Nyanyi di Punclut

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

HARI menjelang siang ketika saya berkunjung  ke sebuah cafe di Punclut. Begitu saya duduk di selasar, menghadap ke cekungan Bandung yang padat, terlihat seekor elang hitam melayang berputar-putar di atas bukit. Itu pemandangan yang langka, seperti warta tersendiri tentang berubahnya habitat satwa  jadi kota.

Ramdan dan Ginanjar sudah lebih dulu tiba di situ. Mereka adalah teman sekampus saya dulu. Jalan hidup macam-macam. Saya tertarik ke bidang jurnalistik, mereka terpikat oleh bidang musik. Ramdanlah yang mengajak saya ke sana, untuk berbincang bersama teman-temannya dari Yogyakarta, juga rekan-rekannya sesama pemusik dari dalam kota. 

Waktu masih kuliah di Unpad, Ramdan bergiat dalam Orkes Keroncong Rindu Order. Pada 2001 ia pindah ke Jawa Tengah. Bersama istri dan anaknya ia sekarang tinggal di Klaten. Pada 2008, bersama teman-temannya dari Yogyakarta, ia membentuk komunitas Rannisakustik. Komunitas ini menulis, menyanyikan, dan menyebarkan lagu-lagu yang didasarkan atas kepedulian terhadap masalah sosial, khususnya masalah kekerasan yang dialami oleh kaum perempuan. 

Teman-teman dari Rannisakustik yang siang itu datang ke Punclut adalah penari Nia, Dini, vokalis Ahmad Jalidu yang juga giat dalam teater dan distribusi buku, vokalis Uma Fajar Utami, pemain bas Nuki Setiawan, penabuh drum Eksa Saputra. Dari Bandung hadir pemusik Mukti Mukti, Yudi Suhendi,  Mufid, dan lain-lain. 

Dalam pertemuan informal itu berlangsung perbincangan seputar proses kreatif penulis lirik. Saya sendiri ikut menyimak dan mencatat. Karena saya bukan pemusik, saya hanya ikut berbagi pengalaman dan penglihatan pribadi sebagai warga kota dalam kehidupan sehari-hari. Itulah kehidupan yang sering tercermin dalam lirik lagu.

Selain berbincang, sudah pasti, teman-teman mempertunjukan karya masing-masing. Dari Rannisakustik dipersembahkan beberapa lagu, antara lain tentang TKW yang pulang kampung dalam peti mati dan tentang seorang ibu yang membela tanah adatnya. Adapun Mukti Mukti menyanyikan lagu tentang penderitaan Maesyaroh yang teraniaya serta dua lagu lainnya. Begitu pula Yudi Suhendi, yang sehari-hari mengamen di sebuah rumah makan di Leuwipanjang, turut mempertunjukkan karyanya.

Kedatangan Ramdan dan kawan-kawan, buat saya sendiri, mengingatkan pentingnya silaturahmi antarwarga kota dan pentingnya musik sebagai bagian dari ikhtiar untuk melakukan refleksi diri. Pengalaman pribadi, juga ingatan kolektif, mendorong pecakapan, dan lagu-lagu dapat diciptakan dan dinyanyikan bersama-sama. 

Betah juga saya ikut hadir di situ. Saya baru kembali ke rumah menjelang magrib.***