Merambah Jalan Sunyi

deddymulyana's picture

Deddy Mulyana

Anggota Dewan Redaksi HU Pikiran Rakyat dan ­guru besar Fikom Unpad.

"SUATU jalan bercabang di hutan, dan aku
Aku mengambil jalan yang jarang dilewati
Dan itu sungguh jalan yang berbeda"

Itulah tiga baris terakhir bait ke-4 puisi Robert Frost berjudul “The Road Not Taken.” Puisi itu melukiskan keputusan sang aku untuk mengambil jalan sunyi yang tak setiap orang mau merambahnya.

Metafora Frost layak kita renungkan di tengah maraknya korupsi di Indonesia selama ini (terutama korupsi terkini senilai Rp 2,3 triliun proyek E-KTP yang diduga melibatkan puluhan nama besar Komisi II DPR 2009-2014), kisruh perebutan kursi ketua DPD yang memalukan, dan ingar bingar ”perburuan kekuasaan” dalam Pilkada dan Pileg di negeri kita, termasuk putaran 2 Pilgub DKI Jakarta 19 April lusa serta Pilwalkot Bandung dan Pilgub Jawa Barat tahun depan yang geliatnya mulai terasa.

Di negara yang mewarisi feodalisme seperti Indonesia, banyak orang berlomba-lomba menjadi pejabat publik. Sebagian tak menakar kepantasan diri. Saya percaya, tak semua orang melampiaskan syahwat kekuasaannya dengan menghalalkan segala cara, seperti menyuap, memfitnah, adu domba, dan cara klenik-irasional.

Salah satunya adalah mantan pejabat pemerintah yang pernah saya jumpai di suatu taman saat berolahraga jalan kaki. Entah mengapa kami merasa cepat akrab. Saya memintanya untuk berbagi pengalaman dan hikmahnya.
**
”Hidup adalah misteri,” katanya. Ia bilang, tak pernah terpikir olehnya untuk menduduki jabatan itu, meski tak sedikit orang mendambakannya. Berkat didikan agama sejak masa mudanya, tertanam keyakinan dalam dadanya bahwa jabatan itu amanah, bukan untuk diminta atau diberikan kepada orang yang memintanya.

”Saya tak pernah kasak-kusuk kepada siapa pun. Orang mungkin menganggap saya lugu, padahal saya ingin memegang teguh prinsip saya,” katanya.

”Saya bukan orang hebat. Awalnya saya ragu karena saya merasa tak punya bakat kepemimpinan. Tantangan pekerjaan pun menggunung. Jika orang menganggap saya mulus menuntaskan jabatan, itu karena Allah menolong saya.”

Setelah mulai menjabat, penampilannya tetap bersahaja, termasuk cara berbusana dan berkendaraan. Setiap keputusan ia ambil berdasarkan aturan lembaga, tetapi secara moral juga etis, sering dengan lebih dulu meminta masukan kepada sebagian bawahannya yang ia percayai. Ia sadar sebaik apa pun keputusannya, itu takkan memuaskan semua orang karena kepentingan orang berlainan.

Berkat dukungan orang-orang di sekelilingnya, kinerja dan produktivitas lembaganya melesat. Ia juga mendorong semua orang untuk bersaing dalam kebajikan sesuai dengan kepercayaan agamanya.

Suasana kantornya terasa lebih teduh. Gosip meredup, pun kebocoran anggaran. Ia yakin tak ada keberhasilan sejati tanpa berkah-Nya. ”Bukankah Bimbo mendendangkan bahwa tujuan dunia akan terbawa jika kita bertujuan akhirat?” kilahnya.

Saat masih pejabat, sesekali ia mengendarai mobil pribadinya ke kantornya, sebagai kompensasi atas penggunaan darurat mobil dinas untuk kepentingan pribadi, bahkan menambahnya dengan bersedekah kepada orang yang membutuhkan.

