Mencatat Ingatan

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

KETIKA mencatat peristiwa yang terjadi dalam lintasan perjalanan hidup, bisa jadi seseorang tidak mempunyai pretensi bahwa catatannya akan berarti. Namun, ketika waktu berlalu, catatan itu akan mempunyai nilainya sendiri, misalnya tentang pengalaman penduduk setempat yang menyaksikan letusan gunung api. 

Saat ini, kita merasa beruntung karena ada catatan dari orang yang menyaksikan, mengalami secara langsung peristiwa alam mahadahsyat. Misalnya, catatan pengalaman getir Muhammad Saleh tentang peristiwa letusan Gunung Krakatau, yang ditulisnya pada 4 Zulhijjah 1300 H atau 6 Oktober 1883, satu bulan lebih setelah terjadinya letusan dahsyat.


Datang gelombang besar sekali
Bertaburlah umat ke sana-sini
Ada yang hilang anak istri
Ada yang sampai ajal pun mati.

Demikianlah lagi orang yang pergi
Menanamkan mayat sehari-hari
Jikalau malam duduk berhenti
Matahari ke luar lalu mencari.

Dari Pulau Lombok, ada catatan tentang dahsyatnya letusan Gunung Rinjani dan Gunung Samalas, seperti yang dikisahkan dalam babad Lombok:


Gunung Rinjani dan Gunung Samalas runtuh, 
banjir batu gemuruh, 
menghancurkan Desa Pamatan, 
rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, 
terapung-apung di lautan, 
penduduknya banyak yang mati.

Itulah dua contoh catatan warga setelah merasakan peristiwa alam, yang mempunyai nilai informasi yang sangat berarti. Namun, bisa juga seseorang itu menuliskan kembali peristiwa yang sudah terjadi pada masa lalu, seperti banyak buku memoar warga Belanda yang pernah lama tinggal di Indonesia pada awal abad ke-19.

Seseorang dapat menulis tentang peristiwa yang dirasakannya, dipikirkan, dilihat, dan didengarnya. Pembaca catatan itu dapat membandingkan keadaan tempat pada masa lalu dengan keadaan pada masa kini. Demikian juga kebiasaan dalam setiap peristiwa, kemungkinan ada yang sudah berubah, bahkan mungkin ada yang sudah ditinggalkan, atau melanjutkan tradisi masa lalu dengan pengembangan yang lebih baik. Seperti tentang makanan, karena di dalam makanan itu terekam begitu banyak kenangan lezatnya masakan ibu. 

Bila pencatat berasal dari keluarga petani sawah, akan diketahui bagaimana perjalanan panjang sepiring nasi sampai di meja makan. Mulai dari membenihkan butir padi di petak kecil sawah, ketika sawah dicangkul, diratakan dan siap untuk ditanami bibit padi, menangkap belut, menyiangi padi, menjaga padi dari serangan burung dan hama lainnya. Memotong padi, mengangkutnya ke rumah, menjemur, menyimpan, menumbuk padi, memasak nasi di tungku, tentang makan. Tentang teman bermain bola, main lumpur di sawah yang baru dicangkul, teman berenang di laut dan di sungai, teman menjelajah perbukitan untuk mencari kayu bakar dan jambu batu.

Ada kenangan bersama teman sekolah, ada keramaian saat pesta kenaikan kelas, ketika di depan sekolah banyak sekali jajanan. Ada kelas paling ujung yang dijadikan panggung, di sana kesenian anak-anak dipentaskan. Di panggung itu pula bapak penilik bercerita, tentang legenda yang menarik. Semuanya itu menyimpan kenangan, dan semuanya mempunyai kisahnya sendiri.

Hal lain, misalnya di sekitar alun alun ada kantor pos, rumah sakit, kantor wedana, masjid, kantor telefon, kantor polisi, pasar, rumah makan, yang di setiap sudutnya menyimpan kenangan. Ada tiga pohon asam besar di pinggir alun-alun, yang pada saat berbuah, setiap dahannya dipenuhi anak-anak yang memetik buah asam. 

Bagaimana kenangan saat mandi di sungai, mengalun sampai jauh, lalu berloncatan dari tebing curam sambil melepaskan dedak dari genggaman, meniru para penerjun bebas yang sedang berlatih. 

Permainan-permainan itu ada yang memakai perkakas. Banyak perkakas mainan yang dibuat sendiri. Bagaimana anak-anak membuat pisau-pisauan dari paku besar yang dipalu sampai tipis, lalu diasah tajam. Anak-anak membuat panah dari jari-jari sepeda yang dipalu sampai tajam, lalu diikatkan pada bambu yang sudah dibentuk, untuk memanah ikan di sawah atau di sungai. 

Kenangan peradaban

Semua kenangan itu sesungguhnya merupakan kisah tentang peradaban manusia. Dalam semua peristiwanya menggunakan bahasa, alat, dan ada adat kebiasaan. Dalam bertani, misalnya, dalam tata cara memasak, alat-alat masak, kebiasaan saat makan, tentang berburu binatang, dan menjaring ikan. Bagaimana tatacara penggunaan perkakasnya, cara pemeliharaannya, dan cara pembuatannya. Dari satu peristiwa makan, misalnya, bila dicatat mulai dari mencuci beras, menanak, sampai tersaji di tempat nasi, banyak sekali alat-alat yang digunakan, yang di dalamnya terdapat petunjuk, cara-cara penggunaanya, agar apa yang dimasak itu menghasilkan masakan yang baik dan enak. 

Ingatan yang terekam itu dapat menjadi saksi perubahan yang terjadi di suatu kawasan, misalnya perubahan fisik lingkungan, yang semula sungai besar, karena lingkungan alami di hulu sungainya menjadi rusak, sungai besar itu kini lebih mirip comberan. 

Mereka yang tinggal di perkotaan pun dapat mencatat kisahnya tentang hidup di suatu kota, dan itu akan menjadi penting karena begitu banyak perubahan yang terjadi. Demikian juga tentang sosial kemasyarakatan, tradisi, dan kebiasaan, mode pakaian, gaya berdandan, gaya menampilkan diri, semuanya pastilah berbeda.

Keadaan yang terekam itu merupakan jejak seseorang dalam perjalanan hidupnya. Ada nilai tradisi yang sudah hilang dan ada tradisi yang dipertahankan dan diteruskan. Hal ini dapat menjadi pembelajaran, mengapa dan bagaimana suatu tradisi dapat berkembang karena didukung dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai waktu.

Untuk mencatat ingatan itu mengapa harus menunggu seseorang menjadi tua? Mengapa tidak ditulis dari lapangan pada saat peristiwa itu terjadi? Kini, semua orang dapat menjadi reporter, menjadi jurnalis yang mencatat semua peristiwa yang terjadi di seputar diri dan lingkungannya, dan pada saat itu pula dapat dilaporkan dalam media sosial.

Kenangan dalam ingatan itu adalah bara semangat yang terjaga, yang dapat dikembangkan untuk meneguhkan identitas, integritas, rasa hormat dalam memuliakan hidup bertetangga, berbangsa, dan bernegara.***