Curhat Jokowi

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

CURHAT Presiden Joko Widodo tentang besaran investasi yang ditanamkan Arab Saudi di Indonesia menjadi cerita yang tersisa (kakaren) dari kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulazis al-Saud, pada 1 Maret silam. Kala itu, publik di tanah air   terpesona, bukan saja karena  jumlah rombongan yang besar, waktu kunjungan yang lama, atau kemewahan  fasilitas Sang Raja, tetapi juga dibuat berdecak mendengar jumlah investasi yang akan ditanamkan Arab Saudi di tanah air.

Namun kedatangan tamu istimewa menyisakan sedikit kekecewaan bagi shohibul bait, Presiden Joko Widodo. Seperti diberitakan Pikiran Rakyat, 15 April 2017, Presiden mencurahkan kekecewaannya di hadapan para kiyai dan ribuan santri Pondok Pesantren Buntet Cirebon. Kekecewaan Presiden terkait jumlah investasi yang ditanam Arab Saudi di Indonesia yang  mencapai Rp. 89 triliun, jauh lebih kecil ketimbang nilai kontrak yang diteken Raja Salman dengan Tiongkok yang jumlahnya mencapai Rp. 870 triliun.

Yang menarik, Presiden menghubungkan besaran investasi yang ditanam di tanah air dengan proses penyambutan Sang Raja yang amat luar biasa. Bukan hanya menyiapkan dan mengerahkan semua kekuatan demi penyambutan yang amat rapi, Presiden mengaku sampai memayungi Sang Raja ketika hujan deras mengguyur Istana Bogor saat tamu istimewanya tiba di sana. Lebih dari itu, Jokowi pun mengaku menyopiri sendiri mobil golf yang ditumpangi Sang Raja ketika berkeliling Istana Bogor.

Kekecewaan Presiden yang menghubungkan “kesempurnaan” penyambutan dengan besaran investasi menyiratkan “maksud” penyambutan Sang Raja. Alih-alih sudah menjadi kewajaran bagi seorang tuan rumah, yang memperlakukan tamunya sebagai raja (apalagi yang berkunjung raja beneran), tersirat maksud penyambutan sebagai bagian dari diplomasi, tepatnya bagian dari negosiasi, meraih investasi. 

Di tengah kunjungannya, Raja Salman sempat mengapresiasi penyambutan yang rapi, keramahtamahan (hospitality), kerukukan antarumat beragama, hingga keindahan alam dan budaya Indonesia, yang membuatnya memperpanjang masa liburan di Bali. Sang Raja sukses memadukan kepentingan kerja dan   leisure-nya sekaligus.

Sayangnya, maksud bernegosiasi yang tersirat dari penyambutan yang rapi dan istimewa bertepuk sebelah tangan. Mungkin karena jenis dan besaran investasi sudah selesai dibicarakan pejabat selevel menteri dari kedua negara, atau pejabat yang ditunjuk menyiapkan kunjungan, nyatanya kesempurnaan penyambutan tidak berbanding lurus dengan besaran jumlah investasi yang ditanam.

Memang penyambutan Raja Salman saat itu menimbulkan kesan beragam  di kalangan masyarakat Indonesia sendiri. Penyambutan yang super rapi ada yang membacanya sebagai kehangatan khas budaya timur yang agamis, namun tak sedikit yang memandangnya secara kritikal, sebagai bentuk hubungan asimetris, yang merefleksikan hubungan tidak setara (Presiden Jokowi yang lebih muda dengan Sang Raja yang sudah sepuh; atau cerminan sikap negara berkembang terhadap negara kaya).

Dari sisi komunikasi, kemunculan gejala ini bisa dijelaskan dari perbedaan konteks komunikasi orang Arab  pada umumnya yang cenderung low context (mengatakan secara terus terang apa yang dimaksudkan), dan orang Indonesia pada umumnya yang cenderung high context (melekatkan pesan pada konteks, tidak terus terang). Lebih dari itu, Raja Salman, dan orang Arab pada umumnya, lebih menekankan dimensi isi (apa yang dilambangkan secara verbal), alih-alih dimensi hubungan (yang dilambangkan secara nonverbal, atau  bagaimana cara mereka berhubungan).

Dilihat dari konteks  ini, Raja Salman akan membaca besaran investasi sebatas apa yang sudah tertulis dalam draf kontrak, bukan dari cara penyambutan yang dilakukan. Itulah sebabnya, meski Pemerintah Tiongkok tidak melakukan penyambutan istimewa (“bebeakan”), tapi mereka mendapat investasi yang jauh lebih besar. Jadi, kalau mau dipersoalkan, “persoalan”-nya melekat pada budaya (komunikasi) mereka, karena itu Jokowi gak perlu “baper” (terbawa perasaan).

Terlepas dari jumlah investasi yang jauh lebih kecil dibanding Tiongkok, apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo dan Raja Salman harus dimaknai sebagai sebuah “iftitah”, sebuah langkah pendahuluan yang strategis. Kedatangan Raja Salman bisa membuka poros baru dalam pergaulan global. Di tengah perebutan pengaruh  yang kian masif kedatangan Sang Raja  mengirim pesan bahwa kutub pengaruh dunia tidak hanya   Barat dan Timur, namun ada sahabat di Timur Tengah yang sudah  mengulurkan tangan. Ada oase di luar logika politik Barat dan Timur.

Masyarakat di kedua negara memiliki proksimitas ideologi yang kuat. Meski pernah ditegaskan Bung Karno, menganut Agama Islam tidak berarti menjadi Arab, namun kesamaan agama yang dianut mayoritas warga, dan hubungan antaranggota masyarakat kedua negara yang telah berlangsung sejak lama, menjadi substraat atau lanskap hubungan antarbangsa yang lebih konstruktif.

Kedatangan Raja Salman dan investasi yang ditanamnya adalah buah kerja keras diplomasi jajaran Pemerintahan Joko Widodo. Namun terbukti, kerja keras saja belum cukup. Untuk menciptakan maslahat yang lebih besar dari hubungan kedua negara, dibutuhkan  kredo baru, “bekerjalah lebih keras lagi”. Meski tidak selalu mudah, yakinlah ada jalan di setiap keinginan (idza shadaqal-‘azmu wadhahas-sabil).***