40 Tahun Jantera

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

JANTERA itu tumbuh di lingkungan terkecil, di ceruk terdalam dari lembaga Pendidikan Tinggi. Organisasi mahasiswa pencinta alam di Departemen Geografi IKIP Bandung ini dibentuk dan dikukuhkan pada tahun 1977 di puncak Gunung Tangkubanparahu, gunung yang banyak menginspirasi warga kota Bandung. Departemen Geografi sebelum tahun 1977 merupakan departemen yang tidak populer di kalangan siswa SMA/MA, sehingga mereka tidak memilih Geografi pada saat melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Karena peminatnya yang sedikit itulah, maka yang masuk ke Geografi mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan beasiswa. Walau uang beasiswanya laku dibelanjakan dan enak, namun nama beasiswanya sedikit menyakitkan, “Beasiswa kering dan langka”. Bahkan pada saat OSPEK, para senior di Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, seperti Idrus Affandi dan Yusuf Syarif Bastaman, masih menyebut kami ini sebagai warga Israel.

Pada tahun 1977, mahasiswa yang diterima lebih dari 40 orang. Jumlah yang luar biasa. Rupaya inilah yang sangat menggairahkan mereka yang membidani pendirian Departemen Geografi dan para dosen, seperti Prof Dr Soepardjo Adikoesoemo, Dr Iih Abdurrachim, Dr Sudardja Adiwikarta, Drs Moh Ma’mur Tanudidjaja - Dra Omi Kartawidja, Dr Nursid Sumaatmadja, Dr Sutjipto, Drs Ariffien Y, Drs Entus Nazmi, Marsidi, SU, Rasyid, SU, Drs. H US Hadirat, Drs SW Lontoh, Drs Akub Tisnasomantri,  Drs Suryatna Rafi’i, Drs Idris Abdurachmat, dll.

Kegembiraan para dosen tercermin dari kegairan mereka saat mengajar dan tiada lelah saat ke lapangan. Dalam sebulan, rasanya 4 minggu itu masih kurang. Karena sering pergi ke lapangan itulah maka para mahasiswa merasa butuh pengetahuan praktis tentang cara hidup di alam dengan aman, nyaman, dan selamat.

Dimotori Usman Muhyiddin, aktivitis mahasiswa Geografi, saya menjadi bagian dalam pembentukan organisasi pencinta alam ini di puncak Gunung Tangkubanparahu. Pada dasarnya, Jantera dibentuk dengan kesadaran penuh untuk terus selalu belajar tentang apa yang belum dikuasainya. Belajar tentang sesuatu hal yang pada saat itu belum dimilikinya, seperti keterampilan praktis hidup di alam bebas. Bagaimana menjelajah alam dengan riang, tapi siap siaga, cepat tanggap dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan, dan ancaman bahaya, yang mungkin datang tak terduga.

Hal-hal sederhana yang kami pelejari saat itu, misalnya bagaimana agar nyaman, riang, dan sehat selama dalam perjalanan. Perlengkapan minimum apa yang harus dibawa pada saat menjelajah. Contoh hal yang sangat teknis, misalnya bagaimana agar kaki tidak lecet saat berjalan berhari-hari. Bagaimana cara mengemas ransel, cara membuat perapian, mendirikan bivak, cara memasak dan mengatur menu yang dapat menjaga tubuh tetap segar selama dalam perjalanan.

Keterampilan teknis menjelajah itulah yang paling mendesak untuk diketahui dan dikuasai, karena pengetahuan dasar yang dibutuhkan dalam penjelajahan sudah melekat dalam kurikulum Departemen Pendidikan Geografi IKIP Bandung saat itu, seperti matakuliah: Geologi, Tektonika, Geologi Ekonomi, Geomorfologi, Klimatilogi, Oseanografi, Peta dan Pemetaan, Antropologi, Sosiologi, Geografi Perkotaan, Geografi Pedesaan, Geografi Budaya, Geografi Pariwisata, Geografi Tumbuhan, Geografi Hewan, dll.

Karena Jantera merupakan organisasi pencinta alam yang berada di ceruk kampus yang dalam, maka Jantera menjadi organisasi yang tumbuh seperti pohon cantigi di puncak gunung. Tetap tumbuh dalam segala keterbatasan dan terpaan kabut, angin, dan gas gunungapi setiap waktu. Inilah yang mematangkan para anggotanya, yang membuat mereka menjadi melebur, seolah tak ada individu-individu anggota, yang ada hanyalah mahasiswa Jantera yang menyatu, terpatri sebagai saudara yang tak terpisahkan lagi.

Jantera itu tidak sekedar wadah bagi para mahasiswa yang berminat untuk mengembara, tapi lebih sebagai busur, sebagai sejata untuk yang meluncurkan impian-impian pengembaraan. Maka dipilihlah nama Jantera yang berarti cakram, alat, mesin, atau alat untuk menembakkan panah, tombak, atau peluru. Karena hanya anggotanya yang terus menempa diri, yang terus bergerak, yang terus “menggasing”, merekalah yang akan mewujud sebagai anggota dengan kemampuan yang terus “membundar”, “membulat”, dan, itulah wujud pencapaian yang terus diperjuangkan. Itulah yang membuat Jantera bertahan selama 40 tahun. Semoga terus bergerak dinamis, agar mampu melakoni masa kini dan masa depan yang semakin kompleks.

Sudah menjadi kebutuhan bagi seorang Jantera untuk menuangkan apa yang dirasakan, didengar, dilihat, dan dilakoninya itu dalam catatan perjalanan. Sudah tiga buku yang diterbitkan dalam rentang waktu 40 tahun, yaitu buku “Menembus Buana”, “Bandung Dilingkung Gunung”, dan awal tahun 2017, pada ulang tahunnya yang ke 40, Jantera menerbitkan buku “Meniti Cincinapi”.

Di Jantera, kebersamaan merupakan jalinan harmonis dari keragaman kemampuan khusus para anggotanya. Itulah yang membuat Jantera menjadi kuat. Secara pribadi-pribadi mereka sudah “kuat”, yang kemudian dilejitkan oleh spirit bersama dan persaudaraan yang melebihi segalanya. Bersama Jantera, semua harapan, semua mimpi-mimpi, semua tujuan, mewujud dalam pengembaraan. Jantera, semoga jaya. Jantera!*