Perdamaian Viking-Jakmania

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

DUNIA persuporteran bola nasional mendadak riuh awal pekan lalu. Sebuah surat pendek yang ditulis oleh Fery Indrasjarief, Ketua Umum Jakmania -suporter Persija Jakarta- menjadi viral di media sosial. Isinya adalah tawaran untuk berdialog dan membuka peluang perdamaian antara Jakmania dan Viking -kelompok suporter Persib terbesar.

Merujuk langsung nama Viking dan tidak menyebut bobotoh secara umum, menunjukkan bahwa Bung Fery memahami konteks historis dan sosiologis perseteruan yang memang awalnya melibatkan Viking dan Jakmania saja. Barulah berkembang menjadi konflik antara Jakmania dengan bobotoh keseluruhan.

Menyebut langsung nama viking pun mempermudah maksud dan para pihak yang dimaksud oleh bung Ferry, karena secara organisasi memang hanya kelompok suporterlah yang memiliki figur dengan struktur khusus yang khas. Sementara bobotoh begitu luas, melebihi kelompok suporter tertentu.

Belajar dari pengalaman

Upaya perdamaian antara suporter Persija dan suporter Persib bukannya tidak pernah dilakukan. Islah dan deklarasi damai pernah terjadi pada 2014 lalu, meski hanya berumur sekitar 1 bulan. Deklarasi yang digelar April di Bogor dianggap tak berlaku setelah api kembali terpantik pada bulan Mei usai rombongan Jakmania yang hendak menuju Bandung guna menyaksikan laga Persib vs Persija dipukul mundur oleh aparat keamanan di area Tol Cikampek.

Walau argumen terkait keamanan dapat dibuktikan secara konteks situasional karena saat rombongan Jakmania ini menuju Bandung, ternyata di stadion pun masih ada ribuan bobotoh yang tidak bisa masuk karena begitu besarnya animo saat itu. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika situasi tak kondusif di stadion bertemu dengan belasan bus Jakmania yang tentunya akan berusaha juga untuk masuk ke stadion.

Usai dipukul mundur di Tol Cikampek, keadaan memanas. Saling hujat pun dimulai kembali. Apalagi ada pihak yang menudung pihak lain telah melanggar poin islah yang sebelumnya disepakati. 
Keadaan panas setelah salah satu pihak gagal mendukung pertandingan di kandang lawan sebenarnya mengingatkan penulis pada insiden pertama gesekan antara Jakmania dengan suporter Persib. Saat itu, sekitar tahun 2000, Jakmania yang datang ke Bandung gagal menyaksikan laga. Saat itu, jangankan suporter tim tamu, suporter tim tuan rumah sendiri banyak yang tidak bisa masuk karena tak tertampung di Stadion Siliwangi yang memang kapasitasnya tak seberapa.

Bisa ditebak apa yang terjadi saat ribuan bobotoh yang emosi karena tak bisa masuk stadion kemudian kedatangan tamu yang juga berharap bisa duduk di tribun. Alhasil, perlakuan tak menyenangkan harus diterima oleh Jakmania, itulah awal terjadinya gesekan antara kedua suporter. 

Penulis sendiri sempat melihat rombongan bus dari jakarta berduyun meninggalkan Siliwangi dengan sumpah serapah. Sementara di dalam stadion berlangsung laga yang panas dan tragis, Luciano Leandro, bintang Persija saat itu kepalanya bocor terkena lemparan, dan tim tuan rumah harus takluk di tangan tim tamu.

Jakmania tampaknya menganggap insiden di Siliwangi Bandung adalah tindakan pengusiran. Padahal, memang kondisi stadion dan animo bobotoh yang besar benar-benar tidak memungkinkan kehadiran suporter tamu saat itu. Bisa jadi, hal ini sulit diterima oleh Jakmania yang memang tak terbiasa dengan kondisi stadion yang benar-benar tak bisa lagi menampung penonton. Maklum, saat itu jumlah Jakmania mungkin belum sebanyak sekarang dan Stadion Lebak Bulus selalu menyisakan tempat kosong walau di laga besar sekalipun.

Belajar dari dua pengalaman ini pula maka banyak pihak menyarankan agar dialog terkait perdamaian dilakukan usai laga Persib-Persija di Bandung. Agar insiden serupa tak lagi terjadi.

Rivalitas tanpa nalar

Hari-hari usai gesekan peratama di Stadion Siliwangi menjadi hari-hari saling balas antara Jakmania dan Viking. Ya, saat itu rivalitas terbatas Jakmania dan Viking saja, karena bobotoh di luar Viking dianggap tak memiliki masalah dengan Jakmania. Bahkan, kelompok suporter Bobotoh Maung Bandung Bersatu (Bomber) pernah diterima dan bernyanyi mendukung Persib di Stadion Lebak Bulus saat perseteruan Jakmania-Viking masih menyala.

Tetapi, beberapa lama kemudian perseteruan melebar tak lagi Jakmania-Viking namun menjadi Jakmania-bobotoh. Yang saya ingat adalah ada satu masa di mana statement para petinggi kelompok suporter adalah sama seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu: "Selain Viking maka bobotoh diterima di Lebak Bulus."

