Binar Cahaya Keluarga (1)

miftahfaridl's picture

KH Miftah Faridl

Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation, Twitter @miftahfaridl_ID

HIDUP berumah tangga, sebagaimana kehidupan duniawi lainnya, kerapkali diwarnai suasana yang silih berganti: susah, senang, bahagia, dan sengsara. Ada ketentraman tetapi tidak sedikit pula kepiluan yang menikam. Sebuah pandangan yang ekstrem bahkan sampai pada sebuah kesimpulan yang menyeramkan: keluarga, tidak kurang tidak lebih, adalah sebuah penjara yang menyesakkan. Sebuah kegelapan! 

Dengan berkeluarga (menikah), orang memiliki istri atau suami. Tetapi dengan berkeluarga pula, orang dimiliki oleh suami atau istri. Nikah bisa melahirkan kebebasan tetapi dalam waktu yang sama, pernikahan memunculkan sejumlah batasan dan ikatan. Kata orang, di sinilah asyiknya (atau, mungkin juga, ruwetnya) berkeluarga. Bagi mereka yang tidak begitu percaya pada dunia, bisa jadi hidup tanpa keluarga hingga di ujung usia, adalah pilihan yang bijaksana. 

Ada orang yang mengatakan (ini masih dari kalangan penganut aliran pesimisme), bahwa keputusan melaksanakan nikah adalah keberanian untuk melakukan spekulasi besar dalam kehidupan. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, juga tidak sepenuhnya salah. Sebab, hidup berumah tangga masih bisa diperhitungkan dan direncanakan. 

Lagi pula, menikah bisa mendatangkan kebahagiaan besar, yang tidak mungkin diperoleh oleh mereka yang tidak menikah. Kendati, bisa jadi juga, pernikahan mendatangkan penderitaan besar dan berkepanjangan (awet rajet), yang mungkin tidak akan diperoleh oleh mereka yang tidak menikah. Mungkin, akibat salah kelola, atau karena salah sejak semula, tidak sedikit keluarga yang berubah menjadi arena pertunjukkan berbagai kisah derita dan rupa-rupa malapetaka. Masalah datang silih berganti, susul-menyusul seolah tak mau berhenti.

Alhasil, dengan berumah tangga, orang bisa memperoleh kebahagiaan besar dan dengan berumah tangga pula orang bertemu dengan duka lara dan malapetaka besar. Dengan berumah tangga, orang menemukan ketenangan hidup. Dengan berumah tangga pula orang bersua dengan keresahan dan kehancuran hidup. Dunia keluarga adalah dunia segala-gala. 

Barangkali, sepasang suami istri bisa menjadi sepasang teman atau kekasih yang saling menyayangi tetapi untuk menjadi orangtua yang berhasil dibutuhkan kemampuan untuk mengatur satu hubungan kerja sama yang kompak, yang terkadang sulit, ruwet, dan sangat khusus. 

Apa pasal? Karena di sini ada pihak lain yang terlibat, anak-anak. Bahkan, suami-istri yang penuh cinta dan saling mendukung pun harus bekerja keras untuk menjadi orangtua yang benar-benar memiliki kekompakan.

Acapkali, perbedaan latar belakang suami dan istri mempengaruhi sikap keduanya dalam menerapkan pola pengasuhan anak yang menurut masing-masing merupakan pola pengasuhan yang terbaik. Sehingga, kadang-kadang, yang muncul adalah hal terburuk seperti ketegangan, horor, dan situasi lain yang membikin suasana semakin sulit dikendalikan. Hal ini, bila tidak dikomunikasikan dengan baik, bisa menimbulkan persoalan lanjutan lebih serius yang bisa saja berujung di altar malapetaka keluarga.   

Bagaimana para suami-istri menghadapi berbagai persoalan keluarga yang kian lama kian ruwet dan kompleks dan bagaimana para suami-istri mengatasi perbedaan latar belakang mereka dalam menerapkan pola pengasuhan anak yang terbaik yang mereka inginkan diperoleh oleh anak-anak mereka, adalah sebagian dari deretan pertanyaan substansial yang disediakan tim yang bernama keluarga.

Tidak bisa dimungkiri,  setiap keluarga pasti pernah mengalami saat-saat paling sulit, pelik, dan bahkan mungkin, dramatik di tengah kesibukan yang susul-menyusul tak ada habisnya. 

Pertanyaannya kemudian berubah menjadi sederhana. Apa yang menjadi tempat para orangtua bersandar untuk melalui saat-saat sulit yang tengah menjepit mereka? Bila kesulitan itu terkait dengan anak-anak (entah karena narkoba atau lainnya), apa pula yang akan menjadi sumber kepercayaan mereka? Ketika dunia menawarkan berbagai bentuk materi yang menjanjikan kepuasan maksimal, seperti semua penawaran menggiurkan yang ditawarkan melalui layar kaca, apakah para orangtua juga mencoba menawarkan alternatif pada anak-anaknya?

Bila kita percaya bahwa seorang anak memasuki dunia dengan jiwa yang penuh cinta dan terbuka, sebagai orangtua tentu kita memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memupuk spiritualitas mereka. 

Keterkaitan dengan hal-hal yang bersifat spiritual memberi manfaat yang sangat besar pada anak-anak terutama saat anak-anak berjuang untuk menjadi manusia yang memiliki jiwa dan emosi yang sehat. 

Bila begitu halnya, salah satu tugas terpenting yang ada di pundak orangtua adalah menyiapkan anak-anak agar memiliki kematangan spiritual yang memadai. 

Penciptaan atmosfer keluarga yang penuh nuansa spiritual, dengan demikian, adalah tugas utama para orangtua.  

Nah, kalau saja tugas ini dapat ditunaikan secara tuntas, institusi keluarga, sesungguhnya, adalah sebuah permata yang bisa memancarkan cahaya: cahaya kedamaian, kebahagiaan, dan cinta kasih yang menentramkan. Bukankah tak jauh dari itu saja cita-cita manusia kebanyakan?***