"Urang" Itu Kita

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

BAHASA Indonesia membedakan "kita" dari "kami" sebagai kata ganti orang pertama jamak. "Kita" inklusif, "kami" eksklusif. "Kita" terbuka, "kami" tertutup. Itulah cerminan dua cara menghadirkan diri-kolektif.

Mendiang Fuad Hassan menelaah kedua modalitas itu dalam bukunya, "Kita and Kami: An Analysis of the Basic Modes of Togetherness" (1975). Telaah di bidang psikologi itu antara lain menekankan bahwa "in the mode of Kita, the being togetherness with others is established in the atmosphere of mutuality" sedangkan "the Kami mode of togetherness can be described as a We vis-a-vis a third person as its essence."

Dengan kata lain, kalau saya tidak keliru tangkap, "kita" cocok buat berteman, sedangkan "kami" cocok buat bertengkar. 

Sewaktu berhadap-hadapan dengan Belanda, juga Jepang, patriot Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dengan kata "kami". Sewaktu menyapa sesama orang Indonesia, Bung Hatta memakai frase "demokrasi kita".

Dalam bahasa Inggris orang cukup memakai "we". Itulah yang sering menyulitkan saya ketika menerjemahkan teks Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Haruskah saya mengalihbahasakan "we" menjadi "kami", ataukah menjadi "kita"?

Syukurlah, dalam bahasa ibu saya, orang tidak usah repot-repot memakai kata ganti orang pertama jamak yang eksklusif seperti "kami" dalam bahasa Indonesia. Memang, bahasa Sunda juga mengenal "kami" dan "kita" tapi maknanya berbeda dengan makna kata-kata yang sama dalam bahasa Indonesia. 

"Kami" dalam bahasa Sunda hari ini sama dengan "kuring", "abdi", "aing", "déwék", "kaula", dan "ana", yang artinya "saya". Kami dalam bahasa Sunda adalah kata ganti orang pertama tunggal. 

Kalaupun dalam bahasa Sunda "kami" bisa juga jadi kata ganti orang pertama jamak, sebagaimana dalam bahasa Indonesia, hal itu kiranya hanya lazim dalam bahasa Sunda Kuna. Dalam "Tiga Pesona Sunda Kuna" (2009), yang saya terjemahkan dari bahasa Inggris, J.J. Noorduyn dan A. Teeuw menerangkan, "Kata ["kami"] ini adalah satu-satunya kata ganti tunggal yang juga digunakan sebagai kata ganti orang pertama jamak (eksklusif)."

Adapun "kita" dalam bahasa Sunda Kuna, menurut Kamus Danadibrata, sama dengan anjeun yang artinya "engkau" atau "anda".

Kata ganti orang pertama jamak yang lazim dipakai dalam bahasa Sunda hari ini bersifat inklusif. Itulah "urang" yang sepadan dengan "kita" dalam bahasa Indonesia.

"Urang" sering pula dipakai sebagai kata ganti orang pertama tunggal dalam komunikasi sehari-hari. Contoh: urang mah ti Cisalak, ari manéh urang mana? Betapapun, pada hemat saya, nilai rasanya tetap terbuka. 

Selain mengandung arti yang sama dengan "kita" dalam bahasa Indonesia, "urang" juga sepadan dengan "orang", yang lazim digunakan untuk menunjuk identitas budaya (urang Sunda) atau penduduk tempat tertentu (urang Cisalak). Kata ini juga bisa dipakai dalam kaitan dengan ajakan atau niat melakukan sesuatu, sebagaimana kata “cuang” dalam beberapa dialek. Contoh: hayu urang/cuang sami-sami tumpak sepédah.

Hari ini, ketika Donald Trump memerintah dengan membangun pagar, ketika Geert Wilders menghina orang Maroko, dan ketika sejumlah kerumunan di Indonesia sibuk bikin aksi, saya merasakan pentingnya cara menghadirkan diri-kolektif yang disebut "urang" dalam bahasa Sunda dan "kita" dalam bahasa Indonesia. 

"Urang" adalah saya dan anda, aku dan engkau, yang hadir bersama di dunia, saling menghargai, berbagi suka dan duka.***