Alam dan Kearifan

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

DALAM buku karya Franz Wilhelm Junghuhn, ”Licht- en Schaduwbeelden uit de Binnenlanden van Java” (Gambar Cahaya dan Bayang-bayang dari Pelosok Jawa), ada sebuah desa yang namanya disamarkan menjadi Gnoerag. Jika kita baca secara terbalik, nama desa itu mudah dikenal, yakni Garoeng atau Garung.

Buku ini ditulis dengan gaya alegoris. Isinya perbincangan teologis dengan latar bentang alam dan kehidupan manusia di Indonesia pada abad ke-19. Garung digambarkan sebagai desa di sebuah dataran tinggi. Di sekitar pemukiman penduduk setempat banyak tipar dan huma, yakni sawah kering. Hutan lebat mengelilinginya. Di desa itulah, dalam perjalanannya ke pedalaman, sang narator mesti bermalam.

Seorang perempuan muda merelakan gubuknya untuk ditempati oleh tamu Eropa beserta rombongannya. Ia sendiri, bersama anaknya yang masih bayi, akan tinggal di rumah tetangganya buat sementara.

“Ke mana suami?” tanya sang tamu.

“Ah, Tuan, delapan hari lalu dia diterkam harimau,” jawabnya.

Perempuan itu, kata sang narator, memberitahukan kabar seburuk itu seraya tersenyum (met een lachen gezicht), seakan-akan ia sedang menyampaikan lelucon (grap verhaalde). Namun, tambahnya, sikap seperti itu sama sekali tidak berarti bahwa penduduk setempat tidak punya perasaan. Justru sikap demikian mencerminkan kemampuan mereka untuk menghikmati kehidupan.

Buat saya sendiri, setiap kali membaca bagian itu, sedikitnya ada dua hal yang menarik. Pertama, sikap ramah terhadap pendatang. Kedua, kearifan menerima penderitaan.

Dalam narasi penjelajah alam yang berpikiran romantik seperti Franz Junghuhn, kearifan penduduk desa sebagaimana yang diceritakannya erat terpaut pada karakteristik alam yang mereka huni. Iklim yang hangat, beragam gejala alam yang datang dan pergi silih berganti, perubahan musim, dan sebagainya—“semua itu niscaya mempengaruhi watak dan suasana batin mereka” (dit alles oefent noodzakelijkerwijze invloed uit op hun karakter en hun innerlijke gemoedsstemming).

Dengan uraian itu, Franz Junghuhn menjuluki penduduk pelosok Pulau Jawa sebagai filsuf alam atau filsuf sejak lahir (geboren philosophen).

Sampai di situ, saya teringat pada karya penulis lain dari abad ke-19, Henry David Thoreau, yang juga menambatkan batinnya pada bentang alam. Jika Franz Junghuhn tinggal di Jayagiri, Lembang, Thoreau tinggal di Concord, Massachusetts. Tulisan Thoreau yang ingin saya petik di sini adalah ”A Week on the Concord and Merrimack Rivers” (Seminggu Mengarungi Sungai Concord dan Merrimack).

Buku ini juga lahir dari perjalanan. Bersama saudaranya, Thoreau naik perahu menyusuri kedua sungai itu. Bukunya ditulis seperti catatan harian. Setelah pendahuluan yang menggambarkan Concord, catatannya dimulai pada hari Sabtu dan diakhiri pada hari Jumat, dan kita mendapatkan sepekan yang sarat dengan perenungan. Prosa dan puisi berjalin-berkelindan di sepanjang perjalanan.

Thoreau juga memuji mereka yang tinggal di desa dan hidup dalam harmoni dengan alam sekitarnya. Katanya, di wilayah pedesaan, di dekat bentang alam, kita akan bertemu dengan orang-orang yang sesungguhnya “lebih hebat daripada Homer, atau Chaucer, atau Shakespeare”.

“Lihatlah ladang mereka, dan bayangkan apa yang mungkin mereka tulis, sekiranya mereka mesti menulis (Look at their fields, and imagine what they might write, if ever they should put pen to paper),” tulisnya.

Bacaan saya mungkin layak disebut jadul, tapi apa yang saya catat dari Garung hingga Concord, dari Junghuhn hingga Thoreau, terasa mengingatkan diri sendiri akan pentingnya memperhatikan bentang alam.***