Penjaga Lumbung Pengetahuan

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

MENULISKAN gagasan, pemikiran, atau hasil penelitian untuk konsumsi masyarakat, pada dasarnya adalah melaksanakan keinginan untuk berbagi pengetahuan. Bila tidak ada niat ingin berbagi, seseorang akan menjadi satpam bagi lumbung pengetahuannya. Dia akan menjaga dengan ketat simpanan pengetahuannya agar tidak ada yang memanfaatkannya. 

Ada orang yang merasa bangga sebagai penumpuk ilmu pengetahuan dan sebagai penjaga lumbungnya. Padahal, berbagi ilmu pengetahuan itu merupakan bentuk pertanggungjawaban seseorang kepada publik. Seorang ilmuwan, seorang peneliti, sesungguhnya akan diukur dari seberapa banyak ia telah menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Ada orang yang tidak mau berbagi ilmu pengetahuan karena beranggapan, pengetahuan yang didapatnya itu dengan cara susah payah. Bila dipublikasikan, pengetahuannya itu akan “memintarkan” orang lain yang membacanya. Sesungguhnya inti permasalahannya berada pada rasa khawatir dari peneliti itu, bagaimana nanti bila tawaran atau penugasan untuk meneliti, memberikan ceramah, atau menjadi nara sumber, tidak jatuh kepadanya, melainkan jatuh kepada orang lain yang sudah membaca karya penelitiannya. 

Namun, sesungguhnya para peneliti yang dengan erat mendekap hasil penelitiannya itu akan mengalami kerugian besar, ketika ada peneliti lain meneliti hal yang sama, kemudian langsung mempublikasikan hasil penelitiannya dalam berbagai saluran publikasi, seperti jurnal, buku, dan media daring. Karena disebarluaskan dengan baik, karya penelitian itulah yang menjadi rujukan bagi banyak peneliti berikutnya. Masyarakat pembaca menjadi tahu bahwa peneliti itulah yang mempunyai kompetensi dalam bidang tersebut. 

Dampak susulannya, para peneliti yang mempublikasikan karyanyalah yang sudah “memintarkan” orang lain itulah yang akan banyak diajak untuk mengadakan berbagai kegiatan keilmuan yang datang dari berbagai arah.

Berbagi inilah seharusnya menjadi dorongan untuk terus meneliti dan menyebarluaskannya. Kecenderungan masyarakat saat ini yang mempunyai daya jelajah yang baik, menguasai teknologi informasi, sehingga dapat dengan segera mempublikasikan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. 

Mungkin saja, apa yang dipublikasan masyarakat dalam berbagai situs jaringan atau jejaring sosial itu secara keilmuan kurang lengkap. Di beberapa lembaga bertaraf internasional di berbagai negara, kini mereka mempunyai media sosial, yang menginformasikan hal penting dalam satu paragraf singkat, tapi menyertakan tautan tinggal klik bagi yang ingin mengetahui hasil penelitian lebih dalam. 

Akhir-akhir ini, tumbuh pesat kecenderungan masyarakat untuk melakukan geowisata. Masyarakat akan bersentuhan dengan objek yang menjadi kajian geologi, geografi, arkeologi, biologi, budaya, sehingga mereka perlu mendapatkan informasi yang benar tentang objek itu, serta mendapatkan informasi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di situs tersebut.

Dihancurkannya situs-situs Majapahit menjadi jalan, gedung, dan lain lain, membangun jalan tembok di atas bangunan candi di Dhieng, membangun menara pandang di zona inti di Gunung Padang, Cianjur, menafsirkan semua bentukan kerucut sebagai piramid, dan lain lain, bisa jadi para ahli ikut memberikan andil, karena tidak memberikan informasi yang baik dan dapat dimengerti oleh masyarakat. Salah satu media untuk mendapatkan informasi itu adalah suratkabar, laman, dan media sosial.

Para pegawai sering berhenti berkarya dengan kreatif ketika lulus seleksi menjadi karyawan. Menjadi pegawai dijadikan sebagai tujuan, padahal seharusnya menjadi pegawai itu sebagai wahana untuk mewujudkan tujuan institusi dan mewujudkan mimpi besar dengan bekerja penuh sukacita, meminatinya segenap hati, jujur, yakin pada diri sendiri, mencoba hal baru-keluar dari zona nyaman, memiliki kemampuan yang kuat, dan berani untuk mewujudkan gagasan. Kesemuanya itu akan menjadi energi untuk berbagi, sehingga bekerja tidak akan sebagai beban harian.

Energi itulah yang akan menggairahkan untuk terus berbagi menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya kepada masyarakat melalui berbagai saluran, seperti: Laporan hasil penelitian, membuat katalog, jurnal, ditulis di media massa, baik berupa berita atau tulisan popular, dan disimpan di laman atau media sosial. Media sosial seperti Facebook dan Twitter, sekarang menjadi sangat popular karena kekuatannya dalam menginspirasi masyarakat dalam suatu gerakan sosial. Jangan heran, para politisi saat ini mempunyai Facebook dan Twiiter. 

Pemerintahan Tiongkok sampai melarang Twitter di negaranya, karena mereka sadar, Twitter dengan pengikut yang tak terbatas, dapat menjadi kekuatan gerakan yang dahsyat. Oleh karena itu lembaga-lembaga penelitian harus juga memiliki Facebook dan Twitter sendiri, yang terus-menerus diperbaharui halaman isinya. Dengan cara itu masyarakat tidak buta ilmu pengetahuan. 

Dalam diri manusia itu banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dengan baik. Masyarakat butuh makan, baju, rumah, pengetahuan. Masyarakat pun mempunyai keinginan. Seseorang butuh makan, namun ia ingin nasi pecel, misalnya, lalu orang tersebut melakukan permintaan dengan membelinya, karena mampu dan bersedia membayar nasi pecel tersebut. 

Contoh lain, seseorang butuh membaca. Tugas lembaga-lembaga penelitian dan para penelitinya harus mempengaruhi masyarakat aga keinginannya itu untuk membaca tulisan-tulisan tentang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu membuat jurnal, tulisan populer untuk koran, atau media sosial harus mempunyai nilai bagi masyarakat, agar pembacanya terpuaskan, tercerahkan.

Tantangannya di sini, bagaimana agar pegawai itu dapat memenuhi poin dan koin, tapi juga dapat berbagi ilmu pengetahuan kepada masyarakat yang lebih luas.***