BAB di Alam Terbuka

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

INILAH bahasan tentang hal yang sering disebut jorok, tapi harus disampaikan karena penting. Sesungguhnya alamiah bila seseorang ingin buang air besar (BAB). Tidak terkecuali pada saat di alam bebas. 

Karena berkegiatan di alam bebas itu memerlukan asupan makanan yang baik, maka, pasti ada kotoran yang harus dibuang. Bila jumlahnya hanya beberapa orang saja, dengan siklus waktu kedatangan yang lama, maka hal itu tidak terlalu menghawatirkan. Namun, akan menjadi masalah bila yang datang ke alam terbuka itu dalam jumlah yang besar, maka perlulah ada pengenalan terlebih dahulu bagaimana tata cara BAB di alam terbuka yang benar.

Sebagai contoh kasus, pada bulan Agustus 2016, lebih dari 3.000 orang pendaki berada di puncak Gunung Guntur, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Bila mendaki gunung tidak mendapatkan edukasi terlebih dahulu, misalnya tentang bagaimana BAB di gunung, maka yang terjadi adalah puncak-puncak gunung akan menjadi toilet terbuka yang menyebarkan bau busuknya ke mana-mana.

Untuk mengetahui bagaimana orang lain di negara lain melakukan hal ini dengan penuh kedisiplinan, pada Senin 13 Februari 2017, saya sengaja menemui D Jumardi dan Randi Roswenda, keduanya alumni Pacific Northwest Trip Leader Course di Kanada. Saya mencatat pengalaman mereka belajar tentang filosofi dan teknik hidup di alam bebas, satu bagian terkecil tapi penting dalam kursus, yaitu tentang bagaimana tata cara BAB di lapangan. 

Setiap kelompok kecil, atau menjadi perlengkapan pribadi, wajib membawa skop kecil yang kuat yang berguna untuk menggali lubang yang akan dijadikan tempat BAB. Inilah cara yang selama ini banyak diterima oleh berbagai kalangan. Di daerah tropis yang lembap, kotoran yang dikubur akan cepat dihancurkan.

Lokasi galian untuk BAB itu harus harus dipilih dengan baik, letaknya sekitar 60 meter dari mata air, sungai, jalan, tempat berkemah, dan dari tempat lainnya, yang bila terjadi hujan, memungkinkan kotoran itu terbawa hanyut dan akan masuk ke arena perkemahan. Tempatnya harus tersembunyi, tak mungkin oleh orang lain dijadikan jalan setapak atau menjadi lokasi berkemah oleh pendaki yang lain. 

Di gunung api di Indonesia, tak susah untuk membuat lubang dengan ukuran 20x20x20 cm, karena tanah pucuk atau tanah organiknya cukup tebal menutupi lereng-lereng gunung. Pilihannya lebih baik di tanah pucuk daripada di pasir. Tutup kembali lubang itu sampai rata dan padat-kuat, agar tidak tercium aromanya ke luar, yang dapat mengundang hewan untuk membongkarnya sehingga kotoran tercecer ke mana-mana. 

Namun, bila jumlah pendaki begitu banyak, mencapai ribuan orang, perlu dicari tata cara yang paling baik, agar BAB di alam bebas itu menjadi berkah yang ikut menyuburkan tanah, bukan menjadi penebar busuk yang mencemari kesucian gunung. Begitu pun tentang bagaimana tata cara buang air kecil atau kencing. Perlu pengaturan yang baik, agar arena berkemah tidak berubah menjadi tempat yang bau pesing.

Pengetahuan dan keterampilan teknis yang diperoleh selama kursus di sana, ada hal yang penting dan mendasar dari kegiatan di alam bebas adalah sesedikit mungkin meninggalkan jejak kehadiran penjelajah di alam terbuka. Pendaki gunung, pastilah akan berada di hutan selama dalam pendakian. Oleh karena itu, sikap hormat dan bersahabat dengan alam adalah hal yang harus selalu dipertahankan. Bagaimana hutan menjadi sumber daya alam yang dapat diperbaharui, sumber udara bersih, rumah bagi berbagai hewan, dan tempat yang sangat indah bagi para pendaki gunung. Mengambil hanya gambar, meninggalkan hanya yang paling ringan dari jejak kaki, dan membawa pulang hanya kenangan.

Setiap peserta kursus diberi tahu materi kursus yang tertuang dalam kurikulum, waktu pelaksanaan, medan yang akan dijelajahi, peta dan kompas, dan pengetahuan tentang nutrisi untuk berkegiatan di lapangan. Semua rencana itu didiskusikan, begitu pun tentang perlengkapan dan perbekalan, semua dicek dengan baik dan teliti oleh instruktur, sampai berat ransel harus sesuai dengan perbandingan berat badan yang akan membawanya. 

Selama dalam kursus, ada instruktur yang yang bertugas membawa berbagai buku rujukan tentang keadaan medan, hayati, dan sosial budaya di daerah-daerah yang dilintasi, sehingga peserta kursus dapat membaca buku yang menjadi panduan di lapangan. Melintasi medan yang kadang berat dan sulit, tapi instruktur memberikan tip bagaimana melintasinya dengan aman dan menyenangkan, dan bisa berdiskusi. Setiap peserta diajarkan tentang nutrisi yang standar, dan cara mengemas kembali perbekalan untuk mengurangi sesedikit mungkin sampah. 

Mendaki gunung itu perjalanan suci untuk menziarahi tempat yang sudah memberikan keberkahan bagi semesta. Menjaga tempat itu tetap bersih adalah tindakan mulia.***