”Ini ijtihad pribadi saya. Saya belajar sedikit dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dulu ia memadamkan lampu saat sang khalifah menghitung dan mencatat uang negara di istananya dan tiba-tiba kedatangan putranya untuk urusan pribadi yang membuat putranya itu terheran-heran,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Setiap pemimpin harus sering mengingatkan diri dan diingatkan orang lain. Dalam sejarah Islam diriwayatkan, ketika Khalifah Umar bin Khattab berkhotbah dalam pelantikannya dan berjanji bahwa ia akan bertindak adil, serta merta seorang Arab Badui berdiri dengan pedang terhunus di tangannya seraya berseru, ‘Wahai Umar, jika tindakanmu salah, pedangku ini yang akan meluruskannya.’ Di Indonesia yang budaya paternalistiknya kental, warga biasa tak berani memperingatkan seorang camat dengan cara demikian, apalagi memperingatkan presiden.”

Jabatan adalah ujian kehidupan. Orang harus waspada menjalaninya, jangan sampai terperdaya olehnya. Ia berusaha untuk menebarkan manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang. Meski aturan resmi membolehkannya menggunakan beberapa fasilitas, ia menahan diri dan tidak aji mumpung. Ia ingin pensiun dengan manis, tanpa membuat orang lain merasa teraniaya.

”Saya pernah menyaksikan seorang mantan pejabat tinggi yang mendapatkan cemoohan ’Uuuu’ dari banyak bawahannya saat namanya disebut dalam sebuah acara instansi karena ia diduga kuat telah memperkaya diri dengan menerima banyak gratifikasi dan ’menzalimi’ beberapa bawahannya dulu. Saya tak mau mengalami hal itu,” tuturnya.

Ia menceritakan, pada suatu dini hari ia terisak menjelang jabatannya berakhir. Bukan karena ia sedih akan segera meninggalkan jabatan itu, melainkan karena ia khawatir kalau-kalau ia telah berbuat khilaf selama ia menduduki jabatannya, sehingga ia memohon ampunan-Nya.

”Tidakkah Anda dihinggapi postpower syndrome atau sejenis itu?” tanya saya.

“Jabatan itu sementara, dari orang biasa menjadi pejabat dan kembali menjadi orang biasa. Saya malah merasa lega kini dan tanpa beban. Menjadi orang biasa itu ternyata lebih nikmat,” jawabnya diplomatis.

Jalan sunyi itu telah ia lewati tanpa gangguan berarti. Ia merasa tak ada yang ”istimewa” dalam jabatannya, kalau bukan kehampaan. Baginya jabatan seperti fatamorgana antara ada dan tiada, bak angin sepoi yang membelai tubuh lalu pergi entah ke mana. Ia merasa dedikasinya tak seberapa, namun berharap diridai-Nya. Semua itu kini tinggal kenangan yang lebih banyak sukanya daripada dukanya.

”Begitu banyak orang mengejar jabatan dengan segala cara, demi popularitas dan fasilitas, tanpa menyadari tanggung jawab di belakangnya. Banyak pejabat memiliki kecerdasan emosional yang begitu rendah. Mereka mempermalukan diri, istri dan anak-anaknya untuk menumpuk harta haram yang tanpa itu pun mereka hidup berkecukupan,” ujarnya lirih.
**
Siapa gerangan mantan pejabat itu? Ia memang seorang tokoh imajiner yang melintas begitu saja dalam benak saya. Saya kira sekarang pun ada segelintir pejabat, atau mantan pejabat, yang tengah atau telah menapaki jalan sunyi itu, hanya saja tak pernah diekspos media. Sebagaimana dikatakan Amatullah Armstrong (1993), kesunyian adalah musik terindah dalam kehidupan.

Mungkinkah, makin besar rasa takut seseorang dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya, makin besar kemungkinannya untuk sukses dalam jabatannya? Ini hipotesis menarik untuk diteliti. Bercermin pada penelitian Moh. Soleh (2000) dalam disertasinya di Universitas Airlangga Surabaya yang menemukan pengaruh signifikan salat malam terhadap kesehatan pelakunya, hipotesis ini pun boleh jadi akan teruji secara ilmiah.***