Persib dan Kesejahteraan Ramadan

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

SUDAH beberapa musim terakhir, kompetisi sepak bola tanah air tetap bergulir selama bulan Ramadan. Padahal, pada musim-musim sebelumnya kompetisi resmi tanah air selalu diliburkan saat umat Islam melaksanakan ibadah puasa. 

Sesungguhnya begitu banyak hikmah ketika kompetisi tetap dihelat saat bulan Puasa. Efek terhadap tim yaitu tetap terjaganya kebugaran pemain dan mempertahankan aura kompetitif. Bergulirnya kompetisi saat Ramadan pun sejatinya menjaga berputarnya perekonomian yang justru sangat diharapkan banyak orang menjelang Hari Raya Idulfitri, saat keperluan hidup semakin banyak. 

Sebenarnya ada yang lebih penting dibanding roda ekonomi para football family (pemain, pelatih, wasit, dsb). Kita bicara perekonomian yang lebih riil dalam konteks makro yaitu perekomian masyarakat. Karena suatu pertandingan di kompetisi resmi secara tak langsung berkaitan juga dengan hidupnya sektor kuliner, transportasi, dan konfeksi. Tak hanya itu, juga usaha-usaha "liar" seperti percaloan tiket dan jasa parkir di stadion. Sudah dipastikan ada rupiah di sana, dan masyarakat memang mendambanya.

Sepak bola dan kesejahteraan umum

Salah satu tujuan terpenting dibentuknya suatu negara adalah untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyatnya. Republik Indonesia bahkan menegaskannya dalam konstitusi negara. Kesejahteraan umum adalah hal yang terus diupayakan secara terus menerus dalam konteks perkembangan zaman, parameternya pun menyangkut banyak aspek. Tentu yang paling utama adalah aspek ekonomi.

Dalam konteks welfare state, negara berkewajiban menjamin ketersediaan akses menuju kesejahteraan bagi warga negaranya. Upaya negara untuk mewujudkan kesejahteraan umum dilakukan mencakup berbagai bidang kehidupan dalam perspektif dan dimensi yang luas. Salah satunya adalah menjamin kegiatan-kegiatan yang merangsang geliat ekonomi masyarakat, termasuk terselenggaranya suatu pertandingan sepak bola profesional.

Tak dimungkiri, sebagai permainan paling populer di dunia, sepak bola telah menyentuh banyak aspek kehidupan. Eksistensi sepak bola menjadi lebih dari sekadar sebuah olah raga ketika melihat keterkaitannya dengan dunia industri. Tak hanya industri besar seperti penyiaran, otomotif, perbankan, penerbangan, dll, namun juga industri kecil seperti konfeksi, merchandise, dan kuliner rumahan menjadi geliat ekonomi yang terintegrasi dalam penyelenggaraan sepak bola itu sendiri.

Terhentinya kompetisi sepak bola walau hanya sebulan akan berdampak pada lingkaran football family juga rakyat Indonesia secara keseluruhan dalam dimensi yang luas. Utamanya terkait aktivitas ekonomi yang bermuara pada upaya memajukan kesejahteraan umum.  Oleh karena itu, negara wajib menciptakan "kondisi sepak bola". Dalam konteks ini, negara yang memberi izin dan memfasilitasi keinginan federasi untuk tetap menggelar kompetisi di teritori-yurisdiksi Indonesia adalah langkah yang tepat.

Rezeki Ramadan ala Persib 

Saat menonton pertandingan Persib menjamu Persiba Balikpapan beberapa waktu lalu, penulis sengaja pergi lebih awal karena ingin berbuka di GBLA. Namun, ternyata azan maghrib berkumandang sebelum penulis tiba di GBLA, tepatnya di jalanan sekitar Polda Jabar. Di sanalah tampak betapa mobilisasi bobotoh menuju stadion adalah berkah bagi warung-warung nasi di sekitar itu. Tenda-tenda kecil yang menjual mi instan dan gorengan pun ramai diserbu bobotoh. Hal itu takkan terjadi jika tak ada pertandingan.

Suasana stadion cukup semarak. Penulis berpapasan beberapa kolega yang menjalankan tugas sebagai match stewards, penjaga pintu, serta satuan aparat yang bersiap mengamankan jalannya laga. Tentunya malam itu merupakan berkah bagi mereka semua karena pertandingan Persib berimbas secara riil melalui honor yang akan mereka dapat usai pertandingan.

Sementara di luar sana banyak stand dan jongko yang menjual pernak-pernik Persib tampak riuh dipadati para bobotoh yang akan membeli atau sekadar melihat-lihat. Penulis pun melihat bus-bus kecil yang baru tiba dari luar kota. Bus-bus ini biasanya dibooking secara khusus oleh komunitas bobotoh. Suatu bukti bahwa pertandingan sepak bola berdampak pula pada sektor usaha transportasi.

Tribun stadion pun menampakkan beberapa sosok penjual makanan dan minuman yang sibuk mencari rezeki di malam Ramadan. Stadion dengan banyak penonton tentunya adalah berkah bagi para penjual itu. Memang, banyak jalan bagi Allah untuk menurunkan rezekinya, dan tentunya event sepak bola dengan massa hingga ribuan adalah cara yang menyenangkan bagi para pedagang.

Jangan lupakan juga wasit yang memimpin laga, hakim garis, serta perangkat pertandingan lain yang mendapatkan honor dalam setiap pertandingan. Tentunya mereka akan mengatakan bahwa kompetisi harus tetap ada walau sedang puasa. 

Tak hanya saat match day, namun "kondisi sepak bola" dalam bulan Ramadan mampu membuat penjualan online merchandise Persib tetap menggeliat. Begitu banyak label dan komunitas yang berbisnis di sektor ini dan memanfaatkan dunia maya sebagai media berniaga. Silakan cek dan telusuri, hampir selalu ada aktivitas bisnis terkait pernak-pernik Persib dan bobotoh yang berlangsung. Sektor ini kesemarakannya tetap terjaga dan tak menjadi lesu karena euforia kompetisi tengah hidup. Secara tak langsung, hal ini memberi kontribusi terhadap bisnis lainnya yaitu jasa pengantaran barang, karena pesanan para pembeli sudah dapat dipastikan akan diantar melalui paket.

Pendek kata, Persib dan sepak bola Indonesia pada umumnya memiliki dampak positif jika kompetisi tetap digelar di bulan Ramadan. Karena puasa bukan alasan untuk meniadakan "kondisi sepak bola" di negeri ini.***