Jalan Gedé

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

DARI rajah carita pantun, kita dapat memungut idiom jalan gedé. Baris-baris rajah-nya mudah diingat: “diteundeun di jalan gedé/dibuka ku nu ngaliwat(disimpan di jalan raya/dibuka orang lewat...)” dan seterusnya.

Apa sih yang dimaksud dengan “jalan besar” atau “jalan raya” dalam wawasan tradisi lisan? Jalan seperti apa gerangan yang dapat dibayangkandalam masa tatkala kegiatan baca-tulis belum diandalkan? Adakah itu sejenis sungai deras dan berliku yang mengalirdari kaki gunung ke bibir pantai? Adakah itu semacam jalan tanah yang membelah hutan dan sampai ke alun-alun? Mungkinkah itu sebentang jalan mistis, titian gaib, yang menghubungkan bumi dan langit?

Saya tidak tahu. Yang jelas, tradisi carita pantun sudah dikenal oleh masyarakat jauh sebelum kolonialisme membangun de grote postweg. Mitos, legenda, dan cerita rakyat sudah lama hidup, jauh sebelum Gubernur Daendels datang membawa tongkat hingga tercipta kota baru di dataran tinggi Priangan. Leluhur kita sudah menghayati caritapantun jauh sebelum ada kampus ITB yang antara lain memberikan kuliah teknik sipil. Lutung Kasarung datang lebih dulu daripada Ir. Sukarno.

Rajah itu sendiri, sudah pasti, seperti penunjuk jalan. Dalam struktur narasi, ada pembuka dan penutup.Rajah hadir sebelum pokok cerita dituturkan, dan sebelum seluruh cerita dipungkas. Ada rajah pamuka di depan, ada rajah pamunah di belakang. Ujung-pangkal kisah jelas adanya. Di antara duarajah, kita menelusuri jalan cerita.

Memang muskil jika kita mesti mencari tahu perihal makna yang terkandung dalam kata-kata karuhun. Paling tidak, selalu ada jebakan kirata. Kita hanya sanggup mempertautkan idiom buhun, kata-kata lawas, kepada situasi diri kita hari ini.

Jalan raya yang kita kenal kini adalah jalur aspal tempat berbagai kendaraan bermotor hilir mudik. Itulah jalan tempat banyak orang naik-turun angkot dan lalu-lalang menyeberang. Itu  juga jalan tempat tak sedikit orangberjualan di pinggir bahkan di tengahnya.

Jalan itu tak ubahnya dengan perluasan tubuh kita, seperti urat nadi tempat darah mengalir, menjalar, menyebar. Cara kita menata jalan raya tak ubahnya dengan cara kita mengurus tubuh kita sendiri. Kota tempat jalan raya dibangun adalah tubuh kolektif. Ada jalan raya yang lalu-lintasnya “ramai lancar, “padat merayap”bahkan “macet total”, seperti tubuh yang mengalami masalah dengan aliran darah. Kota yang jalannya “macet total” seperti tubuh yang terserang stroke.

Itu jalan dalam urusan transportasi. Ada juga juga jalan, bahkan jalan yang tak kurang besarnya, dalam urusan komunikasi. Hari ini jalan itu membentang bercecabang di dunia maya, jagat digital, dan kita menemukan diri kita berada di tengah semacam jejaring laba-laba yang cakupannya mendunia. Ramai betul jalan yang satu ini, seperti jalan raya dengan sekian banyak sirine, bising knalpot, penuh asap, tapi juga menjanjikan begitu banyak tamasya yang menyenangkan.

Apa sih yang layak diteundeun di tengah jejaring jalan itu? Apa sih yang dapat kita sumbangkan ke tengah jejaring peradaban?  

Sebagian orang rupanya berprinsip bahwa hidup adalah abring-abringan, baik di jalan transportasi maupun di jalan komunikasi. Mereka seakan hanya mengikuti bagaimana ramainya jalan. Kalau kita meminjam lirik lagu dangdut “Pokoké Jogét”, kecenderungan itu dilukiskan begini: “rak kenal penyanyiné/ rak ngerti penciptané/ sing penting urip ramé-ramé(nggak kenal penyanyinya/ nggak tahu penciptanya/ yang penting hidup ramai-ramai) ...”

Kecenderungan beramai-ramai dilaksanakan baik dalam bentuk arak-arakan, abring-abringan, pawai, di jalan, maupun dalam bentuk saling memperbesar suara, membikin semacam bunyi nyaring, dalam jejaring komunikasi massa.Dengan kecenderungan seperti itu, jalan transportasi dan jalan komunikasi bisa jadi saluran lalu-lintas sentimen. Itulah jalan yang penuh dengan perasaan, tempat orang gampang tersinggung, mudah marah, bahkan haus darah.

Sebagian orang lainnya, termasuk penulis kolom ini, sering pusing dengan keramaian demikian. Syukurlah, jalan gedé bukan semata jalan sentimen, melainkan juga jalan argumen atau jalan nalar. Di jalan yang lebih sunyi ini, meski tidak mudah, orang setidaknya masih bisa berupaya untuk tetap masuk akal.

Kiranya, apa yang sepatutnya diteundeun di jalan besar itu tidak lain dari pengetahuan. Jalurnya memang mengandalkan nalar. Dengan itu, berbagai orang, dari berbagai lingkungan budaya, saling berbagi tahu demi kemaslahatan bersama.***