Perkara Berani

rahimasyik's picture

Rahim Asyik

Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat

TAHUN 1919, Commissie voor de Volkslecteur menerbitkan Soendaneesche Volksalmanak, buku berisi penanggalan dan karangan yang perlu diketahui umum. Selain berbahasa Sunda, diterbitkan pula edisi bahasa Jawa dan Melayunya. Dalam pengantarnya disebutkan, penerbitan buku tahunan sejenis di negeri Belanda bisa berlangsung konsisten lebih dari 200 tahun. Dengan membaca buku itu, terekam perkembangan masyarakat dari tahun ke tahun.

Edisi perdana buku setebal 204 halaman itu memuat 101 tajuk tulisan. Topik yang dibahas beragam, umumnya ditulis singkat dan padat. Beberapa hal, semisal tentang sekolah dan pendidikan, diulas panjang lebar. Sangat informatif. Tampaknya, pendidikan merupakan perkara yang tengah jadi perhatian kala itu.

Pendidikan seperti apa yang diinginkan kalangan bumiputra? Ke mana mesti berkiblat: ke Eropa, Amerika, Jepang atau menggali kearifan lokal cara kuno? Kepintaran dan harta disebutkan bukan tujuan pokok pendidikan. Pintar saja tidak cukup. Lulusan sekolahan hendaknya memiliki nilai plus berupa rajin bekerja, setia, bersih hatinya, berani berkata benar, hemat, tahu tatakrama, dan berbadan sehat.

Soal berani berkata benar rupanya jadi poin penting penulisnya. Musababnya adalah, entah karena adat kuno atau karena kurangnya pengetahuan, orang Sunda kurang keberanian dalam menyampaikan sesuatu. Beda halnya dengan orang Madura, Aceh, Makassar, Bugis, dan Ambon yang keberaniannya dinilai pol. Jauh lebih berani dari ”oerang Hindia” yang ”geus loba noe wani, tapi ngan oekoer tengahna”.

Penulisnya menyarankan agar adat yang salah itu dibuang jauh-jauh. Sebagai gantinya, orang Sunda harus berani menyatakan sikapnya. ”Boh wani ngomong perkara noe bener atawa dina naon baè, asal oelah tjitjing dina salah.... Baroedak oerang mah koedoe díadjar wani kana bebeneran”.

Melihat cara Eropa, ada tiga hal yang jadi urusan: ”ngoeroes badan” atau jasmani (de lichamelijk en opvoeding), ”ngoeroes oeteuk” atau intelektualnya (de verstandelijke opvoeding), dan ngoeroes kahadéan atau moral (zedelijke opvoeding). Bagaimana dengan di Hindia Belanda? Tulisan itu menyebutkan, yang diurus cuma otaknya saja. Di sekolah atau di rumah, yang dikerjakan cuma belajar dan belajar, ”ngoeroes oeteuk nepikeun ka loba noe rijeut boedak tèh”. Sementara jasmani dan moralnya terlupakan. Tak heran kalau banyak yang fisiknya jadi lemah dan perilakunya tak bermoral.

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang antropolog. Dia menyampaikan keprihatinannya mengenai benih-benih perpecahan yang sedang berlangsung di masyarakat. Entah berpendidikan tinggi entah tak makan sekolahan sama sekali, kata dia, keduanya dengan gampang termakan hoaks, memercayainya, dan langsung menyebarkannya. Perilaku itu berandil pada meluas dan mengkristalnya perpecahan di masyarakat. Rupanya, sekolah di Indonesia masih belum berhasil melahirkan siswa didik dengan nilai-nilai plus tadi.

Di mana salahnya? Sekolah, kata dia, tak berhasil mengajarkan pada siswanya untuk berani bertanya. Saat disuruh bertanya, para siswa langsung sibuk. Ada yang langsung tunduk pura-pura mencatat, ada yang seolah membaca. Mereka tak terlatih untuk berpikir, merumuskan pertanyaan, dan menyampaikan gagasannya. Mereka terbiasa dicekoki dan menelan mentah-mentah apa yang disampaikan gurunya. Karena tak terbiasa berpikir kritis, tak heran kalau kemudian mereka dengan mudah menerima informasi hoaks yang sebetulnya gampang dicek kebenarannya.

Apa yang disampaikan dalam Soendaneesche Volksalmanak hampir seabad silam, rupanya masih relevan hingga saat ini. Setidak-tidaknya keluhan mengenai kekurangberanian orang Sunda dalam menyatakan sikapnya, masih saja terdengar. Harus kembali diingatkan di sini bahwa kurangnya keberanian terkait adat kuno atau minimnya pengetahuan semacam itu untuk dibuang jauh-jauh. Jangan sampai seabad kemudian, muncul orang yang lain lagi untuk mengingatkan perkara itu. Malu atuh.***