Sempur

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

DI Jawa Barat, banyak yang menyebut pohon yang mengersik, pohon yang membatu, atau fosil pohon itu batu sempur. Padahal, dapat dipastikan, pohon yang membatu itu tidak selalu harus berasal dari pohon sempur, namun dapat dari pohon apa saja asal memenuhi syarat terjadinya pengersikan. Entah bagaimana asal-mulanya, semua pohon yang membatu disebut batu sempur.

Di alam, proses pengersikan ini terjadi karena adanya penggantian material asli kayu dan masuknya mineral-mineral, seperti: silika, kalsit, pirit, siderite, atau apatit ke pori-pori kayu. Kayu-kayu yang terkubur tanah yang digenang air, seperti rawa, sungai, menyebabkan oksigennya semakin berkurang, dan itu salah satu syarat untuk terbentuknya fosil kayu. Karena terawetkan selama puluhan ribu tahun, maka banyak sekali pohon yang membatu secara utuh, seperti pernah banyak ditemukan di Sajira, Banten. Kini, harta karun berupa kayu masa lalu itu sudah berpindah ke berbagai negara.

Pak (Miko) Sujatmiko, pernah mengusulkan kepada Pemerintah di Provinsi Banten untuk melindungi fosil pohon kayu utuh yang panjangnya lebih dari 30 meter, dengan umur sekitar 50.000 tahun, menjadi museum hutan purba. Namun, bukannya museum itu terwujud, fosil kayu yang sangat istimewa dan langka itu kini sudah entah dikirim ke mana. Bila batang-batang pohon kayu purba yang utuh itu berada di tempatnya, di Banten, dengan penataan yang baik dan bagus, dapat menjadi taman atau museum hutan purba.

Keuntungannya bukan hanya uang, namun wujud fisik dari pohon purba itu tetap ada, tidak berpindah ke Negara asing, dan dapat menjadi pusat pembelajaran dan penelitian tentang pohon purba yang sudah membatu. Rupanya menjual wujud fosil pohon itu secara gelondongan, dapat secara langsung mendapatkan uang tunai, namun harta karun itu langsung menghilang, lenyap dari bumi pertiwi, sehingga anak bangsanya sendiri tidak bisa belajar dari dan tentang lingkungan hutan purbanya.

Pada tahun 1970-1980-an, batu sempur pernah naik daun. Pecahan-pecahan tipis batu sempur sekitar 10x15 cm, banyak dijadikan pelapis dinding depan rumah. Di beberapa negara, batu sempur yang utuh banyak dijadikan tiang-tiang rumah bergaya alami. Batu sempur yang berkualitas batu mulia, dapat menjadi hiasan dan beragam aksesori. Ketika batu akik meledak penggemarnya, batu akik dari batu sempur hitam, menunjukkan kelasnya, sehingga harganya pada saat itu terus melesat.

Pohon sempur

Tentang nama pohon sempur yang menjadi nama geografi, ini menyiratkan, bahwa pohon sempur pernah tumbuh dan menyebar dengan baik di Jawa Barat. Seperti di kawasan yang saat ini abadi dalam nama daerah, misalnya ada Bojongsempur di Cicalengka, Kabupaten Bandung dan di Sempur di Kota Bogor. 

Pohon sempur banyak juga terdapat di tempat lain. Di Belitong, seperti halnya ketika makan nasi jamblang di Cirebon, Jawa Barat, yang alas/pirinya dari daun jati, di Belitong menggunakan daun sempur. Menurut Heyne, daun sempur yang diremas dapat menyejukkan, dan menjadi obat luar untuk demam dan sakit kepala. Bukan hanya itu, di Belitong, bentuk daun sempur ini dijadikan motif batik.

Pohon sempur diuraikan oleh K. Heyne (1927), tingginya mencapai 27 meter, besar batangnya antara 50-60 cm., tumbuh subur pada ketinggian 500 mdpl. Kayunya sangat keras namun tidak begitu awet, sehingga jarang digunakan. Namun, bukan berarti tidak dapat digunakan untuk bahan bangunan. Sebab, di beberapa tempat ada yang menggunakannya, terutama untuk bahan jembatan.

Heyne melaporkan, pemanfaatan buah sempur oleh penduduk pada tahun 1920-an, digunakan untuk keramas dan anti ketombe, serta kebotakan. Saya mencoba membuka buahnya, dan mencoba mencicipinya, rasanya masam. Pantas bila masyarakat menggunakannya sebagai pembersih rambut dan anti ketombe. Ini merupakan tantangan bagi para ahli untuk melihat kandungan buahnya untuk pemanfaatan lain. Misalnya jago kuliner di Tatar Sunda untuk memberikan cairan masam buah sempur ini pada ikan, misalnya, agar hilang bau anyirnya, karena cairan masam dalam buah ini sangat banyak jumlahnya. Perlu uji coba dan dilihat hasilnya.

Di manakah kita dapat menemukan pohon sempur dengan mudah? Bagi warga Bogor, di sisi timur Kebun Raya Bogor, di luar pagarnya, dengan meloncati parit, di sana terdapat pohon sempur. Demikian juga di halaman kantor Puslitbang Kehutanan, Bogor. Kalau di Bandung, pohon sempur dapat ditemukan di Kompleks Perumahan Taman Kopo Indah 2, Kabupaten Bandung. Di sana ada beberapa pohon sempur yang sengaja ditanam oleh pengembangnya sebagai peneduh jalan. Namun sayang, kini pohon itu banyak ditebangi.

Bagi warga Bojongsempur di Cicalengka, warga Sempur di Bogor, yang belum pernah mengetahui dan melihat pohonnya, jalan-jalanlah ke sana. Pohon sempur sangat khas, karena bunganya putih, indah sekali, terlihat menonjol di antara daunya yang hijau dan lebar.***