Batukaras

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

KARS dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Inggris karst, untuk menggambarkan bentang alam di daerah batu gamping atau dolomit. Di atmosfer dan di dalam tanah terjadi kontak antara air meteorik atau air hujan dengan karbon dioksida menjadi asam, yang dapat melarutkan batu gamping. Bentukan-bentukan hasil pelarutan itu dapat berupa celah, rongga, ceruk, goa, sampai goa atau sungai bawah tanah yang besar.

Karst sebagai istilah diambil dari nama geografi Kras di kawasan kapur yang tandus, di dataran tinggi di sekitar Trieste. Pada tahun 1894, istilah karst pertama kali digunakan oleh ahli geologi, dengan merujuk pada bentang alam yang sama. Kata ini merupakan bentuk Jerman Slovenia kras.

Sesungguhnya, di pantai Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ada nama geografi Batukaras, yang menunjukkan makna daerah kapur atau batukarang. Di kawasan Batukaras dan sekitarnya, bentukan-bentukan sebagaimana lazimnya di kawasan kars, seperti terdapatnya ceruk-ceruk, goa, dan sungai bawah tanah, yang terjadi karena proses pelarutan.

Memahami asal-usul bahasa, bagaimana penutur bahasa itu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya, meninggalkan jejak bahasa dengan akar kata yang sama. Ada kata karas yang kemudian menjadi nama geografi Batukaras di Pangandaran, dan ada kata kras yang kemudian menjadi nama geografi di Trieste.

Sekarang, Batukaras dan daerah lain di sana, yang kawasannya berupa karas, sudah menjadi tujuan wisata alam yang banyak dikunjungi. Pantainya menyediakan ombak yang baik bagi pengunjung yang menggemari selancar. Wisata hutan mangrove di Batukaras telah dikembangkan menjadi tujuan wisata sekaligus upaya melestarikan hutan mangrovenya.

Aliran sungai berbatukaras, terus digali dan dikembangkan menjadi tujuan wisata oleh warga, seperti yang dikembangkan menjadi atraksi wisata di tiga tempat. Pertama atraksi wisata sungai di Citumang, yang berada paling hilir dari aliran Ci Tonjong, kedua yang berada di tengah alirannya, yaitu di lembah Jojogan, dan yang ketiga paling hulu di Santirah.

Di Jojogan, wisatawan dapat menikmati pemandangan dari atas bukit kapur yang rindang. Daya tarik utama Jojogan adalah berenang di sungai dan masuk ke dalam sungai bawah tanah dengan bentukan-bentukan seperti lazimnya di dalam goa kapur, seperti adanya stalaktit di langit-langit goa, serta tebing goa yang megah.

Para pengunjug dapat menelusuri goa atau sungai bawah tanah yang gelap. Namun, di dalam kegelapan itu terdapat penerangan alami dari gua sumuran yang atap goanya roboh, membentuk lubang tegak lurus yang besar. Di langit-langit goa terdapat ribuan lalay, kelelawar kecil pemakan buah-buahan. Petang menjelang magrib, dari mulut goa di permukaan, tak jauh dari jalan, berribu lalay yang terbang keluar goa untuk mencari makanan.

Wisatawan masuk dari arah hilir sungai bawah yang sudah dipasangi tambang, menjadi pemandu arah sekaligus pegangan saat berenang menelusuri sungai bawah tanah. Bagi yang berani dan berminat untuk meloncat dari pelataran goa yang tingginya 7 meter, 5 meter, dan 2 meter.

Bila mundur 17-10 juta tahun yang lalu, kawasan ini terangkat dari dalam laut dangkal secara evolutif, kemudian muncul ke permukaan, batuannya di antaranya batu gamping atau batu karas. Sejak terangkat itulah kawasan ini menerima pangaruh menerima pengaruh panas matahari dan air hujan. Proses pengangkatan dan proses pelarutan batukapur terus berlangsung, kemudian membentuk lembah yang dalam, melarutkan batukapur membentuk goa kapur, baik yang vertikal maupun yang horizontal, dengan kemiringan ke arah selatan, membentuk goa mendatar yang panjang, kemudian menjadi sungai bawah tanah ketika jumlah airnya melimpah. Bila atap goa atau sungai bawah tanah ambruk, akan membentuk ronabumi berupa lembah atau sungai dengan lereng tegak yang curam. Ronabumi itulah yang kini dikelola menjadi daerah tujuan wisata sungai oleh masyarakat.

Jauh sebelum Jojogan dikembangkan, sudah terlebih dahulu dikelola, yaitu di aliran Ci Julang. Wisatawan dapat menyusuri sungai sampai jembatan alami atau Cukangtaneuh. Kawasan ini jutaan tahun yang lalu, merupakan sungai bawah tanah bagian hilir yang menerobos batu gamping sepanjang 9 kilometer. Langit-langit goanya ambruk menjadi aliran sungai yang terbuka di aliran Ci Julang, menyisakan atap goa kapur yang sempit, tebalnya 4 – 5 meter. Pada masa lalu, bagian inilah yang oleh warga dijadikan jembatan penghubung antar kampung sehingga dinamai Cukangtaneuh.

Kawasan kars dengan goa-goanya, kini banyak dikelola menjadi daya tarik wisata, kemudian masyarakat setempat berinisiatif mengembangkannya menjadi tujuan wisata alam.

Dunia akademis di Indonesia menyerap istilah karst menjadi kars. Di Pangandaran, Jawa Barat, ada nama geografi Batukaras. Sesungguhnya wajar, bila karas menjadi padanan untuk karst, bukankah istilah karst juga semula berasal dari nama geografi Kras di sekitar Trieste?***