Memuliakan Air di Lembur Naga

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

Prasasti Batutulis

Semoga Selamat.
Ini tanda peringatan Prebu Ratu almarhum.
Dinobatkan dia dengan nama Prebu Guru Dewataprana,
Dinobatkan dia dengan nama Sri Baguda Maharaja ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
Dialah yang membuat parit Pakuan.
Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga,
cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang ke Nusalarang.
Dialah yang membuat tanda peringatan gunung-gunungan,
menjadikannya sebuah bukit punden (hutan) untuk samida,
membuat telaga Renamahawijaya.
Ya, dialah itu.
Dalam tahun Saka 1455

(Saleh Danasasmita. 2006. Ya Nu Nyusuk Na Pakwan dalam Mencari Gerbang Pakuan, Seri Sundalana. Bandung: Pusat Studi Sunda).

HUJAN baru saja reda siang itu, namun masih menyisakan rintik hujan. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, terlihat deretan rumah beratap ijuk dengan dinding putih di pelataran yang berteras-teras. Pemukiman itu terlihat padat namun artistik. Di latar belakang membenteng gawir yang curam. Leuweung larangan, hutan tutupannya masih rimbun. Di titik terendahnya, mengalir Ci Wulan, memisahkan hutan itu dengan pemukiman. Sangat mungkin, ketika hutan di hulu sungai tidak dirambah, aliran sungai ini sangat jernih. Bila bulan purnama, di sungai itu nampak bulan mengalun. 

Warga di sana menyebut tempat tinggalnya itu lembur, Lembur Naga. Namun para penulis, termasuk para peneliti, terlanjur menulisnya Kampung Naga. Konon, naga itu kependekan dari kata na gawir, yang dalam bahasa Indonesia berarti di gawir/tebing. Pemukiman yang berada di tebing. Entahlah.

Dalam Prasasti Batutulis itu, paling tidak ada tiga hal yang penting, yaitu sungai, hutan, dan telaga. Tiga hal itu banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat, ketika sistem alam itu masih dijaga keberlangsungannya.

Sungai, dalam prasasti itu sering ditafsirkan sebagai parit pertahanan. Tentulah, parit yang dibuat atas perintah raja itu harus dipelihara dengan baik, sehingga fungsinya tetap terjaga. Keadaan sungai tidak terlepas dari keadaan hutan, sehingga raja memerintahkan untuk membuat hutan. Dan ketika air melimpah, raja memerintahkan untuk membuat telaga.

Bagaimana air dimuliakan, sehingga kehidupan warganya menjadi lebih baik, masyarakat di Lembur Naga dapat menjadi tempat untuk kita bercermin.

Di puncak dan punggung gawir, oleh warga jadikan kebun tanaman keras. Di bagian lainnya, ada hutan yang dikeramatkan, sehingga secara teratur dipelihara, karena di sana ada makam karuhun, leluhur dari anak-cucu se-Naga. Angin dari berbagai arah, disaring dan dilunakkan dayanya oleh hutan yang masih terjaga.

Kelestarian lingkungan yang dipelihara dan dijaga dengan sepenuh hati oleh warga Lembur Naga, terlihat dari banyak mataair yang tidak pernah mengering. Air yang ke luar bersih itu, dimuliakan untuk kehidupan warganya. Air yang menjadi kotor setelah digunakan, dibersihkan kembali menjadi air bersih sebelum air itu dikembalikan ke Ci Wulan.

Air yang ke luar dari mata air itu lebih dari cukup untuk mengairi sawah, sehingga kelebihan airnya dipergunakan untuk memelihara ikan di balong, kolam, sekaligus sebagai upaya untuk menjernihkan kembali air, sebelum air itu masuk Ci Wulan. 

Tiga sektor di Lembur Naga

Secara garis besar, kawasan Lembur Naga dapat dibagi menjadi tiga sektor, yaitu sektor bersih, halaman lembur, dan sektor pembersihan kembali. Sektor yang terakhir, oleh Awan Mutakin (2001) disebut sebagai sektor kotor.

Sektor bersih mencakup rumah-rumah yang berada di enam teras, masjid, balai pertemuan, dan leuit/lumbung. Kawasan ini benar-benar dijaga dari berbagai hal yang dapat mengotorinya. Warga Lembur Naga sangat menjaga kebersihan lingkungan, sehingga ketaatan pada papagon, aturan, tercermin dari tempat mereka bermukim yang sangat teratur dan bersih.

Sektor halaman lembur, ruang terbuka ini berada di antara sektor bersih dan sektor pembersihan kembali. Sektor ini berfungsi sebagai penyaring hal-hal yang dapat mengotori atau mengganggu pemukiman.

Sektor pembersihan kembali berada di luar sektor bersih. Kawasan ini menempel dengan Ci Wulan. Di sektor ini ditempatkan kandang ternak, saung lisung/bangunan tempat menumbuk padi, pancuran atau jamban/MCK, dan balong. Di kawasan ini dihasilkan limbah dan diupayakan kembali menjadi bersih, sebelum air itu dikembalikan ke Ci Wulan.

Bagaimana limbah itu dibersihkan kembali secara alami, dapat dilihat dari kaitan-kaitan antara tampian/jamban (tempat mandi dan cuci), pancilingan (tempat buang hajat), dengan balong. Semua limbah masuk ke balong tempat beragam jenis ikan dipelihara. Selanjutnya pemrosesan secara alami berlangsung di sini.

Demikian juga kaitan-kaitan antara saung lisung, kandang ternak dengan balong dan sawah. Limbah dari kegiatan menumbuk padi berupa huut, dedak yang halus, langsung masuk ke kolam, menjadi makanan ikan. Begitu pun air seni dan kotoran ternak, umumnya domba, karena ditempatkan di pinggir atau atas balong, maka kotorannya langsung masuk ke kolam.

Setelah diproses secara biologis, air di balong menjadi bersih kembali, dan dialirkan ke Ci Wulan. Yang tertinggal di dasar balong berupa leutak, lumpur hitam. Setiap enam bulan, balong dibedahkeun, dikeringkan, leutak-nya dibersihkan dengan cara diangkat ke petakan-petak sawah, sehingga menjadi pupuk yang dapat menyuburkan padi.

Dengan cara menjaga dan memelihara hutan sebagai sumber air, dan memuliakan air, warga Lembur Naga menjadi produktif, sehingga mandiri dalam pangan dan gizi. Inilah yang membuat mereka menjadi kuat, dan kekuatan itulah yang memunculkan sikap egaliter.***