Jatinangor

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

"Dé, tahu apa artinya Jatinangor?"
"Tahu. Jati-na ngora (pohon jatinya muda)," mahasiswa itu menjawab yakin.

BETULKAH penamaan itu karena di sana semula banyak pohon jati muda yang sudah ditebang untuk berbagai keperluan mebeler? Sehingga tempat penumpukkan kayu gelondongan kayu jati muda itu kemudian disebut Jatinangor Menyelisik asal-usul nama Jatinangor, setidaknya harus mundur ke zaman yang belum terlalu jauh. Saat ketika Perkebunan di Zaman Hindia Belanda menikmati keberkahan alam karena dikelola dengan sepenuh hati.

Pada tahun 1841, di kawasan ini dibuka perkebunan teh Cultuur Ondernemingen van Maatschappij Baud yang dipimpin seorang administratur W.A. Baron Baud (Her Suganda, 2007). Tuan Baud bertangan dingin, ia sukses membuka 14 perkebunan teh lainnya seperti di Pamegatan, Garut Selatan. Dikemudian hari perkebunan teh di Jatinagor ini diubah menjadi perkebunan karet, dan saat ini menjadi kampus perguruan tinggi yang dibangun tidak dengan imaji-imaji.

Seperti lazimnya perkebunan teh, sejauh-jauh mata memandang, di lengkung-lengkung punggung perbukitan itu, yang tampak hanyalah permadani hijau pucuk-pucuk teh yang segar. Ujung-ujungnya bergelayut embun pagi yang berkilau saat matahari pagi mengusir halimun yang erat memeluk bukit. Ketika napas mengepulkan uap hangat, bergumpal-bergumpal kecil, keindahan pucuk-pucuk teh yang berberebut hangat matahari adalah surga perkebunan tropika.

Jalan-jalan tanah sebahu lebarnya, jalan yang teramat akrab dengan kaki perempuan pemetik teh yang perkasa. Di jalan itu, mereka beriringan menuju kebun-kebun teh yang membentang berbukit-bukit. Pucuk-pucuk teh yang segar saling mengacungkan jari, ingin dipetik tangan-tangan kokoh yang terampil agar menyaksikan bagaimana manusia mendapatkan kepuasan di pagi dan sore hari ketika teh hangat diseruput. "Akh…!" dengan mulut agak terbuka dan kepala dan badan sedikit dicondongkan ke belakang, itulah puncak kenikmatan minum teh.

Bagi tuan Baud, ternyata ada pesona lain yang menggetarkan jiwanya di antara beningnya embun di pucuk-pucuk teh tropika. Getar itu karena hadirnya sesosok gadis desa yang membuat hatinya menjadi lebih berbunga.

Sangat mungkin, saat itulah Tuan Baud merasakan kehijauan pucuk-pucuk teh ternyata belum cukup. Sepertinya perlu ada sedikit tambahan warna lain. Maka ditanamlah kembang jatinangor yang bernuansa merah. Ia berharap permadani hijau dengan garis-garis cokelat sebahu yang melengkung menapaki punggung perbukitan itu tampak jelas dengan kehadiran kembang jatinangor yang berjajar merah setinggi hamparan teh. Suasana menjadi lebih hegar, lebih segar dan gembira, seperti suasana hatinya. Akhirnya Tuan Baud mempunyai seorang putri indo, Mimosa, namanya dari perkawinannya dengan gadis desa dengan aroma tropika.

Kembang asal Amerika

Kembang jatinangor (Alternanthéra ficoides R. Br. Var. bettzickiana Back.), bukanlah kembang asli dari Tatar Sunda, namun berasal dari Amerika. Kembang ini diberi nama lokal jukut sélong. Dalam bahasa Jawa terkenal dengan sebutan kecicak abang, dan umum dalam bahasa Indonesia disebut bayem merah.

Dr. C.G.G.J. van Steenis (1981) memberikan gambaran bahwa kembang ini merupakan herba menahun, berumpun kuat, tingginya 0,2-0,5 meter dengan batangnya berambut tipis yang merata. Daunnya berbentuk solet sampai memanjang dengan warna kemerah-merahan. Bunganya dengan bongkol duduk, kadang seperti bertangkai, tidak berduri. Daun pelindung kecil, runcing, bertepi semacam selaput. Daun tenda bunga 5, runcing keputih-putihan serupa selaput, panjang + 3 mm., bertulang daun 3, dari luar berambut. Benang sari 5. Tangkai sari pada pangkalnya bersatu seperti mangkuk yang pendek. Kepala sari berganti-ganti dengan taju yang berbentuk pita pada ujung yang berbagi dalam umbai. Tangkai putik pendek, kepala putik benbentuk tombol. Tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian antara 5-1.600 meter dpl.

Imaji-imaji bagaimana memperindah lanskap perkebunan teh dengan sedikit memberikan aksen kembang jatinangor merah di hamparan hijau, misalnya, membuat suasana menjadi berbeda, membuat manusia lebih hegar. Keceriaan warna kembang jatinangor di kehijauan teh itulah yang menjadi penanda, sampai akhirnya menjadi nama tempat, abadi hingga kini, walau kembang jatinangornya sudah lama menghilang di batas kebun, atau di pagar-pagar depan rumah penduduk. 

Ini adalah contoh bagi kita. Di Jatinangor, kini berdiri setidaknya 3 perguruan tinggi dan beberapa sekolah dasar dan lanjutan. Tentu, sudah cukup lama institusi pendidikan itu berada di sana, namun soal mempercantik lansekap, nampaknya harus banyak belajar lagi.***