Luapan Cikeas

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

CIKEAS sering meluap. Banjir yang ditimbulkan oleh luapannya terjadi hampir saban tahun, menyebabkan banyak kesusahan di sejumlah wilayah. Maklumlah, menurut para ahli pengairan, panjang sungai di dekat Bogor itu lebih dari 87 kilometer dan luas daerah aliran sungai itu lebih dari 131 kilometer persegi.

Dalam sejumlah kronik peninggalan Belanda, nama "Tjikéas" tercatat pula. Dalam bukunya, "Java: Geographisch, Ethnologisch, Historisch" (1903), misalnya, P.J. Veth mencatat, De oostelijkste strook der afdeeling Buitenzorg vormt het zeer groote land Tjiteureup (Tjitrap), grooten-deels besloten tusschen de tweelingstroomen Tji Keas en Tji Leungsi, die aan de grens der afdeeling Bekasi tot de gelijknamige rivier samenvloeie" (Jalur paling timur dari wilayah Bogor membentuk wilayah Citeureup (Citerap), yang sebagian besar diapit oleh sungai kembar Cikeas dan Cileungsi, dan berbatasan dengan wilayah Bekasi).

F. de Haan, pengurus arsip Belanda yang terkemuka, juga menyinggung-nyinggung Cikeas dalam bukunya, "Oud Batavia" (1922). Dalam tulisan tentang Jakarta tempo dulu itu, ada uraian perihal sejumlah "selokan besar" (groote slokan) yang mengalir dari Bogor ke dalam kota, dan cara pemerintah zaman Gubernur Jenderal Van Imhoff mengelola aliran sungai-sungai itu.

"De groote Slokan, die tijdens Van Imhoff, uit het Buitenzorgsche naar de stad was geleid, en langs Salemba en Kramat loopt en van de Kramatbrug een eindje langs de Defensielijn, maakt daarna eene groote buiging naar het Oosten en komt zoo in de Sontarsche vaart terecht. Zij heeft dus voor de stadsgrachten nooit veel beteekenis gehad, ofschoon in 1778 de Tjikeas er in is geleid om haar te versterken. Evenzoo is in 1776 en volgende jaren de Tjisadane bij Buitenzorg in de Tjiliwoeng geleid om den stroom te verbeteren," tulis Meneer De Haan.

(Selokan besar, yang pada zaman Van Imhoff, mengalir dari Bogor ke dalam kota, dan mengalir di sepanjang Salemba dan Kramat, dan dari jembatan Kramat memotong garis pertahanan, kemudian membentuk busur besar ke timur, sehingga naik ke Sunter. Oleh karena itu tidak pernah memiliki banyak arti penting bagi kanal kota, meskipun pada 1778 Cikeas telah memperkuat kanal itu. Dengan demikian, pada 1776 dan tahun-tahun berikutnya Sungai Cisadane di Bogor memperkuat aliran Ciliwung).

Mereka yang tertarik oleh Cikeas, tidak mustahil ingin mengetahui asal-usulnya. Sayang sekali, sebegitu jauh, saya sendiri belum berhasil menelusurinya. Di telinga saya, nama "Cikeas" agak misterius, tidak seperti Citeureup yang dapat mengingatkan saya kepada nama pohon yang getahnya amat likat. Yang pasti, sebagian sumber Belanda memakai pula nama "Tjikijas" untuk menunjuk Cikeas.

Kita tahu, Cikeas bukan hanya nama sungai, melainkan juga nama permukiman. Sebagaimana sungainya tercatat dalam kronik, pemukimannya pun tidak luput dari catatan. 

Seorang teman menunjukkan Toponimi Jawa Barat: Berdasarkan "Cerita Rakyat" (2009) susunan Yayat Sudaryat dan kawan-kawan. Pada bagian yang menguraikan asal-usul nama tempat di wilayah Bogor, para penulis buku itu antara lain menerangkan, "Sejak Banten berada di bawah kontrol VOC tahun 1695, juga kekuasaan Mataram atas Priangan lepas ke tangan VOC tahun 1705, wilayah bekas ibu kota Pajajaran berada dalam pengawasan VOC. Di dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC tentu saja perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Dari ekspedisi tersebut tidak ditemukan permukiman di bekas ibu kota kerajaan, kecuali di Cikeas, Citeureup, Kedung Halang, dan Parung Angsana."

Dari sumber-sumber di atas, dapat kiranya saya katakan sedikitnya dua hal. Pertama, sebagai permukiman, Cikeas rupanya ikut menyimpan jejak kaki kalangan "kumpeni". Itulah kalangan yang tujuan utamanya mencari untung dari kaum jelata yang banting-tulang mengolah bumi. Kedua, sebagai sungai, Cikeas ikut mempengaruhi aliran sejumlah "selokan besar" di Jakarta. Kalau ia meluap, dampaknya bisa sampai ke pusat kekuasaan. Untunglah, sekarang, orang sudah tahu caranya menghadapi "kumpeni" dan sudah pandai pula membikin tanggul.***