Gubernur Sancho

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

DALAM perjalanan antara Palabuanratu dan Sukabumi, baru-baru ini, selintas terlihat oleh saya selembar spanduk di tepi jalan. Isinya memamerkan seorang figur yang dikatakan siap maju untuk jadi gubernur.

Reklame politik adalah hiburan tersendiri buat saya. Kelokan tajam dan lubang-lubang aspal di sepanjang jalansejenak dapat dilupakan. Gambar dan tulisan politik adalah pelarian tersendiri dari komponen power steering yang bocor begitu kami turun dari belantara berkabut Gunung Halimun.

Saya teringat pada roman beken karya Miguel de Cervantes, Don Quixote. Itulah kisah tentang seorang pria majenun berumur 50-an tahun yang begitu doyan membaca roman dan melihat dirinya sebagai ksatria pengembara. Spanduk tadi mengingatkan saya pada bagian yang menceritakan hasrat Sancho Panza, tetangga dan pengikut setia Don Quixote, untuk jadi gubernur.

”Sancho Panza menunggang keledai kesayangannya seperti seorang patriakh, lengkap dengan sepasang tas pelana, berselempang kantung kulit, dan hasrat melambung untuk segera menjadi gubernur di sebuah pulau sebagaimana yang telah dijanjikan oleh tuannya,” begitu kata si empunya cerita sebagaimana yang diinggriskan oleh Edith Grossman.

Itu dia gubernur yang sangat menakjubkan. Sosoknya pendek.Sikapnya bersahaja. Ia tak bisa membaca. Sancho Panza bagi Don Quixote tak ubahnya dengan Marjum bagi Karnadi --- teman dalam suka dan duka, sahabat dalam gila dan waras, pengikut setia yang tak mudah patah.

Pada mulanya, melalui Sancho Panza, kita seakan diajak membedakan antara apa yang nyata dalam pikiran pembaca dan apa yang khayal dalam pikiran Don Quixote. Misalnya, kita melihat kincir angin yang dalam pikiran Don Quixote adalah raksasa berpedang.

Namun, pada gilirannya, batas antara apa yang nyata dan apa yang khayal itu seakan menghilang, khususnya ketika Sancho diyakinkan oleh tuannya bahwa pada suatu hari nanti, “dalam sekejap mata”, sang ajudan bakal jadi gubernur di sebuah pulau. Kata Don Quixote, sudah lazim bagi seorang ksatria yang berhasil dalam perjuangannya untuk memberikan jabatan gubernur, bahkan lebih dari itu, kepada ajudannya. Sancho percaya, bahkan sepertinya terobsesi oleh impiannya sendiri.

“Bukannya serakah jika saya ingin meninggalkan gubuk saya atau bangkit meraih keadaan yang lebih baik, melainkan saya harus mencoba kehendak saya dan mengalami seperti apa rasanya jadi gubernur,” tutur Sancho.

Kita mengikuti perkembangan cerita sang ajudan, terutama dari Bab ke-44 dan seterusnya. Dalam perkembangan cerita, kita mengikuti perjalanan Sancho yang diiringi banyak orang keDesa Barataria yang dalam penglihatannya merupakan pulau tempat dia mewujudkan impiannya sebagai gubernur.Itulah “Insula Barataria”.

Macam-macam orang, dari penjahit hingga petani, dari anak pengumpul pajak hingga ilmuwan, datang menghadap kepada Senor Gubernur buat menceritakan kehidupan masing-masing. Gubernur Sancho menghadapi mereka satu demi satu dengan penuh kesungguhan.

Tentu saja, Sancho tidak benar-benar jadi gubernur. Pengalamannya di “Insula Barataria” adalah semacam dunia khayal, sesuatu yang tercipta dari akal-akalan sejumlah orang yang sepertinya hendak menyalurkan kegilaannya.

Namun, rupanya, hal itu tidak penting bagi Sancho. Simak, misalnya, bagian akhir cerita ketika Don Quixote menyampaikan wasiatsebelum wafat, menuturkan kata-kata penghabisan setelah begitu banyak petualangan.

“Dan jika, ketika saya gila, saya menjanjikan padanya jabatan gubernur di pulau itu, sekarang, setelah saya sadar, sekiranya saya dapat memberinya jabatan gubernur dalam sebuah kerajaan, saya akan melakukannya, sebab kesederhanaan dalam tabiatnya dan kesetiaan dalam tindakannyamembuat dirinya layak untuk itu,” ujar sang ksatria linuhung dari alam roman tentang rekan seperjalanannya.

Apa kata Sancho? Ini dia: “kegilaan terbesar yang bisa dilakukan oleh seseorang adalah membiarkan dirinya mati”. Sancho tak mau tuannya mati. Ia tak suka melankoli.

Saya sendiri, bersama teman saya yang memegang setir, meneruskan perjalanan dari Sukabumi ke Bandung, malam hari, dengan sekitar lima liter oli. Itulah solusi darurat buat power steering yang bocor.***