Cijawura Bukan Berasal dari Cijawara

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

PEMUDA berpakain hitam hitam, dengan ikat kepala batik warna gading, berapi-api menceritakan tentang asa-usul nama geografi. Sesi tanya-jawab ini lebih memaparkan pengetahuannya tentang asa-usul nama geografi Cijawura di Kota Bandung. Menurutnya, nama Cijawura, berasal dari kata jawara, karena pada masa lalu, di sana ada tokoh ahli usik, ahli silat, yang menjadi guru silat yang melahirkan banyak murid di sana. Karena banyaknya jago silat, banyaklah jawara di sana, maka kampung itu dinamai Cijawara, yang kemudian berubah menjadi Cijawura.

Bila di suatu daerah ada seorang jawara, pastilah akan diketahui siapa namanya. Kalau jago silat, pastilah akan diketahui alirannya. Dalam dunia persilatan, guru sangat penting, bukan saja karena dapat melatih jurus-jurus dengan ketepatan yang baik, tetapi juga, dan ini yang amat penting, gurulah yang dapat meluruskan bila ada kesalahan, baik jurus maupun perilakunya.

Kepada para peserta pertemuan itu saya tayangkan foto daun dan buah jawura yang bulat, yang saya dapatkan dari Subang. Seperti paduan suara, terdengar suara bergemuruh, “Oh….”

Jadi, nama geografi Cijawura di Kota Bandung, Jawa Barat itu diambil dari nama pohon jawura. Ada juga Rawajawura di Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Nama pohon itu kini sudah tidak dikenali lagi di Bandung, mungkin juga di Kertajati, dan tidak menyisakan kenangan bagi masyarakatnya. Mungkin, karena pohon ini sudah menghilang terlalu lama, sehingga ada saja yang menafsirkan jawura itu jawara. Walau hanya beda satu huruf, yaitu u dan a, namun artinya sangat berlainan. Jawura adalah nama pohon, sedang jawara robahan dari kata juara, namun mempunyai konotasi kurang baik (R Satjadibrata, 2005. Kamus Basa Sunda).

Pohon ini populer disebut mundu. Mundu merupakan nama buah yang paling umum digunakan dalam bahasa Indonesia, Sunda, Jawa, dan Madura. Namun di Tatar Sunda, mundu disebut juga jawura, golodogpanto, dan di beberapa tempat disebut baros. Sedangkan masyarakat Jawa menyebutnya mundu, baros, atau klendeng, sementara orang Minahasa menyebutnya mamundung.

Jawura tumbuh dengan baik di Tatar Sunda, sehingga nama pohon ini diabadikan menjadi nama geografi, seperti: Cijawura di Bandung, Baros di Cimahi, Kampung Mundu di Ciamis, Rawa Jawura di Majalengka, Kecamatan Mundu di Cirebon, Desa Mundu di Indramayu, dan banyak nama tempat yang menggunakan nama buah ini, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan nama Desa Mundu dijadikan nama formasi, Formasi Mundu, untuk menggambarkan pemerian lapisan-lapisan batuan, hubungan dan kejadian macam-macam batuan di alam dalam ruang dan waktu.

Memberi nama tempat dengan nama pohon itu pastilah tidak mengada-ada, namun pohon itu memang ada di sana, sehingga menjadi ciri bumi suatu kawasan. Dapat dipastikan pohon jawura (Garcinia dulcis KURZ.) itu tumbuh subur di sini.

Saat ini, masih adakah buah jawura? Di manakah pohon itu dapat dilihat? Setahun yang lalu, di lapangan Gajah Mada, Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanam buah mundu pada peringatan hari Pramuka ke-46, Selasa 14 Agustus 2007. Juga terdapat di Kebun Percobaan Subang. Di kebun seluas 146,55 hektar itu  di antaranya tumbuh 41 pohon jawura atau mundu.

Dalam kamus-kamus bahasa Sunda, pohon jawura tidak dideskripsikan dengan jelas, malah lemanya dipisahkan dengan mundu, seolah merupakan pohon yang berbeda. Entah mengapa, jawura atau mundu di Tatar Sunda disebut juga golodogpanto. Golodog panto dalam arti yang sesungguhnya adalah: “tangga paranti turun ti atawa unggah ka imah panggung.” (R Satjadibrata, 2005. Kamus Basa Sunda ), tangga untuk turun atau naik ke dalam rumah panggung.

