Paguyuban Bobotoh Pontianak

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

ISTILAH paguyuban identik dengan perkumpulan orang-orang yang memiliki persamaan terkait primordial, daerah asal, etnis dsb. Pengalaman saya menunjukkan bahwa istilah paguyuban cukup relevan jika dikaitkan dengan konteks orang-orang Jawa Barat yang merantau ke luar Jawa namun tetap menjaga silaturahmi dengan alasan yang sangat keren yaitu: sama-sama bobotoh Persib.

Lebih dari itu, paguyuban ini pun mengakomodasi mereka yang suka Persib namun tidak berasal dari Jawa Barat ataupun tidak berdarah Sunda. Karena pada kenyataannya, Persib telah menjadi entitas global.

Kali ini saya berbagi pengalaman ketika berjumpa dengan komunitas bobotoh di Pontianak-Kalimantan Barat.

Bobotoh Kalbar

Pada 25 Juli 2017 lalu saya dinas ke kota Pontianak, Kalimantan Barat. Saya berpikir, kota ini tidaklah menarik, apalagi sepak bolanya, karena klub setempat Persipon Pontianak terseok di liga 2. Sebelumnya pun Persipon tak pernah tampil di kasta teratas liga domestik, sehingga Persib tak pernah sekalipun bermain di kota ini atau Provinsi Kalimantan Barat.

Keadaan yang berbeda 180 derajat dengan Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki banyak tim di kompetisi tertinggi Indonesia. Sebut saja Persiba Balikpapan, PBFC, Mitra Kukar, bahkan dahulu ada PKT Bontang. Wajar jika saya pikir, perjalanan 3 hari ini hanya sekadar kewajiban kantor dan membosankan.

Namun, apa yang saya pikirkan ternyata jauh dari kenyataan, berawal dari foto kedatangan di Pontianak yang saya unggah di akun Instagram @ekomaung69, seketika banyak komen dan pesan pribadi yang masuk ke kotak pesan. Pada intinya adalah mengajak bertemu dan silaturahmi. Saya agak terkejut juga, penasaran ingin mengetahui bagaimana orang-orang ini menikmati Persib. 

Keterkejutan berlanjut ketika mengetahui bahwa ternyata ada juga bobotoh Persib yang bekerja di Hotel Grand Tulip tempat saya menginap. Satu berprofesi sebagai koki, sementara lainnya bekerja di layanan SPA.

Multietnis

Pontianak ini kota multietnis, terlepas dari konflik berdarah yang pernah melanda, saya justru melihat multi etnis di Pontianak adalah hal yang unik. Walau isu SARA begitu mudah disulut di kota ini, setidaknya begitulah penjelasan seorang teman. Saya tentu tertarik dengan etnis Tionghoa yang jumlahnya signifikan di kota ini.

Tak sulit kita menemui amoy-amoy cantik jika berjalan keliling kota, wajah khas oriental begitu memanjakan mata. Mereka pun tak terkesan terisolasi, namun justru eksistensinya merambah berbagai sektor usaha, dari yang elite hinggga penjual kuliner-kuliner sederhana pinggir jalan, konon amoy-amoy yang lebih merakyat akan semakin mudah ditemui di Singkawang, 4 jam perjalanan dari Pontianak.

Namun, sayangnya, saya tak memiliki banyak waktu untuk sekadar memastikan. Saya sudah cukup senang makan es pinggir jalan yang disajikan langsung oleh amoy manis yang baik dan tidak sombong. Oya, yang menjadi pembeda adalah orang-orang Tionghoa di Pontianak terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa iongkok, sehingga terkesan mengekslusifkan diri. Sementara eksistensi etnis lain seperti Melayu, Madura, dan Jawa tak terlalu menarik perhatian saya. 

Perjalanan pertama saya menikmati kota Pontianak adalah dengan menikmati Kopi Aming di Jalan Gajah Mada. Kegiatan nongkrong sambil ngopi begitu populer di Pontianak. Sebenarnya saya tak terlalu suka ngopi, namun semangat berangkat ketika dikatakan bahwa penjualnya adalah amoy-amoy cantik. Alhasil, saya terjaga hingga dini hari di hari pertama.

Silaturahmi

Hari kedua adalah hari yang ditunggu. Saya membuat janji dengan komunitas bobotoh yang ternyata ada beberapa kelompok. Tak hanya dengan embel-embel Pontianak, namun ada yang melabeli mereka dengan khatulistiwa. Belum lagi komunitas-komunitas bobotoh di Singkawang dan perbatasan Indonesia yang hanya bisa menitip salam.

Kami bertemu di salah satu kafe di Jalan Penjara Pontianak. Rupanya ini adalah tempat di mana komunitas bobotoh menggelar acara nonton bareng setiap kali Persib bermain. Komunitas bobotoh ini beragam segmen, ada yang tua atau muda. Yang menarik, ada yang berasal dari beberapa daerah Jawa Barat semisal Tasikmalaya, Bandung, hingga Garut.

Uniknya ternyata ada juga orang-orang asli Dayak yang bergabung karena telanjur jatuh cinta pada si cantik Persib Bandung. Karakter urang Sunda yang someah ternyata memudahkan penerimaan mereka secara sosial di Pontianak. Urang-urang Sunda bisa dikatakan dekat dengan penduduk asli maupun pendatang.

Eksistensi urang-urang Sunda pun diakui di Pontianak, salah satunya melalui kegiatan per-Persib-an. Melalui Persib juga terjalin komunikasi yang intens antara orang-orang Jawa Barat yang berkiprah di Pontianak, dari mulai militer hingga aparat kepolisian ataupun mereka yang berwiraswasta di berbagai sektor usaha. Tak ayal, urang-urang Sunda pun diperhitungkan dan memiliki daya tawar cukup baik termasuk dalam dinamika politik lokal.

Namun, di balik segala kisah jaya di tanah Borneo, memang sedih juga memang jika mendengar betapa mereka sangat ingin Persib main di Pontianak entah dalam event apapun. Namun, satu yang pasti, Persib telah berkontribusi besar dalam konteks silaturahmi orang-orang Jawa Barat di perantauan. 

Perjalanan selama tiga hari di tanah Borneo ini tentu saja melebihi ekspektasi sebelumnya. Larut malam, saya baru menuju hotel sembari merencanakan usulan penelitian terkait Pilkada Serentak 2018, di mana Kalbar turut berpartisipasi. Semoga usulan penelitian saya akan disetujui pimpinan. Sehingga, tahun depan saya dapat kembali menyapa amoy-amoy cantik, eh... maksud saya menyapa para bobotoh di Pontianak.***