Jauh ka Bedug

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

UNGKAPAN “jauh ka bedug” dalam bahasa Sunda tidak dapat diartikan secara harfiah. Namanya juga ungkapan alias idiom, tentu sukar diterjemahkan. Ia hanya dapat diadaptasikan atau dicarikan padanannya. 

Coba saja Anda terjemahkan ungkapan itu jadi, misalnya, “jauh dari beduk”. Hasilnya bukan saja lucu, melainkan juga kabur. Masyarakat yang bukan penutur bahasa Sunda mungkin bingung dibuatnya.

Biar tidak bingung, kita petik ungkapan jadul ini dalam versinya yang lebih lengkap seperti yang dicatat oleh K.A.H. Hidding dalam bukunya, Gebruiken en Godsdienst der Soendaneezen (1935). Bunyinya: “jauh ka bedug, carang ka dayeuh”. Kata dayeuh berarti kota. 

Lihat, dalam ungkapan ini, beduk dan kota disejajarkan. Rupanya, dulu perkusi dahsyat yang bernama beduk lazimnya terdapat di masjid agung, di lingkungan kaum, dekat pendopo. Dengan kata lain, pernah ada masanya beduk ikut menandai pusat kekuasaan sekaligus pusat keramaian. 

Kalau begitu, “jauh ka bedug” sepadan dengan kampung, dusun, atau udik. Itulah tempat-tempat yang dianggap jauh dari kota. Kamus Basa Sunda susunan R.A. Danadibrata (2009) menerangkan julukan “jelema jauh ka bedug” sebagai “dusun pisan, taya kanyaho, jelema jauh ka dayeuh”. Dengan kata lain, orang yang dikatakan “jauh ka bedug” adalah orang dusun atau orang yang dianggap tidak tahu apa-apa.  

Memang, terasa adanya keangkuhan kota. Keangkuhan sejenis juga tersirat di balik istilah “kampungan” dalam bahasa Indonesia. Wilayah yang disebut “kampung” atau “dusun” seakan-akan identik dengan sifat hina-dina. Boleh jadi, ungkapan “jauh ka bedug” pernah lazim dipakai buat menghardik kepandiran.

Itu di satu pihak. Di pihak lain, bukan tidak mungkin ungkapan yang sama dipakai sebagai eufemisme. Barangkali, dengan melihat dirinya sebagai “jelema jauh ka bedug”, orang bersikap rendah hati. Siapalah saya ini? Saya ini orang hina-dina, tak tahu apa-apa. Jangan Tuan berharap macam-macam. 

Baiklah, ungkapan itu niscaya bakal jadi kian arkhaik seiring dengan berlalunya waktu. Lagi pula, menurut dugaan saya, masjid-masjid yang mempertahankan beduk sekarang ini kiranya kian sedikit. Di Bandung, misalnya, salah satu masjid demikian adalah Masjid Cipaganti yang berdiri sejak 1934. Di situ seni menabuh perkusi masih ikut membentuk atmosfer ritual sehari-hari. 

Meski sekarang raja-raja kecil yang disebut bupati seakan naik daun lagi, wibawa pendopo kiranya sudah banyak berubah. Saya ragu, apakah pusat keramaian seperti Kota Bandung masih menganggap penting beduk. Malahan tata ruang di sekitar pendoponya pun terasa kian ajaib. Menara masjid jadi begitu tinggi, rumput dan beringin menghilang dari alun-alun.

Saya tidak sedang bersedih. Saya hanya sedang berspekulasi bahwa, kalau dipikir-pikir lagi, ungkapan “jauh ka bedug” sekarang ini justru lebih tepat dilekatkan pada orang kota. 

Setidaknya, begitulah menurut pandangan saya yang rabun, khususnya ketika belum lama ini saya berkangen-kangenan dengan tajug alias langgar dari masa kecil di kampung asal saya. Bukan main, masjid mungil di tepi kolam itu masih mempertahankan beduk meski badan perkusi itu bukan lagi kayu melainkan drum bekas.   

Hore, kampungku tidak lagi “jauh ka bedug”. Perkusi dari kulit sapi bukan melulu milik bupati. Semoga kegembiraan dulag bertalu-talu di sebanyak mungkin hati.***