Lewat Gang

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SALAH satu warisan Belanda yang amat ringkas dalam bahasa Indonesia adalah "gang". Cuma satu suku kata, tak seperti kebanyakan nomina dalam bahasa Indonesia. Hampir-hampir seperti kata seru di telinga saya. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikannya sebagai "jalan kecil" atau "lorong".

Pernah saya iseng-iseng menyampaikan gagasan kepada sejumlah teman tentang "wisata gang". Pada hemat saya, menyusuri gang di tengah kota, terutama gang yang belum kita kenal, seperti menyusuri teka-teki. Pemandangan ajaib tak jarang timbul dalam kegiatan demikian. Sempat saya tersesat ke dapur orang sewaktu menuntun sepeda menyusuri labirin gang di Kosambi. 

Kota yang sering kita bicarakan cenderung hadir dalam perbincangan sebagai pemandangan dari jalan raya. Buat saya, itu hanya kota garis besar. Untuk melihat rincian kota, orang perlu masuk-keluar gang seperti pembuat peta, petugas sensus, atau pemulung barang bekas. Tidaklah cukup kita main swafoto di Jalan Braga. Ada baiknya kita menyusuri gang-gang di tepian Cikapundung. 

Di Cicadas atau Babakan Ciamis, di Negla atau Tamansari, begitu banyak gang yang dapat memberi kita pengertian tersendiri mengenai hidup dan mati. Orang membangun privasi seraya bertetangga dalam kesempitan ruang bersama. Orang bersusah-payah mengusung keranda di gang yang hanya selebar badan orang dewasa. 

Tentu, "Lorong Midaq" dalam novel Naguib Mahfouz jauh lebih lebar daripada gang yang sedang saya bayangkan. Di situ ada kafe, toko, tukang cukur, dan kantor perusahaan, terhubung dengan jalan lebih luas yang dapat dilalui oleh kereta kuda. Betapapun, apa yang digambarkan oleh penulis Mesir itu sedikit-banyak juga berlaku bagi gang atau lorong pada umumnya. 

"Although Midaq Alley lives in almost complete isolation from all surrounding activity, it clamors with a distinctive and personal life of its own. Fundamentally and basically, its roots connect with life as a whole and yet, at the same time, it retains a number of the secrets of a world now past," tulis Naguib Mahfouz.

Ya, meski dapat dikatakan terisolasi dari lingkungan sekelilingnya, gang yang sering kita lalui punya kehidupan pribadinya sendiri. Itulah potongan kehidupan yang unik, yang terhubung dengan kehidupan seluruhnya seraya menyimpan rahasia dunia yang sudah lewat. 

"Lorong", juga "Jalan Bandungan", hadir dalam cerpen dan novel N.H. Dini. Gang Asmi di dekat Kebonkalapa muncul dalam memoar Ajip Rosidi. Antara tokoh dan jalan yang sering dilaluinya terjalin semacam hubungan batin. 

Meski tak ikut mengalami zaman Lilis Suryani, saya ikut mendengar lagu jenaka "Gang Kelinci". Dalam liriknya, kepadatan penghuni kota dilukiskan sebagai "anak-anak segudang//grudak-gruduk kayak kelinci". Dalam kepadatan penduduk, sang aku lirik tidak bisa tumbuh wajar. "Badanku bulat tak bisa tinggi//persis kayak anak kelinci," katanya.

Saya sendiri tinggal di ujung dua gang. Sejumlah teman sempat tersesat sewaktu pertama kali mencari rumah kami di sekitar Sersan Bajuri. Mang Wendi dari Sekeloa malah tersesat hingga ke Kampung Gajah. Yang tak pernah tersesat adalah Kang Titi Bachtiar dan Teh Dewi Syafriani. Beberapa kali pasangan yang saya kagumi ini mengunjungi kami lewat gang di bagian belakang. 

Kata Kang TB, untuk belajar geografi tak usah repot-repot. Telusuri saja bekas jalur aliran lava di sekitar Kampus Bumi Siliwangi. Waktu mendengar hal itu, diam-diam saya membandingkan gang dengan bekas jalur lava. Terjadi ledakan penduduk, dan hidup manusia mengalir melalui begitu banyak gang.

Entah berapa ribu kali sudah saya melewati salah satu gang yang menghubungkan Jalan Sersan Bajuri dengan kampus UPI. Sering saya melintas ke situ dengan jalan kaki, dan tak jarang dengan naik sepeda. Belakangan baru saya sadari begitu banyaknya fungsi gang dalam hidup sehari-hari, di antaranya saja sebagai jalan, pasar, juga tempat pertunjukan.

Meski istilahnya amat pendek, hanya satu suku kata, gang sesungguhnya memperlihatkan rangkaian pengalaman yang amat panjang.***