Menabur Angin

islaminur's picture

Islaminur Pempasa

Anggota Dewan Redaksi HU Pikiran Rakyat

NAMANYA Jeremy Joseph Christian. Seorang pria Amerika Serikat berusia 35 tahun. Namanya sempat menjadi pusat perhatian karena kasus kriminal yang terjadi baru-baru ini di Portland, negara bagian Oregon, Amerika Serikat. Pada akhir Mei lalu, ia membunuh dua warga Amerika Serikat, Ricky John Best dan Taliesin Namkai-Meche, serta melukai Micah David-Cole Fletcher.

Kejadiannya berawal di dalam kereta, para penumpang, termasuk tiga korban itu melihat seorang pria memaki, mengumpat, dan menghina dua gadis belasan tahun, seorang berkulit hitam dan temannya yang mengenakan kerudung. Ketiganya berusaha menghentikan tindakan intoleran, namun malah diserang dengan pisau. 

Best dan Namkai-Meche tewas sementara Fletcher yang baru berusia 21 tahun masih sempat diselamatkan. ”Saya ingin semua orang di kereta tahu, saya mencintai mereka,” kata Namkai-Meche sebelum mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Polisi kemudian menangkap Jeremy. Jeremy, menurut polisi, terkait dengan kelompok supremasi kulit putih, dan memang mengincar dua gadis tersebut dengan motif ”religius dan rasialis”. Di sidang pengadilan, Jeremy tak menunjukkan tanda-tanda menyesal. ”Kalian bilang ini rasisme, bagi saya ini patriotisme,” teriaknya pada semua orang di persidangan.

Ini yang mengejutkan banyak orang saat itu, bagaimana seorang yang melakukan tindakan intoleran, merisak orang yang berbeda dengannya, dan membunuh sesama warga negara, kemudian mengatasnamakan patriotisme, membela negaranya.

Saya kemudian berusaha mengikuti beritanya dan menemukan bahwa ”supremasi putih” memang bukan sesuatu yang baru saja muncul. Sejarahnya terentang berabad dan populer antara lain dengan kelompok bertopeng dan berjubah putih Ku-Klux-Klan. 

Portland punya catatan yang cukup panjang tentang keberadaan kelompok yang pada dekade terakhir ini tiarap, terutama dalam kepemimpinan presiden Afro-Amerika, Barack Obama. Tetapi mereka tidak pernah mati. 

Heidi Beirich dari Pusat Kajian Hukum dan Kemiskinan Selatan Amerika Serikat, menunjuk retorika Donald J Trump ketika kampanye pemilihan presiden memberi energi bagi kebangkitan kelompok ini.

Dalam video analisis yang diunggah di Huffington Post, ditampilkan tiga cuplikan Donald Trump yang berpidato tanpa ragu. “Donald J Trump menyeru penutupan total dan komplet bagi muslim memasuki Amerika Serikat,” katanya disambung video kedua, ”Kita sudah mengalami hal buruk di sini dan kita akan mengusir mereka.” 

Video itu ditutup oleh  pidato lain, ”Mereka membawa obat-obatan, mereka membawa kejahatan, mereka pemerkosa.” Pidato gagah berani itu disambut dan memberi angin bagi kelompok yang selama ini tiarap. Donald Trump dipuji habis oleh kelompok supremasi putih. 

Di akun resmi Twitter presiden Amerika Serikat, sempat dicuitkan sekali ungkapan penyesalan atas kejadian tersebut dan doa bagi korban kejadian tragis di dalam kereta di Portland tersebut. Namun, angin yang ditabur oleh tokoh publik seperti itu memicu efek yang lebih besar di tingkat masyarakat. 

”Orang-orang jadi berani dengan omongan seperti itu,” kata Beirich. Apalagi di media sosial, ketika umpatan dikelola untuk membangun stigma terhadap lawan politik.

Jurnalis senior Nicholas Kristof agak lebih lembut dengan menulis bahwa kita tidak tahu apakah pembunuh di kereta Portland mendapat dorongan memaki gadis muslim akibat pidato Islamophobia dari Trump... Namun, ketika presiden memicu kebencian, peradaban menggeliat.

Menyoal stigma

Dalam kampanye, setiap tokoh selalu didampingi para penasihat yang memiliki pengetahuan luas mengenai demografi dan psikologi sosial masyarakat. Berbagai bentuk pesan dan slogan dibuat untuk menonjolkan tokohnya. Sampai tahap ini memang masih biasa. 

Akan tetapi, perkembangan (atau kemunduran) pengelolaan retorika kampanye terkini–melihat pola kampanye di Amerika Serikat dan di Indonesia dalam skala lebih kecil–sudah dengan melibatkan pembentukan stigma. Pola ini diyakini lebih meyakinkan perolehan suara karena mencapai struktur otak terdalam: ketakutan. 

Satu kubu membuat stigma untuk kandidat kubu lain dan para pendukungnya, dan di sini, di Indonesia, kini kita merasakan pula, stigmatisasi yang digunakan para kandidat. Kemudian berembuslah berbagai stigma, mulai dari rasis, anti-NKRI, anti-Pancasila, anti-kebhinekaan hingga makar dari masing-masing kubu. 

Stigma yang sebenarnya sebatas kepentingan retorika ketika berebut suara mengalami pengerasan di tingkat masyarakat. Bukan saja pihak yang ditempeli stigma yang menjadi korban. Masyarakat di kelompok pemberi stigma juga mengalami pengerasan dalam soal ketakutan akan mengerasnya kelompok lain. 

Keberagaman sudah ada sejak dulu, retorika stigmatif yang dipilih elite dan kekuasaan membuatnya menjadi badai dan geliat tidak begitu saja reda setelah kampanye usai.***