Asep Essien

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

SIARAN langsung pertandingan sepak bola di televisi takkan bisa menghalangi para penggemar untuk hadir di lapangan. Ada kebahagiaan yang hanya dirasakan saat hadir langsung di tribun penonton. Bila menyaksikan pertandingan lewat televisi mata penonton didikte kamera, bahkan terkadang kehilangan momen penting karena kamera sedang memutar ulang momen menarik yang baru saja terjadi, saat hadir di lapangan mata penggila bola dapat secara liar melihat apa pun yang tersaji, di dalam atau pun di luar lapangan. Ketika menjadi "bonjovi" (bobotoh nonton di teve) konsentrasi penonton diganggu komentator yang kadang sok tahu, maka saat duduk di tribun penonton, seseorang bisa menjadi komentator yang hebat, yang mengomentari apa pun yang menarik perhatiannya.

Solidaritas sebagai sesama pendukung tim dan kesempatan menikmati tindakan komunikatif penonton adalah dua dari sekian kenikmatan yang hanya bisa dirasakan saat penonton hadir langsung di pinggir lapangan. Solidaritas antarpendukung bisa membuat komunikasi langsung cair saat pertama kali bertemu dan berkomunikasi. Bukan hanya saling berbagi rokok, permen, atau pun tempat duduk, tetapi bisa saling mengendalikan emosi saat peristiwa tak menyenangkan terjadi. Ketika dua sepeda motor bobotoh bersenggolan di di jalan menuju Si Jalak Harupat misalnya, 5 orang yang ada atas motor tersebut bukannya saling melotot seperti terjadi di jalan raya, melainkan hanya ketawa dan malah "tos-tos"-an "Hidup Persib".

Demikian pula saat pertandingan berlangsung, penonton bukan hanya bisa membaca pergerakan pemain (dengan atau tanpa bola), namun juga dapat menikmati ulah bobotoh yang lucu dan kadang "di luar nalar". Tindakan komunikatif, seperti teriakan, gerakan tubuh, ataupun aksesori yang dipakai untuk mengekspresikan dukungan mereka adalah ornamen kebahagiaan yang tak bisa dihadirkan televisi. Keriuhan dan gelak tawa penonton kadang tak ada hubungannya dengan apa yang terjadi di lapangan.

Kerap pula terlontar komentar tak terduga saat pemain Persib tak memuaskan hati. Ketika pemain Persib gagal menceploskan bola padahal gawang lawan sudah menganga, seorang bobotoh sontak berdiri sambil memegang kepalanya, "Gusti, borona aing belaan sumput salindung ti pamajikan, nyumputkeun duit karcis dina kopeah, kitu-kitu wae teu becus!". Penonton lain yang juga kecewa tak kalah garang berteriak, "Mangkana mun rek maen teh adus heula ngarah gampang asup!

Bagi saya, mendengar umpatan dan melihat ekspresi wajah bobotoh seperti itu, sama gelinya dengan membaca keluguan Karnadi Bandar Bangkong yang ngaku pinter padahal tidak bisa membedakan liter dan meter, dengan wajah yang digambarkan sebagai "Si Cepot kabur tina kotakna".

Seperti saat pertandingan resmi, "kebahagiaan komunikatif" pun dirasakan saat menyaksikan Persib latihan resmi di Lapangan Lodaya, pertengahan pekan keempat Maret 2017. Saat perhatian saya fokus kepada gerakan tanpa bola Carlton Cole, yang menurut wartawan Pikiran Rakyat dalam dua tahun terakhir hanya main selama 179 menit karena mantan pemain Chelsea tersebut didera cedera dan mengaku menjadi korban kebijakan manajer klubnya, tiba-tiba seseorang yang baru turun dari motor bergumam sambil berdesak-desakan di tengah penonton, "Waaah, ieu mah Persib teh jadi Persib-batur". Saya sontak menoleh ke arah sumber suara, dan tersenyum. Tetapi wajah penonton di depannya tampak ketus. Entah karena tidak setuju dengan apa yang dikatakannya, atau karena kenikmatannya terganggu karena badannya terdorong ke depan. 

Namun, celoteh penonton tersebut tidak sampai di sana, tanpa menghiraukan reaksi penonton di kanan-kirinya, ia berujar kembali, "Mana si Asep Essien geus ngilu latihan acan?”. Penonton di sekitarnya kontak tertawa, dan seolah diberi amunisi, guyonannya tambah ngaco, "Dari pada nyewa bodyguard, ceuk aing mah mending daftar jadi paguyuban Asep-Asep tah di Essien teh ngarah geura jadi idola ibu-ibu." 

Ups, pake bawa-bawa gender segala. Tapi itulah potret dialog di pinggir lapangan. Ruang sempit di tribun penonton adalah medan terbuka ekspresi bebas lepas. Kesegaran heureuy Bandung seolah menjadi hawa murni yang tertiup menyapu hawa panas yang diembuskan pilkada, menghalau bau amis senyum penuh kepalsuan wanita pemohon doa pelanjut kuasa politik sang suami petahana.

Menjelang digelarnya Liga I 2017 menjadi pembuka era baru Persib. Deretan nama Robby Darwis, Ajat Sudrajat, Sobur, Kapten Adeng sudah lewat. Era "pemain impor" Sutiono atau Wolter Sulu, sudah berakhir. Kini deretan nama pemain yang "sulit diejah" berderet, meski nama-nama mereka mudah terlupakan karena prestasinya tidak menonjol. Di antara nama-nama asing yang pernah singgah di Persib, mungkin hanya Konate, Vlado, Sergio, atau Kosin yang cukup dikenang.

