35 Tahun Letusan Galunggung

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

ANTARA 5 April 1982 hingga Januari 1983 Gunung Galunggung meletus. Abu gunung apinya melayang ke udara. Sejak itu dunia penerbangan menaruh perhatian pada abu gunung api yang melayang-layang di udara. Abu letusan gunung api dari Galunggung telah menyebabkan pesawat British Airways nomor penerbangan 9 dengan pilot Kapten Eric Moody, pada 24 Juni 1982 terbang dari Inggris menuju Australia. Pesawat Boeing 747-200 yang membawa 263 penumpang itu menembus abu Gunung Galunggung di ketinggian 11.000 meter. 

Abu letusan gunung api itu berbahaya bagi penerbangan karena mengandung silika yang halus. Silika yang disedot pesawat akan meleleh terpanaskan mesin pesawat, lalu menyumbat saluran bahan bakar. Akibatnya, keempat mesin pesawat mati. Para penumpang akhirnya lega, di ketinggian 13.000 kaki, tiga mesin pesawat kembali berfungsi. Lalu pesawat mendarat darurat di Jakarta.

Sebelumnya, letusan Gunung Galunggung yang tercatat dalam sejarah terjadi 8 Oktober 1822. Letusan itu meluncurkan awan panas sejauh lebih dari 10 kilometer dan merenggut nyawa 4.011 jiwa.

Sedangkan letusan Gunung Galunggung yang meruntuhkan sebagian besar badan gunungnya terjadi jauh sebelum tahun 1822. Ada yang berpendapat sekitar 4.000 tahun yang lalu. Ahli geologi Escher (1925) memberi nama The Ten Thousand Hills of Tasikmalaya untuk menyebut perbukitan yang jumlahnya 3.648 bukit. Escher berhipotesis tentang letusan gunung yang disertai giga banjir lahar. Material lahar beserta blok lava berdiameter hingga 10 meter itu mengendap di tenggara gunung, antara Manonjaya hingga Tasikmalaya. Setelah tererosi, material itu membentuk perbukitan yang tingginya antara 5-100 meter.

A.D. Wirakusumah (1982) mengemukakan, desakan magma ke arah lereng timur Gunung Galunggung, menyebabkan adanya bidang longsor berarah barat laut–tenggara. Letusan besar di lereng Gunung Galunggung itu telah mendorong bahan longsoran, dan material aliran letusannya ke arah timur-tenggara. Sesudah letusan dahsyat, terjadi kekosongan di dalam Gunung Galunggung, menyebabkan terjadinya terban dengan arah barat-timur. Bahan dari longsoran kemudian tererosi, membentuk bukit-bukit kecil.

Nama Galunggung sebagai mandala, tercatat dalam Carita Parahiyangan: "…Dalam perkawinannya, Dewi Candrarasmi dengan Sang Wretikandayun, beranak laki-laki 3 orang, masing-masing namanya adalah: Pertama Sang Jatmika atau Rahyangta Sempakwaja namanya. Ia diangkat sebagai resi guru di wilayah Galunggung…” (Carita Parahyangan Sakeng Bhumi Jawa Kulwan, Prathama Sargah, diterjemahkan oleh Drs Atja dan Dr Edi S. Ekadjati, Jakarta: 1998).

Berdasarkan Carita Parahyangan, Kerajaan Galuh berdiri tahun 570/571 M. Rajanya Sang Wretikandayun, dengan gelar penobatan Maharaja Suradharmma Jayaprakosa. Ia menikah dengan Pwahaci Bungatak Mangalengale atau Dewi Candrarasmi. Pasangan Raja dan Ratu Galuh ini dikaruniai tiga orang putera, salahsatunya adalah guru resi Sempakwaja yang dinobatkan di Galunggung.

Dalam Carita Parahyangan, seperti dikutip oleh Saleh Danasasmita (1975), kawasan Mandala Galunggung itu sebelah utara dibatasi Gunung Sawal, sebelah timur dibatasi Pelangdatar, sebelah barat dibatasi Ci Wulan. Saat ini, kawasan itu meliputi Tasikmalaya, Ciamis, dan bagian barat Banyumas.

Galunggung sebagai mandala, termuat juga dalam naskah nasihat panjang Rakeyan Darmasiksa kepada keturunannya dan masyarakat pada umumnya. Oleh Drs Saleh Danasasmita, naskah ini diberi judul "Amanat dari Galunggung".

"Peliharalah (agar tetap) ditaati oleh orang banyak, agar aman tenteram, menghimpun bahan makanan, sang disi unggul perangnya. Tetaplah mengikuti ucap orang tua, melaksanakan ajaran yang membuat parit pertahanan di Galunggung, agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya (panjang umur), sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama, warisan dari para suwargi." (Saleh Danasasmita, dkk., Amanat Galunggung, Bandung: 1987).

Bujangga Manik, putra mahkota kerajaan Sunda yang mengadakan perjalanan ziarah untuk berguru kepada tokoh agama sepanjang Pulau Jawa dan Bali seorang diri, tidak melewatkan ke Galunggung. Bujangga Manik menulis, 
"…
Saunggalah telah kujelajahi,
Gunung Galunggung ku lewati,
Melewati Padabeunghar,
Pamipiran telah lampau.
…” 
(J. Noorduyn dan A Teeuw. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya)

Kata Galunggung sebagai mandala juga terdapat dalam catatan yang lebih muda lagi, yaitu dalam Babad Sajarah Galuh Bareng Galunggung. Dalam babad ini ditulis, bahwa mandala Galunggung dipimpin oleh Syekh Batara Galunggung atau Syekh Batara Guru Haji. (Edi S Ekadjati, dkk., Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Jakarta: 1985).

Dalam kosa kata bahasa Sunda terdapat kata gelenggeng, yang berarti air yang keluar dari pancuran dengan ukuran yang besar. Gegelenggengan artinya orang yang muntah beberapa kali, dengan jumlah yang banyak. Makna kata galunggung itu menggambarkan muntahan material gunung api yang mahadahsyat, yang menimbulkan suara yang keras.

Pada April tahun 2017 ini letusan Gunung Galunggung sudah 35 tahun. Bila saja Galunggung meletus suatu ketika nanti, apa yang sudah disiapkan agar warga Galunggung mempunyai kesiagaan menghadapi letusan gunung ini, yang semakin padat dikelilingi permukiman?***