Balai-balai Ramadan

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

BERKAT bantuan Mang Tata, sahabat saya, akhirnya saya dapatkan juga balai-balai. Ini barang bekas sekaligus barang baru. Bahannya, kayu jati, bekas perabotan rumah yang berakhir di lapak pedagang loak. Bahan inilah yang dijadikan tempat duduk dengan model perabotan rumah tempo dulu.

Panjangnya sekitar dua meter, lebarnya sekitar setengah meter, sedang tingginya cuma sejengkal. Tanpa polesan apapun, benda ini tampak buruk. Namun, waktu kami angkat, terasa cukup kuat. Kata Mang Tata, kayu yang amat keras ini cukup ampuh buat menyebabkan kawanan rayap sakit gigi. 

Kabar buruk buat bangsa rayap sudah pasti kabar baik buat bangsa manusia. Fungsinya banyak juga. Di situ saya duduk-duduk sambil membaca hasil kontemplasi filosofis Seyyed Hossein Nasr atau memelototi program "Nat Geo Wild". Di situ saya memasang laptop buat menenangkan redaktur "Pikiran Rakyat". Di situ pula saya melupakan kekonyolan urusan dunia dengan tertidur pulas sehabis subuh.

Sudah lama saya memimpikan benda ini hadir di rumah kami. Sekarang, pada hari-hari permulaan Ramadan, impian kecil jadi kenyataan. Alhamdulillah. Tambah lengkaplah perkakas yang kami perlukan buat memelihara kesanggupan berkumpul dan bercengkerama dengan sesama anggota keluarga. 

Kata Ustaz Agus, tetangga saya, Ramadan adalah kesempatan emas buat memelihara riungan keluarga, pada saat berbuka dan pada saat sahur. Pada kedua kesempatan itulah, setidaknya, kita punya waktu barang beberapa puluh menit saban hari untuk memelihara tatap muka dan percakapan langsung di lingkungan intim. 

Kalau saya tak salah duga, Pak Ustaz niscaya terinspirasi oleh doa Kanjeng Nabi Zakaria dan Kanjeng Nabi Ibrahim. Doa mereka, pada hemat saya, menyiratkan kegelisahan perihal kelangsungan tradisi, keniscayaan alih generasi, dan harapan akan hari depan umat manusia. 

Kalau saja saya tidak ingat kepatutan, pasti saya sudah bilang "akur" keras sekali waktu Pak Ustaz memberikan saran kepada jamaah tarawih agar mengajak anggota keluarga untuk sesekali melupakan gadget alias gawai. Sesekali, pada saat buka puasa dan sahur, kita bisa berhenti sejenak dari kebiasaan jadi "pegawai" alias pemegang gadget.

Tatap muka dan percakapan langsung dengan orang-orang tercinta, di lingkungan rumah tangga, sungguh tak tergantikan. Layar sentuh toh tidak dapat menggantikan keintiman sentuhan itu sendiri. Terhubung dengan teman-teman jauh toh tidak harus berarti terjauh dari orang-orang dekat. 

Berkumpul dan meneguhkan kehadiran

Dari surat kabar pada permulaan Ramadan, saya membaca cerita tentang seorang ibu di Bandung yang jatuh pingsan begitu polisi memberi tahu bahwa anak sang ibu diduga terlibat dalam teror bom bunuh diri. Sebagai seorang ayah, saya tidak sanggup membayangkan akhir dari kebersamaan keluarga yang begitu mengerikan. Sebagai orangtua, saya juga tidak ingin anak-anak saya, kini dan kelak, hidup dalam sebuah dunia yang dikacaukan dengan tindakan bunuh-bunuhan.

Boleh dong saya sedikit lebay dengan mengatakan bahwa balai-balai yang buruk tapi kuat ini jadi tambatan tersendiri bagi harapan dan ikhtiar untuk memelihara kebersamaan. Kebersamaan di terminal bus, di pusat kota, di pelosok kampung, di penjuru dunia, saya kira, dapat diikhtiarkan dari ruang tengah rumah kita, tempat anggota keluarga kita berkumpul dari hari ke hari. Di situ kita saling meneguhkan kehadiran masing-masing, saling mendorong pertumbuhan masing-masing. Di situ kita berupaya memelihara keyakinan bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. 

Pagi hari, sebelum menulis kolom ini, saya bertemu dengan Angga, kolega saya. Saya tahu, dia sedang putar otak mengatur anggaran buat kegiatan yang digemari oleh Muslim Indonesia, yakni "bukber" alias buka puasa bersama. Saya katakan padanya bahwa saya lagi senang mencoret sejumlah undangan bukber. Pasalnya, saya lebih suka berbuka puasa bersama anggota keluarga saya. 

"Gimana kalau kita ngadain bukbernya dengan mengajak anggota keluarga masing-masing?" ujar Angga.

"Nah, itu dia, acara yang keren," timpal saya.

Saya tinggalkan Angga yang terus berhitung dengan kertas dan pulpen di meja kerjanya. Menjelang Asar saya tiba kembali di rumah kami yang perabotannya ketinggalan zaman. Begitu melihat balai-balai di ruang tengah, hati saya sungguh bungah. Betapa nyaman bermalas-malasan di balai-balai Ramadan.***