Mundur ala Djanur

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

KONDISI Persib terkini membuat saya mengubah total tulisan untuk kolom Pikiran Rakyat. Alhasil, bentuknya adalah seperti yang sedang Anda baca. Pemicu mengapa saya harus mengganti tulisan yang telah dipersiapkan jauh hari bukanlah tentang kekalahan Persib dari Mitra Kukar, akan tetapi pernyataan mundur (kedua kalinya) dari pelatih Djajang Nurjaman (Djanur). 

Karena, menurut saya, mundur dari suatu jabatan pun ada momentum dan waktu yang tepat. Konteks waktu dan momentum saat mundur itulah yang membuat seseorang layak disebut seorang gentleman atau tidak.

Gentleman agreement

Secara filosofi dan praktik, langkah mundur adalah bentuk nyata tanggung jawab seseorang terkait kegagalan tugas. Mundur adalah suatu bentuk tanggung jawab moral dan etika, di saat seseorang melaksanakan tugas dengan maksimal namun ternyata tak juga berhasil sementara insiden terus terjadi maka langkah mundur adalah tindakan profesional dan gentle. 

Dengan mundur maka kita memberi kesempatan kepada orang lain (yang dianggap lebih mampu) untuk melanjutkan tugas yang belum tuntas. Dengan mundur pula maka kita mengakui bahwa manusia bisa gagal dalam suatu situasi dan kesempatan, dan bisa berhasil pada situasi dan kesempatan lainnya.

Dalam berbagai contoh dan persepsi, maka budaya mundur adalah budaya ksatria yang memiliki nilai baik dan sangat terhormat. Namun, jangan salah, mundur di saat yang tidak tepat malah bisa dicap lari dari tanggung jawab. Dan waktu-waktu yang tepat itu sangat dinamis dalam konteks sepak bola.

Saat Djanur mundur

Dalam perspektif Persib sebagai perseroan terbatas mungkin benar tanggung jawab Djanur terkait hubungan kerja adalah kepada PT PBB. Namun, karena pekerjaan Djanur terkait Persib yang melibatkan banyak pandangan orang maka kita tak hanya bicara sekadar hubungan keperdataan dan kontrak antara perusahaan dengan pekerjanya semata. Ada moral dan etika yang jauh melebihi sekadar kata-kata perjanjian dan tandatangan di atas materai.

Pernyataan mundur Kang Djanur usai kekalahan di Bekasi namun dengan syarat direstui manajemen sebenarnya membingungkan. Karena gestur manajemen jelas-jelas takkan merestui pengunduran dirinya. Juga kedekatan Kang Djanur dengan pentolan-pentolan kelompok suporter Persib terbesar yang tentu akan mencampur adukkan antara langkah profesional dan nuansa emosional. Alhasil saat Kang Djanur kembali mendampingi tim, maka yang ada hanyalah kecanggungan di antara bobotoh itu sendiri, yang sebelumnya mendukung Kang Djanur bertahan dengan yang ingin Kang Djanur mundur. Maka sejak itulah sebenarnya tuntutan agar Djanur mundur sudah tak akan memiliki daya ganggu yang serius. 

Serangan terkait tanggung jawab kepelatihan pun menjadi hambar. Padahal, dalam dunia sepak bola pelatih sudah sangat jamak menjadi pihak yang didakwa atas kegagalan atau terpuruknya suatu tim walau sebenarnya faktor kagagalan tentu bukan hanya sang pelatih. Tapi itulah konsekuensi logis sepak bola. Pelatihlah yang dianggap paling bertanggung jawab atas performa suatu kesebelasan.

Pendek kata, momentum terbaik untuk Kang Djanur mundur (dan berhenti) sebagai seorang gentleman adalah saat Persib kalah dari Bhayangkara FC di Bekasi, dan momentum itu telah terlewati. Berikutnya gelombang tekanan tak sedahsyat pascakekalahan di Bekasi, bahkan tak ada lagi ultimatum-ultimatum khas bobotoh yang seliweran di media sosial. Yang ada hanya ungkapan kekecewaan-kekecewaan saja saat Persib bermain di bawah harapan.