Sebuah era yang mengatrol popularitas Persib dan Indonesia di kancah dunia, yang dari sisi transfer pemain mendekati klub-klub elite di Amerika, yang kerap menjadi "pelabuhan" pemain top Eropa ketika liga di Benua Biru tak lagi membutuhkan tenaga mereka. Kebijakan marquee player (pemain bintang berkelas dunia) bila diteruskan, bisa jadi menambah alternatif bagi Rooney, Eden Hazard, atau Cristiano Ronaldo kelak ketika performa mereka tidak lagi cemerlang seperti sekarang, untuk tidak pergi ke Amerika seperti David Beckham, tapi merapat ke Bandung, Surabaya, atau Samarinda.

Karena itu, saya tidak menghubungkan kedatangan Essien, Cole, dan pemain bintang lain dengan prestasi sepak bola nasional. Namun, terlalu lebay pula bila kedatangan mereka tidak disambut harapan apa pun. Mudah-mudahan masih ada tenaga yang tersisa, dan antusiasme penonton memacu adrenalin Essien dan Cole, sehingga kehebatan mereka bukan hanya tertulis di dalam buku sejarah klub Eropa, tapi masih bisa dinikmati di lapangan.

Perekrutan Essien telah membuat Persib menjadi topik hangat di jejaring media sosial. Sisi komersial klub dan kompetisi akan terdongkrak, demikian juga usaha pembuatan jersey pemain akan terangkat. Tanggal 15 April 2017, saat liga dimulai dan Persib akan bertemu Arema, menjadi hari paling ditunggu, bahkan oleh fans Persib yang tinggal di Betawi sekalipun, yang tiap hari dicekoki hoax pilkada.

Namun, ibarat syair dalam bahasa Arab, anna khuthubaha arafansu sanjaa al dahri idza, syurra minha janibu sa’a janibu (kutahu kebiasaan massa, jika kita dibuat gembira di satu sisi, kita juga dibuat gagal/sedih di sisi lain), selain membangkitkan gairah kompetisi, kedatangan marquee players juga bisa menjauhkan target timnas menjadi juara dunia.

Orientasi klub yang berpaling ke kancah Eropa terlalu jauh dalam kamus prestasi timnas. Untuk bicara di pentas dunia, timnas harus bisa menekuk Malaysia, Myanmar, atau Thailand. Bila lolos, masih harus berhadapan dengan Jepang, Korea Selatan, atau beberapa tim Timur Tengah.

Bila bicara prestasi, mestinya raja-raja lokal ditaklukan dulu, sebelum berkelana ke benua biru. Jargon diplomatik berlaku di sini, if you want to beat them, joint them, bila Anda ingin mengalahkan tim-tim Asia Tenggara dan Asia, bergabunglah dengan mereka. Bila ingin merajai Asia, dorong pemain nasional berlaga di kompetisi Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Timur Tengah.

Di sisi lain, kedatangan marquee players pasti merampas kesempatan bermain pemain lokal. Fakta menunjukkan, gemerlap kompetisi nasional tidak berbanding lurus dengan kejayaan timnasnya di kancah dunia. Siapa yang tidak kenal Liga Inggris atau Italia, tapi timnas kedua negara ini kerap tertatih-tatih dalam Piala Dunia. Siapa yang tahu Liga Cile, namun timnasnya berjaya di Piala Dunia. Bahkan, pada 1992 Prancis dikalahkan Senegal, sebuah negara yang nyaris tak terdengar, hanya karena para pemain Senegal menguasai jam bertanding Liga Prancis.

Dalih, sekali lagi dalih peningkatan prestasi pemain lokal diwujudkan lewat keharusan menampilkan pemain muda minimal 45 menit. Alih-alih berkontribusi bagi pembinaan pemain muda, kebijakan ini kontradiktif dengan keputusan membolehkan marquee player demi mendongkrak kualitas kompetisi.

Dalam pandangan penonton seperti saya, kedewasaan pemain tidak bisa dikarbit, dipaksakan bermain dengan pemain senior, karena penguasaan teknik dan profesionalisme bertanding bukan template yang bisa dicopy-paste. Alih-alih terbawa "moncer", ketidaksiapan klub menampilkan pemain muda hebat malah bisa membuat iklim kompetisi tetap kendor. Lihat saja pertandingan babak pertama Piala Presiden, banyak pemain muda seperti tengah belajar berlari, mengumpan, dan menggiring bola.

Di sisi lain, stok pemain senior pun tidak bertambah. Yang muncul itu-itu saja. Dari tahun ke tahun tak banyak bertambah, hanya kostum yang berubah, atau gaya rambut yang berbeda. Tak heran bila top scorer Piala Presiden 2017 pun digaet pemain "gaek".

Inilah masalah klasik pembinaan sepak bola di tanah air. Kita gagal mentransformasi popularitas sepak bola menjadi simpul kekuatan prestasi olah raga nasional. Ketergesaan dan tindakan menyederhanakan persoalan sering melupakan keharusan menggelar kompetisi berkala dan berjenjang. Ujung-ujungnya, bibit-bibit muda potensial tak tergarap, mesin industri olah raga menggilas pembibitan pemain, liga nasional menjadi halaman belakang pemain asing, sementara lapangan sepak bola yang tersebar di desa-desa berubah menjadi perumahan, atau tempat gembalaan sapi.***