Jonathan Rigg (1862) menuliskan tentang mundu adalah nama pohon yang buahnya menyerupai manggu. Dalam Kamus Basa Sunda R Satjadibrata (PT Kiblat, 2005, cetakan pertama tahun 1948 oleh Balai Pustaka), menuliskan jawura itu “ngaran sarupa tangkal” (h. 170), nama sejenis pohon, dan dalam lema mundu tertulis, “ngaran sarupa tangkal, buahna ngeunah, bangsa gandaria” (h. 23), nama sejenis pohon, buahnya enak, sejenis gandaria. Sedangkan dalam Kamus Umum Basa Sunda - LBSS (Tarate Bandung, 1980) menuliskan bahwa jawura itu “ngaran tangkal kai di Banten Kidul, buahna haseum, sok didahar” (h. 191), nama pohon di Banten Selatan, buahnya masam, suka dimakan. Sedangkan mundu dituliskan golodog panto (h. 320) yang deskripsinya terdapat di h. 151, “ngaran tangkal jeung buahna nu beunang didahar, ngan teu sabaraha ngeunahna” nama pohon dan buahnya dapat dimakan, hanya tidak begitu enak.

Uraian yang membingungkan terdapat pada Kamus Basa Sunda karya RA Danadibrata (2006). Pada lema mundu dituliskan, ”ngaran tangkal” (h. 448), nama pohon, dan pada lema jawura dituliskan, ”basa Banten: sentul” (h. 1.285). Bila diikuti keterangan tentang sentul, dituliskan: ”ngaran bubuahan di leuweung, bangunna buleud, gedena saluhureun manggah gedong, dagingna haseum semu amis. Sentul loba ngaranna, di antarana aya nu nyebut burahol, turalak atawa buah kacapi.” (h. 629), ”nama pohon buah di hutan, bentuknya bundar, lebih besar dari mangga gedong, dagingnya masam agak manis. Banyak nama untuk sentul, di antaranya ada yang menyebut burahol, turalak atau buah kacapi. Padahal kita tahu, ada nama pohon yang disebutkan dalam lema ini berbeda jenisnya.

Dalam buku Tumbuhan Berguna Indonedia Jilid III yang disusun K. Heyne (1927, 1987), dilengkapi data dari buku Flora untuk Sekolah di Indonesia yang disusun oleh Dr. C.G.G.J. van Steenis dkk., dan tulisan P.C.M. Jansen, Edible Fruits and Nuts, seperti yang dimuat dalam Prosea, serta berbagai sumber lainnya, diuraikan ciri-ciri pohon jawura ini sebagai berikut: tinggi pohon antara 5-12 meter, berbatang pendek, besar batang 20 cm., ranting tebal, kayunya kurang awet. Kulit batang berwarna coklat, bergetah putih dan berubah menjadi coklat pucat bila kering. Daunnya bulat telur yang memanjang, namun kerap meruncing, panjangnya 10-30 cm dengan lebar 3-10 cm. Warna daun hijau pucat bila muda, dan hijau tua yang mengkilat bila tua. Pada bagian bawah daun, tulang tengah menonjol dan keras, urat-urat daun banyak dan paralel, panjang tangkai daun sampai 2 cm.

Buahnya bulat, hijau saat muda, dan kuning/oranye bila matang. Panjang buah sekitar 2,5 cm. dengan garis tengah 3-4 cm. Bijinya 1-4 dengan selaput biji berwarna hijau kekuningan.

Tumbuh di hutan tropis basah, tersebar di seluruh Pulau Jawa dan di beberapa tempat di Nusantara. Pohon ini ada yang ditanam di kebun. Perbanyakan dengan menyemaikan bijinya. Pohon ini tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian tempat 500 m.dpl. ke bawah.

Buah ini dapat dimakan dengan rasa asam–manis, dagingnya tipis, rasa asamnya mirip kedondong. Dagingnya dapat diolah menjadi selai. Menurut pak Cucu, pemandu di Kebun Percobaan Subang, Jawa Barat, daging buah jawura dapat digunakan sebagai obat pencuci perut bila dimakan 4 buah. Bijinya sudah lama digunakan sebagai bahan dalam pembuatan jamu. Tumbukan bijinya yang dicampur cuka digunakan untuk mengobati otot yang bengkak.

Papagan, tumbukan kulit kayunya dapat digunakan untuk mewarnai tikar. Untuk mendapatkan warna hijau tua alami, masyarakat di sekitar Gresik menggunakan campuran kayu mundu, kayu laban, pandan, atal, tawas, prusi, dan sendawa. Di Madura, warna hijau alami dihasilkan dari campuran kayu jawura, gula, tawas, dan jeruk. Masih di Madura, untuk mendapatkan warna kuning pucat, getah mundu yang berwarna kuning dicampur dengan temulawak, menghasilkan warna kuning pandan. Sedangkan di Pacitan, warna hijau alami diperoleh dari campuran papagan jawura, papagan mangga, tegeran, perusi, dan tanjung.

Perlu adanya gerakan menanam berbagai jenis pohon langka, mengingat banyak nama geografi yang menggunakan nama-nama pohon, namun pohonnya sudah sangat langka, bahkan sudah tidak dikenali lagi oleh masyarakatnya.

Akankah di kawasan Cijawura pohon jawura, sehingga warganya itu tetap mengenai asal-muasal nama daerahnya, sehingga tidak menduga-duga bahwa Cijawura itu berasal dari kata Jawara.***