"London Roses"

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

MENDENGAR kata London memori orang akan segera terhubung dengan Menara Jam Big Ben, London Bridge, Istana Buckingham, Durham Cathedral, atau Warwick Castle. Deretan ikon kota yang memadukan ketangguhan struktur bangunan dan keindahan arsitektur sekaligus. 

Sementara penggemar kuliner mungkin akan mengasosiasikan London dengan yorkshire puding (puding khas yang lazim disajikan pada acara Sunday Lunch), muffin (kue bundar tipis, yang berbahan dasar adonan roti yang beragi, yang pas disantap sambil minum teh panas atau kopi), atau fish and chips (ikan yang diserbuki tepung roti yang disantap bersama kentang goreng yang diiris panjang).

Bagi mereka yang mencintai sejarah, London amat memanjakan. Di kota ini tersimpan ribuan sumber pengetahuan langka yang dikelola dengan baik di beberapa museum. Deretan perguruan tinggi ternama menambah wibawa kota ini, sekaligus mengukuhkan pendidikan sebagai salah satu pusat bisnis dan identitas kota London. Dua hal terakhir, menjadi daya pikat bagi ribuan mahasiswa untuk menuntut ilmu di kota ini.

Namun, beberapa ikon tadi belum merangkum keindahan dan kebaikan London. Bagi mereka yang menyukai bunga pasti matanya tertambat pada bunga mawar (rose) dengan mahkota yang tebal dan besar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan bunga ros yang mudah ditemukan di tanah air. Bukan hanya rupanya yang warna-warni (putih, kuning, krem, atau merah), London roses, begitu bunga ini biasa disebut, dikenal dapat bertahan cukup lama.

Di taman-taman, halaman gedung perkantoran, atau bahkan di halaman rumah warga, bunga ini biasa ditanam. Meski umumnya warga London tidak memiliki taman di depan rumahnya, namun gerombolan bunga mawar mudah ditemukan di depan rumah warga. Bunga ros pun masih bisa ditemukan di lawn (lapangan rumput) di belakang rumah, yang menjadi panggung belakang (back stage), tempat mereka bersantai bersama anggota keluarga.

Bagi sebagian warga London, bunga ros bukan sekadar identitas kota, namun juga ideologi. Sebuah ideologi yang bukan hanya terkait sejarah Keluarga Kerajaan Lancaster (bunga ros atau mawar merah) dan Keluarga Kerajaan York untuk mawar berwarna putih, tetapi juga tentang doktrin hidup bersama dalam komunitas yang majemuk.

Kesan seperti itu, saya dengar dari beberapa orang yang berada di Regent Park, di pusat kota London. Saya berkunjung ke taman itu, Senin 5 Juni 2017, sesaat sebelum salat zuhur berjemaah di Central Mosque, yang terletak dalam satu hamparan dengan Regent Park.

Seorang kakek yang sudah tinggal di London sejak 50 tahun lalu, mengaku sering mampir ke taman itu. Sebelum atau selepas salat berjemaah di Central Mosque. Saya tanya apa alasan dia begitu suka dengan taman itu. Dia bilang taman ini amat indah. Keasriannya memberi ketenangan. Keindahan taman telah menjadi magnet bagi ribuan pengunjung untuk datang ke tempat itu. Taman ini menjadi medium pemersatu orang-orang dengan berbagai latar belakang.

Lebih dari itu, bagi seorang Muslim seperti dia, taman ini merupakan tempat bertafakur tentang bagaimana seharusnya sesama manusia hidup di "kebun" dunia ini. Dia menunjuk pohon bunga ros yang tumbuh bergerombol dengan kelopak mahkota yang lebat, tebal, dan sedang mekar-mekarnya. Warna-warni bunga membentuk gradasi rupa yang indah. "Perbedaan warna menyempurnakan keindahan taman, begitulah semestinya kita hidup," dia melontarkan kata itu dengan penuh ekspresi.

Tak lama kemudian, senyum hilang dari bibirnya. Raut wajahnya menjadi serius. Lalu dia berkata dengan nada tinggi, "Saya marah dan tak habis pikir, dengan kejadian kemarin (maksudnya serangan mematikan di London Bridge. Lebih sulit dipahami, bila tindakan itu dihubung-hubungkan sebagai bentuk perjuangan mebela agama," begitu kata kakek keturunan Timur Tengah yang sudah menjadi permanent resident di kota ini. "Saya marah dan mengutuk kejadian itu." Dia mengulangi pernyatannya, sebelum beranjak ke halaman masjid.

Bukan hanya si kakek yang mengutuk kejadian itu. Banyak warga melampiaskan kemarahan, dan mengungkapkan rasa simpati kepada keluarga korban. Umumnya warga mengapresiasi keterbukaan London terhadap siapa pun, dan telah menjadi tempat penting bagi sebagian warga untuk meraih mimpinya. Namun, amat disayangkan, ada sebagian orang yang lupa berterima kasih, sehingga hidup menebar ketakutan.

Saya terkejut mendengar serangan yang mematikan itu, justru karena dalam beberapa hari terakhir saya tinggal di kota ini, menyaksikan toleransi dengan kadar yang sangat tinggi. Semua agama hidup, dan pemeluknya bebas beribadah, selama tidak mengganggu yang lain.

Kita merasakan perihnya keluarga korban. Kita pun merasakan kegeraman amarah warga London. Dan, mungkin mawar-mawar di Regent Park pun kecewa melihat dunia yang penuh dusta, yang menukar cinta dengan bencana.***