Rasa Memiliki Persib

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

TUDINGAN bahwa pemain Persib bermasalah dengan sense of belonging alias rasa memiliki kembali menyeruak usai kegagalan menekuk PBFC di GBLA pekan lalu. Para bobotoh mulai memetakan loyalitas dan totalitas skuat Djadjang Nurdjaman musim ini. Persoalan “bermain dengan hati” rutin menjadi pembicaraan di kalangan bobotoh setiap musimnya. Mulai ketika Persib diisi pemain-pemain luar binaan Kota Bandung usai menjuarai Ligina I 1995 dan mulai mereda usai Persib kembali menjadi kampiun pada 2014 lalu. Inilah Persib, kultur kental berbalut kebanggaan yang selalu menuntut titik puncak, terlebih ekspektasi yang selalu tinggi dan menganggap para pemain adalah orang-orang terpilih yang wajib memberi seluruh kemampuan untuk kejayaan Persib.

Ekspektasi Bobotoh

Bertengger di posisi 2 klasemen rupanya bukan keadaan yang nyaman untuk tim sekelas Persib musim ini. Status sebagai satu-satunya tim yang belum terkalahkan pun tak menjamin bobotoh berhenti melontarkan kritik. Sehingga kabar bahwa ada beberapa pemain yang tetap riang gembira dan tertawa-tawa di tengah kekecewaan langsung menjadi sasaran empuk pergunjingan di dunia maya. Hanya kewibawaan dan pernyataan pelatih lah yang dapat memberi jaminan bahwa kondisi tim tetap kondusif dan tetap di jalur juara.

Harapan berbalut tekanan kali ini sebenarnya muncul dari kondisi Persib itu sendiri. Komposisi tim yang bermaterikan pemain-pemain unggul+Michael Essien sebagai pemain termahal dalam sejarah sepak bola Indonesia membuat Persib seharusnya bisa menampilkan yang terbaik. Tak sekadar posisi baik di klasemen namun juga permainan memikat hati. Kegagalan menampilkan permainan nan memikat rupanya dianggap suatu dosa yang harus ditanggung bersama-sama, sehingga yang muncul adalah hal-hal emosional yang irasional. Bobotoh mewajibkan seluruh pemain untuk bersedih dan meratapi hasil tak maksimal di lapangan dan turut merasakan duka mereka. Padahal bagi seorang pemain profesional, mereka menganggap kewajiban mereka hanyalah jasa bermain bola yang tuntas berbalas gaji yang mereka dapat. Dalam konteks ini penulis sepakat dengan cara pandang tersebut. Kontribusi untuk klub dapat terpenuhi secara memuaskan berdasar kemampuan pemain tanpa harus ada embel-embel cinta dan rasa memiliki. Seorang legenda sepak bola Argentina, Gabriel Batistuta bahkan pernah mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak menyukai sepak bola, dia menganggap sepak bola hanyalah suatu pekerjaan semata. Nyatanya Batistuta tetap bisa bermain secara profesional tanpa harus melibatkan perasaan.

Jadi memang tampak berlebihan jika bobotoh memaksa para pemain Persib untuk mencintai klub yang mereka bela. Biarlah hal-hal emosional seperti itu tumbuh alami seiring waktu, atau jikalau memang tak pernah tumbuh maka apresiasilah pemain berdasarkan kontribusi yang terukur seperti jumlah gol, assist, clean sheet dll yang imbasnya nyata dan signifikan terhadap Persib.

Sejatinya rasa memiliki terhadap Persib merupakan keniscayaan bagi seorang bobotoh, dan di masa lalu bisa jadi seluruh pemain Persib pun adalah bobotoh juga yang selain terikat secara profesional kepada klub juga terikat secara emosional sebagai bobotoh. Logika seperti ini yang mampu menjawab mengapa pemain-pemain asli binaan Persib dianggap tak memiliki masalah terkait rasa memiliki ini, karena sejak kecil mereka memang penggemar Persib dan menjadikan Persib sebagai tujuan utama dan obsesi terbesar dalam karir sepak bola mereka. Maka agak lucu juga jika kita menuntut Essien dan Cole (misalnya) untuk jatuh cinta dan bermain die hard secara emosional untuk Persib menurut para bobotoh adalah suatu kebanggaan dan harga diri namun bisa jadi merupakan klub terburuk dalam karir mereka.

Lain halnya jika manajemen yang menuntut performa para pemain-pemain “baru” ini untuk tampil lebih baik berdasarkan uang yang telah digelontorkan oleh PT PBB. Hal seperti itu justru lebih masuk akal. Walaupun memang ada perkecualian untuk pemain-pemain luar Bandung yang dianggap telah “berdarah biru” dan selalu istimewa di mata bobotoh, sebut saja Hariono dan Vladimir Vujovic. Bahkan seorang Lorenzo Cabanas, mantan pemain Persib asal Paraguay, pernah mengatakan bahwa dirinya hanya akan bermain di Indonesia jika berbaju Persib. Jika tidak, dia memilih pensiun lebih awal. Cabanas pun menepati janjinya. Saat Persib tak membutuhkannya maka Cabanas memilih pulang ke Paraguay, padahal beberapa klub besar Indonesia berminat untuk menggunakan jasanya.

Profesionalisme sejati

Zaman telah berubah, cerita tentang betapa tertekannya para pemain Persib di masa lalu andai kata timnya kalah, hingga para pemain tak berani keluar rumah tentunya takkan lagi terulang di masa sekarang. Saat ini para pemain takkan canggung dugem, main ke cafe, karaokean, shopping dan bersenang-senang walau Persib baru saja kalah beberapa jam sebelumnya. Tentu saja itu hak mereka dan tak ada yang bisa melarang. Adapun konsekuensi “sosial sepak bola” berupa penilaian miring dan rasa tak simpatik akan datang dari para penggemar Persib dan itu hanyalah sebuah pilihan bagi para pemain profesional ini, siap atau tidak mendapat caci maki dari publik Bandung.

Jikalau ada alasan pembenar bahwa pemain harus tampil maksimal, sebenarnya itu ada di tataran profesionalisme itu sendiri, tanpa perlu embel-embel cinta dan rasa memiliki terhadap klub. Bahwa seorang profesional dituntut untuk memberi kemampuan terbaiknya untuk pihak yang telah membayar jasa dan kemampuannya. Jika ekspektasi moral yang rasional itu dapat dipahami oleh para pemain Persib maka seharusnya kritik dan kicauan pedas bobotoh dapat dibungkam oleh penampilan Persib di lapangan.

Rabu mendatang Persib akan dijamu oleh Bali United. Kita lihat apakah anak-anak asuhan Djadjang Nurdjaman dapat membungkam gelombang kritik selama ini. Tak perlu dengan menunjukkan rasa memiliki dan cinta kepada Persib. Cukup dengan penampilan terbaik untuk diri mereka sendiri sebagai pemain sepak bola profesional yang telah dibayar mahal oleh klub. Jikalau ada yang merasa bermain total juga untuk para bobotoh dan seluruh fans Persib, maka biarlah bobotoh yang menilai.... Jika bobotoh mengamininya, tentunya itu pun akan menjadi nilai plus bagi para pemain, selain tetap dibutuhkan oleh klub maka dia akan dicintai para bobotoh.