Bila Pasokan Sembako Terputus

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

MOGOK berjamaah para sopir angkutan kota (angkot) dan sopir taksi di Kota Bandung, diikuti oleh para sopir angkot dari luar Kota Bandung yang rutenya masuk ke Kota Bandung, seperti dari Soreng, Banjaran, Majalaya, Lembang, Cimahi, dan Ujungberung. Selama satu hari penuh, Kamis, 9 Maret 2017, di jalanan Kota Bandung tak ada angkot yang menarik penumpang. Mereka berdiam di garasi, di pinggir jalan, atau diparkir di terminal. Walau demo sudah berakhir, tak ada satu pun angkot yang berani jalan. Semua saling menunggu, dan tak ada yang berani memulai.

Ketika sopir angkot berdemo menuntut dihapuskannya izin ojeg dan taksi berbasis aplikasi, sehingga tidak ada satu pun angkot yang menarik penumpang, maka rakyat bangkit untuk melayani warga kota yang membutuhkan mobilitas. Yang memiliki motor, menyediakan diri menjadi tukang ojeg dadakan, sehingga penumpang yang menuju Kota Bandung dapat terlayani dengan baik. Bus kota tetap jalan untuk beberapa rute, walau untuk rute terminal Leuwipanjang – Dago sempat terhenti cukup lama. Demo yang tidak berdampak pada lumpuhnya mobilitas warga kota. Yang berkantor tetap hadir, anak-anak sekolah tetap belajar. Yang berbelanja di pasar-pasar tetap berjalan dengan normal.

Pertanyaan susulannya, bagaimana bila demo terjadi menyeluruh, semua moda transportasi yang masuk ke Kota Bandung berhenti total tak ada kecuali? Bagaimana kalau akses masuk Kota Bandung melalui pintu-pintu keluar jalan tol dan jalan biasa melalui Padalarang, Soreang, Dayeuhkolot, Ujungberung, Cileunyi, semuanya dijaga penguasa perang kota, misalnya, sehingga para pemasok sembilan bahan pokok, yang terdiri dari berbagai bahan makanan dan minuman yang secara umum sangat dibutuhkan masyarakat, tidak dapat masuk memasok ke pasar-pasar. Tanpa sembako, kehidupan warga kota akan terganggu, akan terjadi kekacauan, karena sembako merupakan kebutuhan pokok yang utama, yang harus ada setiap hari dan dijual secara bebas.

Kesembilan bahan pokok itu adalah: beras dan sagu, jagung, sayur-sayuran dan buah-buahan, daging sapi dan ayam, susu, gula Pasir, garam beriodium, minyak goreng dan margarin, minyak tanah atau gas elpiji.

Bila pertanyaannya dirinci, berapa jumlah pasokan sembilan bahan pokok yang masuk ke Kota Bandung setiap harinya? Berapa ton beras, berapa ton sayur-sayuran dan buah-buahan, berapa ton daging sapi, kambing, ikan, dan ayam, berapa liter susu, berapa ton gulapasir/gula merah, berapa kuintal garam beriodium, berapa ton minyak goreng dan margarin, berapa drum minyaktanah, dan berapa ribu ton gas elpiji?

Selama ini Pemerintah Kota Bandung bisa tidur nyenyak, dan warganya bisa berkehidupan dengan nyaman, karena belum pernah ada kejadian katastropik, yang menyebabkan pasokan sembilan bahan pokok dari luar Bandung yang setiap hari memasok kebutuhan bagi warga kota Bandung itu terhenti secara total.

Apa yang akan dilakukan Pemerintah dan warga Kota Bandung bila pasokan beras gagal masuk ke pasar-pasar? Jangan-jangan, untuk membuat kerusuhan yang paling ampuh di kota-kota besar yang kebutuhan pokoknya sangat tergantung pada pasokan dari luar kota, yaitu dengan cara memutus hubungan secara total bagi jalan masuk sembako yang sangat dibutuhkan warga kota.

Apakah sudah ada pendekatan antar pemerintahan, misalnya dengan beberapa pemerintah daerah yang secara rutin menjadi pemasok sembako, agar mereka dapat terus menjadi pemasok sembako ke Kota Bandung?

Bila dibuat ekstrim, misalnya, kepada para pemasok sembilah bahan pokok di berbagai daerah itu ditawari harga yang jauh lebih tinggi, sehingga yang biasa memasok sembako ke Kota Bandung mengalihkan pasokannya ke kota lain, karena secara dagang, labanya sangat menggiurkan, sehingga jauh lebih menguntungkan. Bila itu yang terjadi, apa yang akan dilakukan, dan apa yang akan dilakukan sebelum hal itu terjadi?

Kota-kota besar seperti Bandung yang sangat bergantung pada pasokan sembako dari berbagai daerah, akan menjadi sangat rentan terhadap gangguan keamanan. Inilah kenyataan, suatu ketika nanti, punya uang saja tidak cukup bila tidak disertai dengan hubungan baik, bila tidak dengan kerjasama yang saling menguntungkan dan saling menghormati, yang mendudukan pemasok di posisi yang wajar, tidak sekedar dijadikan alat, bahwa mereka, para pemasok itu, membutuhkan pasar bagi komoditasnya.

Suasana yang harmonis harus diciptakan antara yang berjualan di pasar dengan para pemasok. Saat ini pedagang di pasar masih berperan sebagai pembeli yang pura-pura tidak butuh, sehingga barang dari daerah sering tertahan di pasar. Dengan perhitungan dari pada busuk, maka dijuallah dengan harga murah. Taktik itulah yang dapat menekan harga sampai dasar, namun cara-cara dagang seperti itu yang akan membahayakan di masa depan. Sebab, bila harga beli sembako di tempat lain jauh lebih tinggi, maka para pemasok akan menggeser pasokannya ke pasar lain yang lebih baik.*