Statement mundur (kedua kalinya) terlontar usai Persib digilas Mitra Kukar tadi malam. Ini pun suatu pernyataan mundur yang membingungkan. Apa Djanur merasa gagal karena kalah. Jika itu alasannya, bukankah Persib kalah juga di Banjarmasin dan Madura? Lalu mengapa Kang Djanur tak melontarkan keinginan untuk mundur (untuk kedua kalinya).

Perlu dipahami bahwa mundur ataupun dipecat dalam dunia kepelatihan sepak bola bukanlah hal yang tabu. Banyak pelatih yang berhenti di tengah jalan ketika menangani suatu tim, atau tak diperpanjang kontrak namun beberapa musim lagi justru berjaya dengan tim yang sama. Sebut saja Marcello Lippi dengan Juventus. Dinamika ini tentu saja berbeda dengan dunia politik, di mana orang yang mundur hampir pasti takkan lagi dipercaya atau menduduki jabatan di instansi yang sama.

Jangan lupakan pula bahwa sepak bola profesional terkadang tak ramah terhadap nostalgia. Ambil contoh betapa kurang ajarnya Leicester City yang mendepak seorang Claudio Ranierri usai dirinya mengantarkan Leicester menjuarai Liga Inggris. Padahal tanpa sentuhan Ranierri, klub ini bukanlah apa-apa, hanya klub kelas 2 yang tak pernah juara hingga puluhan tahun lamanya.

Sehingga prestasi Djajang Nurjaman yang sukses membawa Persib juara Liga 2014 dan Piala Presiden 2015 sebenarnya tak relevan digunakan sebagai alasan agar ia terus dipertahankan dimusim-musim berikutnya. Tentu harus ada evaluasi terus menerus yang bisa dijadikan parameter pada setiap musimnya. 
Meski demikian, tak perlu khawatir publik akan melupakan apa yang telah Kang Djanur perbuat untuk Persib. Gol ke gawang Manokwari yang membuat Persib juara perserikatan setelah berkali-kali gagal, sukses sebagai asisten pelatih, hingga puncaknya membawa Persib juara liga 2014 setelah 19 tahun. Tentu semua pencapaian itu terlalu sempurna untuk dilupakan, bisa jadi akan terus dibicarakan hingga berpuluh tahun kemudian.

Persib vs Persija

Lalu, bagamana secara de jure dan de facto Djanur dan Persib usai ucapan mundur tadi malam. Secara de jure kita akan berbelit-belit terkait mekanisme prosedural, namun secara de facto seharusnya Kang Djanur memang tidak bersama tim lagi dan hanya menunggu surat resmi dari PT PBB.

Dalam rentang waktu itu pula, ia bisa memilih banyak hal, pengalaman, nama baik, dan kapasitasnya menjadi jaminan, apalagi setelah lulus lisensi A AFC beberapa waktu yang lalu. Secara kemapanan materi, Kang Djanur pun sudah sangat terjamin dan bukan tipikal pelatih joobseeker. Sehingga yang lebih menarik diperbincangkan adalah: Apakah keputusan mundurnya tepat waktu?

Mengingat laga berikutnya adalah laga kandang paling krusial dan wajib menang, laga yang melibatkan emosi para bobotoh, Ya! Laga berikutnya pada 22 Juli 2017 adalah laga Persib menjamu Persija Jakarta. Bobotoh telanjur menganggap "boleh kalah dari tim manapun asal jangan dari Persija".

Saya sih tak ingin berspekulasi apakah Kang Djanur mundur karena tak memiliki kepercayaan timnya bisa menang saat menjamu Persija. Karena risikonya memang jelas: jika Persib takluk di kandang maka nama Djanur akan semakin tak harum (walau di lain sisi bisa pula kemenangan atas Persija justru melupakan hasil mengecewakan di laga-laga sebelumnya).

Jujur, saya tak peduli lagi dengan keputusan mundurnya Djanur karena telah melewati masa gentleman untuk mundur. Tapi saya (dan banyak bobotoh) bisa menyalahkan orang yang membuat Persib kehilangan kehormatannya pada 22 Juli 2017 nanti. Apalagi, jika penyebabnya hanyalah karena orang itu membuat Persib tak didampingi secara layak dan memadai untuk berlatih dan mempersiapkan diri jelang duel lawan Persija.***