terjadi anomali dalam pembangunan dan penataan kota. Peta digital yang rinci sudah tersedia dengan mudah dan gratis di dunia maya dan tersedia di telefon genggam. Dengan diketahui koordinatnya dapat menginformasikan apa saja yang terjadi di daerahnya dapat dengan tepat.

Selain berbagi koordinat peta, para pelajar dan mahasiswa dapat membuat peta sistem informasi geografis RW (Peta RW) dengan skala kecil, sehingga menggambarkan lingkungan RW dengan sangat rinci. Ada beberapa manfaat dengan memetakan lingkungannya sendiri. Warga di RW itu mengetahui keseluruhan lingkungan RW-nya. Pangkalan data yang lengkap tentang keadaan RW-nya juga bisa didapatkan. Lalu, Peta RW akan mengetahui masalah yang dihadapi warga, sehingga mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Sebagai contoh, Peta RW itu harus memuat informasi: keadaan jalan, tata letak rumah dan penghuninya, saluran drainase, dan fasilitas warga lainnya. Sebut saja, keberadaan lapangan bulu tangkis, warung kopi, warung/rumah makan, pasar, toko, dll. Selain sebagai pangkalan data yang menjadi pengetahuan bagi warganya, Peta RW itu menjadi laporan keadaan lingkungannya.

Dalam Peta RW memuat keadaan gang dan jalan, apakah masih mulus, sudah hancur, atau sangat berlubang. Demikian juga keadaan sungai, parit, apakah cukup menampung air hujan, penuh sampah, atau terisi tanah galian saat membangun fasilitas kota.

Peta itu akan menggambarkan bagaimana keadaan trotoar di lingkungan tersebut, apakah masih bagus atau sudah hancur. Apakah di bawahnya ada saluran air dari jalan ke parit, atau semuanya sudah tersumbat?

Keadaan pohon peneduh jalan pun termasuk yang dipetakan. Di suatu ruas jalan, jarak antar pohon itu umumnya 5 meter, misalnya, maka akan diketahui berapa pohon yang sudah ditebang atau dimatikan oleh pembuat gedung, seperti banyak terjadi di berbagai jalan di Kota Bandung.

Dalam Peta RW pun terdapat penyebaran biopori dan sumur resapan, serta memetakan gedung komersial, kampus, industri, yang belum mempunyai sumur-sumur resapan. Melalui Peta RW digital itu apa yang sudah dikerjakan di lingkungannya menjadi sangat terukur dan terdokumentasikan. Informasi yang dipetakan selalu yang terbaru, karena peta tersebut dapat diperbaharui setiap waktu.

Panduan kerja manajer kota

Laporan bila terdapat anomali kota dalam bentuk Peta RW akan segera dibaca oleh manajer kota dengan cepat, karena Peta RW ini diunggah di dunia maya. Semua warga kota dapat mengetahui apa yang terjadi di setiap RW di suatu kota. Dengan adanya Peta RW, manajer kota akan paham, masalah apa yang paling banyak terdapat di suatu RW, bahkan akan tahu, dinas apa yang paling banyak tidak menyelesaikan permasalahan kota yang menjadi tugas dan fungsinya. Peta RW dapat juga berfungsi sebagai dasar untuk melakukan tindakan, baik oleh warga setempat atau oleh dinas yang seharusnya bekerja. 

Dalam Peta RW itu dimuat juga peta gang dan jalan secara baik dan akurat. Dengan cara itu warga se RW akan mengetahui situasi gang dan jalan yang ada di lingkungannya. Hal ini akan menjadi sangat penting bila terjadi hal yang paling tidak diinginkan terjadi, misalnya gempa bumi.

Warga di RW itu sudah mengetahui arah penyelamatan yang paling baik dan paling cepat. Itu terjadi karena jalur-jalur evakuasi dan tempat berkumpul sudah diketahui oleh warga pada saat aman, dan disimulasikan pada saat bergotong-royong membangun kenyamanan di RW-nya. Dengan cara itu, bila terjadi hal terburuk, mereka mempunyai kekuatan sendiri dalam upaya meminimalkan risiko bencana. 

Kekuatan warga itu menjadi sangat penting karena jumlah warga kota sudah sangat padat di pemukiman yang berimpitan, maka warga kota harus secara mandiri mengetahui, misalnya arah evakuasi dan cara pengurangan risiko bencananya. Lingkungan setingkat RW harus aktif memberikan informasi ini, harus memikirkan bagaimana memadamkan api di tengah permukiman padat, sehingga api tidak merembet ke rumah-rumah lainnya yang tidak mungkin terjangkau pemadam kebakaran. 

Di sinilah arti penting warga kota menjadi penjaga, pengintai, dan peneliti kotanya. Ini merupakan bukti kecintaan warga kota dengan cara melaporkan setiap anomali kota yang terjadi. Para mahasiswa yang mempunyai keahlian membuat sistem informasi geografis, dapat membuat peta digital RW. Inilah yang menjadi landasan bahwa warga kota dapat menjadi penjaga kotanya.***