Kampus Sebagai Taman Hutan Kecil

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

KEINGINAN untuk hidup nyaman, untuk menghirup udara segar, tidak terbakar matahari, tidak terkena bencana, dapat menikmati keindahan, pastilah masih ada dalam hati warga Cekungan Bandung.

Namun dalam gerak pembangunan itu, justru pepohonan yang selalu menjadi korban, atau pohon tidak menjadi bagian utuh dari perencanaan. Kenyataan ini terus berlangsung, dan mendapatkan pengesahan oleh yang seharusnya mengatur, memberikan penerangan, mengontrol, dan menindak segala penyimpangan yang dapat menyengsarakan warga Cekungan Bandung, khususnya, dan masyarakat dunia umumnya.

Bila semua unsur yang terlibat dalam pembangunan ini menyadari bahwa kita hidup di daerah tropis yang panas, maka para perencana kota, para perancang bangunan, dan perancang lanskap pastilah dalam desainnya itu akan memperhitungkan karakteristik alam tropis engan ciri utama penutupan alaminya, maka pembangunan berbagai fasilitas itu tak akan seperti saat ini. 

Bangunan-bangunan megah berdiri di mana-mana, dan kehadirannya bukan membawa kenyamanan baru, suasana teduh yang baru, malah membawa akibat buruk dari segala yang ditimbulkannya. Udara menjadi panas, kemacetan, konsentrasi asap kendaraan yang tinggi. Sedihnya, masyarakat Cekungan Bandung dibiarkan kepanasan, mengisap debu, mengisap timbal, meminum air kotor, macet, kebanjiran, tertimbun longsor, dan kekurangan air baku.

Para perancang perkotaan, para perancang gedung, para perancang lanskap, harus menyadari bahwa kita hidup di daerah tropis, yang halaman bangunannya tidak cukup hanya ditanami pohon palem, atau perdu. Cekungan Bandung adalah kawasan tropika basah, hutan adalah ciri utamanya, sehingga taman-taman kota, taman di kampus-kampus, taman di mall-mall itu merupakan taman hutan kecil.

Membuat bangunan, tidak usahlah bangunan itu harus seluruhnya terlihat dari jalan raya. Kampus seharusnya benar-benar menjadi taman hutan kecil dengan berbagai pohon khas daerah yang pernah tumbuh dan menjadi nama geografi di Cekungan Bandung, seperti: bihbul, kapundung, ganitri, burahol, namnam, biru, gandaria, huni, dan lain-lain, sekaligus menjadi upaya memuliakan pohon atau tanaman yang pernah tumbuh subur di Cekungan Bandung.

Konsep halaman kampus, halaman perkantoran sebagai taman hutan kecil harus kuat melekat di hati semia komponen warga Cekungan Bandung. Dan cara yang paling efektif adalah memberikan contoh, bahwa halaman yang dinaungi dengan pohon besar itu bukan menjadi halangan. Dimulai dari tanah-tanah kosong di halaman perkantoran Pemerintahan, baik Pemda Jawa Barat atau Pemkab dan Pemkot Bandung, Pemkot Cimahi, sampai tingkat paling bawah, halaman kantor Camat dan kantor Kelurahan/Desa, menjadi halaman yang rimbun.

Menjadikan halaman kantor Pemerintahan dan kampus sebagai taman hutan kecil merupakan ujian komitmen pemimpin dan warga Cekungan Bandung dalam gerakan menanam dan mencintai pohon. Bila di halaman perkantoran sudah berjalan baik, tentu gerakan akan merambat ke luar, ke kawasan permukiman dan industri.

Menanam Pohon Sebagai Syarat

Bila seorang pemimpin sudah merasakan nikmatnya banyak pohon di sekitarnya, bila orang-orang pintar di kampus-kampus merasa nyaman dengan banyaknya pohon di sekelilingnya, tentu kita berharap akan ada percepatan gerakan menanam pohon di seluruh Cekungan Bandung.

Di halaman sekolah dan di kampus-kampus yang masih dibakar matahari, bila saja pimpinannya ada sedikit keinginan untuk menyisihkan uang dari dana rutin sebesar Rp50.000,00 saja setiap bulannya untuk membeli bibit pohon, maka selama setahun akan ditanam 12 pohon di halaman kampus tersebut. Bila masa jabatannya 4 tahun, maka akan ada 48 pohon yang tumbuh di halaman sekolah atau kampus tersebut.

Bila para pimpinan di sekolah atau di Perguruan Tinggi mempunyai apresiasi pada kerindangan pohon, maka gerak langkahnya akan mengutamakan menanam pohon. Bila seorang pimpinan benar-benar tidak mampu menyusihkan uang sebesar Rp50.000,00 setiap bulannya, maka jalan ini dapat ditempuh. Pada masa penerimaan mahasiswa baru, dapat menjadi momentum yang sangat baik menjadi acara penghijauan. Para mahasiswa baru diwajibkan membawa satu bibit pohon dengan jenis pohon yang sudah ditentukan, maka PTN yang menerima mahasiswa baru lebih dari 5.000 mahasiswa tahun, dapat menanam pohon sebanyak 5.000 pohon.

Panitia pengenalankampus harus mencoba mengaudit, berapa kebutuhan yang harus dikeluarkan para siswa atau mahasiswa untuk membeli kebutuhan-kebutuhan yang tidak selamanya bermanfaat, bahkan cenderung mubah, dan tidak membawa dampak apa-apa kecuali sekedar ngerjain siswa atau mahasiswa baru. Bila hal-hal yang mubah itu digeser, dialihkan menjadi bibit pohon, makan manfaatnya akan terasa oleh masyarakat secara nyata. Dan bila kampusnya sudah rimbuh menjadi taman hutan kecil, maka gerakan penghijauan dapat diarahkan ke kawasan di luar kampus.

Repotnya, justru ada pimpinan yang tidak merasakan pentingnya pohon, karena mereka menaiki kendaraan dengan biaya negara yang dingin ber-ac, parkir tidak jauh dari pintu ruangannya, di ruangan kerjanya ber-ac. Hidup nyaman diurus dengan fasilitas negara, air jernih selalu mengalir dan tak pernah kena banjir. Dunia telah menggelapkan matahatinya, sehingga seolah-olah tak merasakan betapa pentingnya pepohonan. 

Otoritas Negara itu selain berfungsi sebagai contoh, juga dapat membuat persyaratan yang mengikat, sehingga para pemilik dan pengembang mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan. 

Bila pimpinan di manapun mempunyai keinginan politik yang berhatinurani, maka ia dapat dengan mudah untuk menghijaukan suatu kawasan. Warga Cekungan Bandung adalah utusan Tuhan di muka bumi yang mempunyai kewajiban untuk menanam biji-bijian walau kiamat akan datang besok. Tak ada perintah Tuhan, tebanglah pohon karena akan kiamat besok! Tak pernah ada!*