Gunanya Pala

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SETAHU saya, penemu nama “Palaguna” --- juga “Babakan Siliwangi”--- adalah mendiang penyair Wahyu Wibisana.  Jika “Babakan Siliwangi” ia alamatkan kepada sebuah ceruk hutan di Lebak Siliwangi, “Palaguna” ia lekatkan pada sebuah bangunan komersial di seberang timur Alun-alun Bandung.

Pada 1980-an, sebagai anak kampung, saya berkunjung ke Palaguna, buat sekadar merasakan sensasi eskalator alias tangga berjalan. Tidak cukuplah uang saya buat belanja, makan-minum, atau menonton film di situ. Jadi, gunanya Palaguna buat saya ketika itu adalah untuk berjalan tanpa harus melangkah. Itu saja.

Hari ini Palaguna sudah tiada. Bangunannya yang dulu mentereng sekarang lenyap dari lanskap. Para aktivis lingkungan serta pegiat lain yang menggandrungi hutan menyebut tempat itu “eks-Palaguna”. Tentu, “eks” itu berarti “bekas”. Sebutan demikian menyadarkan saya bahwa bangunan beton yang dulu penuh cahaya, suara, dan aroma sebagai pembentuk atmosfer pusat kota sungguh mudah jadi sejenis barang bekas.

Sekali pernah saya ikut memarkir mobil di lahan bekas Palaguna. Ada semacam pos jaga di pintu masuk. Pagar sementara dari semacam lembaran besi menghalangi pandangan ke alun-alun. Tanahnya terbuka, coklat kemerahan, dengan debu mengepul tiap kali angin bertiup. Segera timbul kesan darurat. Suasananya seperti daerah konflik. 

Baru-baru ini, pada hari Minggu, saya bersepeda ke situ. Alih-alih selfie, saya memotret sepeda kesayangan dengan latar belakang tabir besi yang menutupi lahan bekas Palaguna. Bobotoh Persib menerakan grafiti di situ. Saat itulah, sambil melepas lelah, saya berupaya menyadari bahwa Bandung hari ini adalah kota yang tidak punya alun-alun.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “alun-alun” adalah tanah lapang yang luas di muka keraton atau di muka tempat kediaman resmi bupati, dan sebagainya”. Memang, jika kita mengacu pada arti harfiah itu, Bandung masih punya semacam alun-alun. Namun, ada baiknya kita juga mengacu pada pengalaman kolektif di berbagai tempat. Berdasarkan pengalaman, istilah “alun-alun” mengacu kepada tanah lapang yang lazimnya ditumbuhi rerumputan hijau lengkap dengan waringin yang menjulang dan teduh.

Tempat yang hari ini disebut “Alun-alun Bandung” sebetulnya telah jadi semacam halaman bangunan. Di bawah halaman itu, dalam semacam ruang bawah tanah, tempat bisnis parkir. Jalan Dewi Sartika yang dulu melintas ke depan masjid sudah lama terpotong. Adapun halaman rumput telah diganti dengan semacam karpet berupa hamparan rumput sintetis. Mana mungkin waringin tumbuh di situ? Dengan demikian, adjektiva “hijau” dalam istilah “ruang terbuka hijau” diterjemahkan secara artifisial.

Di tengah kecenderungan kota memelencengkan hijaunya tetumbuhan alamiah dengan permainan aneka citraan artifisial, saya setuju seratus persen dengan tuntutan banyak warga untuk memulihkan lahan bekas Palaguna menjadi hutan kota. Bahkan ada baiknya kita tegaskan istilahnya: “hutan kota”, yakni hutan di tengah kota. Setidaknya, “hutan kota” terasa lebih tegas ketimbang istilah “ruang terbuka hijau” yang mudah diakali itu.  

Birokrat kota dan provinsi tidak usah berkelit dengan “aturan”. Setidaknya, “aturan” itu, terlebih-lebih yang menyangkut ruang publik, mesti senantiasa menenggang kesepakatan atau aspirasi publik itu sendiri. Bahwa birokrat pemerintahan konon telah membikin komitmen dengan korporasi Lippo, melalui PT Titah Raja Jaya, yang hendak mendirikan bangunan komersial di atas lahan tersebut, hal itu toh belum tentu menyangkut kepentingan warga terbanyak. Saudara berpihak ke mana: Titah Raja ataukah tuntutan warga?

Itulah yang terlintas dalam benak saya ketika tertarik oleh istilah “Palaguna” tanpa mengurangi rasa hormat dan kekaguman saya terhadap penyair yang telah menemukannya. Saya membayangkan, di atas lahan bekas Palaguna, kelak tumbuh sekian pohon pala (Myristica fragrans), yang batangnya bisa menjulang hingga 20 meter dengan banyak cecabang dan daun-daun rimbun. Saya membayangkan hutan dan kota berpeluk-pelukan.

Kalau hutan tidak dipulihkan, mungkin saya harus memungut istilah “pala” dari teman saya yang berbahasa ibu Betawi. Kalau dia mengumpat, sering saya dengar dia mengucapkannya, “palé”. Saya juga merasa perlu meneladani komunitas “Slankers” yang hari ini menyambut album baru Slank yang tajuknya berbunyi, “Pala Lu Peyank”. Itulah ungkapan yang mereka gunakan buat menghardik orang-orang yang menampik kebaikan.***