Bahasa Kasih

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

KEHANGATAN, keakrabatan, dan persaudaraaan yang tulus terpancar dari wajah-wajah yang hadir pada buka puasa bersama yang digelar tiap hari oleh Ramadan Tent di Malet Street Gardens, London. Sebanyak 300 paket makanan berbuka disediakan bukan hanya untuk duafa dan anak jalanan, tetapi terbuka untuk siapa saja. Malam itu, hidangan menu Indonesia nasi rendang tersaji, di tengah hawa London yang mulai beranjak panas. 

Undangan untuk berbuka bersama disampaikan secara terbuka lewat berbagai web. Tak heran pengunjung datang dari berbagai kalangan, tua-muda, laki-perempuan larut dalam kegembiraan. Bahkan mereka yang non-Muslim pun turut bergabung. Mereka ikut menyantap makanan berbuka, meski tentu saja, mereka tidak berpuasa. Bahkan, di antara mereka ada yang turut membantu menyiapkan menata makanan. Sungguh sebuah pemandangan indah, di mana kebersamaan terbentang melintasi sekat agama, etnis, bahkan bangsa dan ras.

Dari mana mereka mendapatkan 300 paket makanan tiap hari? Ramadan Tent Project menerima donasi makanan. Mereka yang berminat menyumbang tinggal berkirim email ke info@ramadantentproject.com untuk menyebutkan jenis makanan yang akan disumbangkan, seberapa banyak, kapan makanan itu akan disediakan, dan tentu saja menyebutkan nama dan nomor kontak.

Ramadan Tent hanya satu dari puluhan komunitas yang menggelar kegiatan serupa. Panitia Ramadan KBRI London rutin menggelar pengajian dan buka puasa bersama setiap Sabtu sore. Demikian pula ibu-ibu yang tergabung dalam pengajian "Rabu" Indonesia Islamic Center secara sukarela mengorganisasi diri. Setiap orang berhimpun untuk menyediakan 300 paket buka puasa yang disediakan bagi siapa saja.

Persaudaraan lintas batas

Selain di masjid-masjid, bulan puasa digelar di taman dan ruang terbuka lainnya. Tiap senja di beberapa sudut kota London tersaji pemandangan unik. Warga yang membagikan makanan gratis berbaur dengan mereka yang tengah menikmati senja yang hangat di taman-taman kota. Sebuah kesukarelaan yang tulus. Mereka tampak mengenakan atribut yang berbeda, namun sama-sama mendendangkan lagu yang sama, lagu persaudaraan lintas batas.

Kesan positif terukir dalam benak pengunjung. Seorang pengunjung yang mengaku Dani Singer, menulis di dinding Facebook Ramadan Tent: "LGBT dan Anti Islamophobia sangat senang dan tersentuh karena merasa diterima untuk ikut iftar oleh Ramadan Tent Project. Terima kasih banyak atas semua yang kalian lakukan dan juga kebaikannya."
 
Komentar serupa dituliskan Alaa Khundakji: "Telah lama saya berniat datang dan akhirnya sangat senang berada di sini. Malam yang hebat untuk berbagi dan berbuka puasa dengan orang baru, dan pada saat yang sama mendapatkan penjelasan mendalam tentang topik baru dan berdiskusi. Semua orang bersahabat dan memberikan sambutan."

Komunitas Muslim London mengambil inisiatif luas dalam menghadirkan Islam sebagai agama yang penuh kasih dan menyuruh umatnya menebar kasih di bumi. Di tengah ketakutan yang sesekali muncul sebagai reaksi negatif atau tindakan teror yang dilakukan imigran Muslim, sejumlah warga berlomba menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya, sebagai rahmat bagi seluruh alam. Untuk mewujudkan doktrin ini, kemanfaatan kehadiran Islam harus dirasakan bukan saja oleh mereka yang mengimaninya, tetapi juga oleh mereka yang sekadar menyaksikannya.

Buka puasa bersama yang digelar secara terbuka oleh komunitas-komunitas Muslim London adalah bahasa cinta yang diungkapkan lewat tindakan beramal. Sambutan komunitas non-Muslim amat menggugah. Mereka bukan hanya tersentuh, tetapi juga merasakan terpaan hawa murni Islam sebagai agama cinta dan menyerukan umatnya menebar kasih sayang. 

Islam agama damai

Ayat-ayat yang menganjurkan berperilaku baik terhadap sesama bertebaran di berbagai surat dalam Alquran. Anjuran itu disertai dengan larangan bertindak sombong dan menebar kerusakan. Kemuliaan hidup seorang Muslim bersandar pada keimanan yang tulus dan tindakan yang terpuji terhadap segenap makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi. Dalam konteks ini, amat sulit menerima tindakan teror yang merenggut nyawa orang tak berdosa sebagai wujud keberislaman.

Rasulullah secara gamblang menyerukan pentingnya berbagi kasih tanpa pamrih dan tidak pandang bulu, "Mereka yang menyebarkan kasih sayang di bumi, akan dicintai oleh Allah yang Maha Rahman. Cintailah mereka yang ada di bumi, kamu akan dicintai Allah yang ada di langit."

Seseorang hanya dicintai Allah Swt karena mencintai makluk yang ada di bumi. Logika seperti ini berlaku untuk tindakan sebaliknya: Seseorang dibenci Tuhan karena menebar kebencian di bumi. Sederhananya, Tuhan akan mengucurkan kebaikan tanpa batas bila seseorang menebar kebaikan.

Sayangnya, masih ada satu atau dua orang yang terpancing provokasi. Isu imigran yang kerap bergulir sejak peristiwa Brexit dan menjadi mainan politik sering memancing tindakan emosional. Sayangnya, alih-alih memperbaiki keadaan, tindakan reaktif yang dimaksudkan sebagai bentuk protes tersebut malah menguatkan tuduhan buruk.

Kekerasan hanya menanamkan kebencian. Hati yang belum beriman tidak bisa ditundukan oleh tindakan kasar dan menakutkan. Hanya bahasa yang lembut dan penuh cinta yang bisa menerangi hati yang gelap. Di atas spirit berbagi kasih, Tuhan tidak mengizinkan tindakan tidak adil dilakukan, bahkan terhadap mereka yang dibenci sekalipun.***