Namun, entah pada tahun berapa persisnya, tiba-tiba suporter Persib non-Viking pun mendapat perlakuan tak menyenangkan saat datang ke Jakarta. Padahal, saat itu para bobotoh datang dengan atribut Persib tanpa sembunyi-sembunyi. Sejak itulah tak ada lagi perkecualian dan kekhususan dalam rivalitas suporter kedua tim. Dalam konteks umum, peta rivalitas berubah menjadi menjadi suporter Persib adalah musuh suporter Persija.

Hegemoni rivalitas kedua suporter rupanya menjalar ke mana-mana. Tak hanya di saat situasi match day, namun juga dalam keseharian. Mudah kita telusuri berita terkait bentrokan-bentrokan yang terjadi diluar lokasi dan waktu pertandingan. Selain bentrok fisik, aura permusuhan terus meletup setiap saat melalui media sosial, ucapan kebencian, caci-maki, dan hasutan terus menerus membuat permusuhan kedua pihak menjadi biasa dan seakan wajib dilestarikan. 

Tak cukup melibatkan mereka yang mengklaim dirinya suporter sepak bola, efek rivalitas ini merugikan pula masyarakat umum secara keseluruhan. Menebar mimpi buruk bahkan bagi mereka yang tak memahami sepak bola. 

Bisa dengan mudah kita akses berita-berita tentang perusakan, aksi sweeping dan tindakan pengecut lain yang menjadikan mobil dengan plat mobil tertentu sebagai target. Sungguh suatu kondisi yang sebenarnya sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa. 

Rivalitas tanpa nalar seakan menepikan akal sehat dan secara nyata mengganggu ketertiban sosial di masyarakat. Beberapa aksi suporter kedua tim memenuhi unsur tindak pidana alias kriminal murni bahkan mengakibatkan nyawa melayang. Apa yang harus dimaklumi dan dimengerti jika perseteruan telah merenggut korban jiwa?

Dalam konteks kekinian, keadaan tidak lebih baik, sekitar sebulan lalu seorang suporter Persija meregang nyawa karena bentrokan di Bekasi. Disusul peristiwa pengeroyokan terhadap suporter Persib yang sedang nonton bareng di Depok, pekan lalu. Lebih miris lagi, pengeroyokan terjadi disaat surat ajakan berdamai dari Bung Fery-Ketum Jakmania tengah viral dan menjadi buah bibir.

Urgensi perdamaian yang serius

Pengalaman memberi kita pelajaran bahwa upaya islah suporter sepak bola tak cukup dilakukan secara sporadis dan seremonial belaka. Karena senyum bareng dan jabat tangan para elite suporter yang diekspose media belum cukup mujarab meredakan gejolak ditingkat akar rumput.

Perlu ada sosialisasi internal terlebih dahulu. Semua perlu dipersiapkan dengan matang. Keterlibatan negara jelas diperlukan, negara diyakini berpengalaman dan mumpuni dalam meredakan konflik horizontal di masyarakat. Namun, perlu diingat bahwa konflik antarsuporter sungguh berbeda dengan konflik sosial pada umumnya yang secara teori dipicu oleh SARA, perebutan sumber daya, batas wilayah, dan politik. 

Dalam hal ini, negara cukup memantau tanpa perlu aktif secara berlebihan, karena figur yang didengar oleh para suporter adalah mereka yang diterima secara sosiologis karena "kesuporterannya". Untuk Jakmania, penulis rasa seorang Fery Indrasjarief merupakan sosok yang lengkap sebagai panutan suporter Persija Jakarta secara umum. Figurnya lekat secara historis dan penerimaan secara figur relatif sangat baik. Apalagi secara struktural ia pun diuntungkan karena kini menjabat sebagai Ketua Umum Jakmania.

Sementara suporter Persib perlu berunding dan melakukan konsolidasi lebih lanjut terkait figur-figur yang mampu merepresentasikan suporter Persib secara umum. Karena selain terdiri atas berbagai komunitas yang dipastikan akan berbeda persepsi, figur kharismatik seperti almarhum Ayi Beutik yang mampu diterima secara sosiologis oleh mayoritas bobotoh pun tak ada.

Namun, satu yang pasti, semangat perdamaian harus terus disuarakan dan diupayakan menuju langkah konkret. Anak-anak bangsa ini masih waras dan sepakat bahwa konflik antarsuporter memang sangat merugikan berbagai dimensi kehidupan, mengancam jiwa orang-orang tercinta, dan tak layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jika akan berdamai maka berdamailah dengan serius, dengan komitmen, dengan kesadaran, dan dengan persiapan matang. Karena niat baik tanpa persiapan yang baik bisa jadi tak akan berakhir baik.

Andaikata islah kedua nanti ternyata mudah dilanggar oleh para pihak dan kembali berlanjut dengan permusuhan. Maka islah-islah berikutnya akan dianggap sebagai hal yang tidak serius dan tak akan ditanggapi dengan itikad baik oleh suporter generasi berikutnya.

Selamat berdamai (dengan serius) Viking dan Jakmania!***