“Tanda” Demokrasi

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

PADA Selasa 10 Januari 2017 waktu setempat, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyampaikan pidato perpisahan menyusul akan berakhirnya masa kepemimpinannya di Gedung Putih. Pada 20 Januari 2017 mendatang, Obama akan menyerahkan kursi kepresidenan Negeri Paman Sam tersebut kepada pemenang pemilu 8 November 2016 lalu, Donald Trump.

Puluhan ribu warga menghadiri pidato perpisahan Obama sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat. Di tengah-tengah pidato, presiden yang mengaku seorang imigran kelahiran Amerika tersebut sempat meneteskan air mata haru di tengah hembusan angin Chicago yang lembut kala itu.

Antusiasme warga menghadiri pidato perpisahan Obama, bahkan sebagian dari mereka harus rela merogoh kocek cukup dalam untuk mendapatkan tiket masuk,  menunjukkan rasa hormat dan cintanya kepada presiden berkulit berwarna pertama di Amerika. Mereka akan mengenang Obama sebagai presiden yang datang bukan dari kutub budaya inti Amerika, white, anglo-saxon, and protestan (WASP), namun pergi meninggalkan Gedung Putih dengan mewariskan sejumlah nilai baik.

Dalam 8 tahun memimpin negara adidaya tersebut, banyak kemajuan dicapai pemerintahan Obama. Itu semua akan dikenang warga Amerika, bahkan mungkin dunia. Selain tentu saja, ada pekerjaan rumah yang harus dituntaskan penggantinya, salah satunya tentang hubungan antarras.

Soal keberhasilan dan gagasannya yang belum terwujud secara jujur disampaikan Obama dalam pidatonya yang menggetarkan tersebut. Namun yang paling menarik adalah cara Obama meletakkan “tanda” kemajuan demokrasi Amerika.

“Tanda” demokrasi Amerika tidak dilekatkan pada ajaran tokoh yang membidani kelahiran Amerika. Bukan  pada kepeloporan  George Washington dalam meletakkan sendi-sendi pemerintah Amerika, ataupun pidato Abraham Lincoln tentang ajaran demokrasi yang kini banyak dianut dan didengungkan warga dunia. Padahal, orisinalitas ajaran demokrasi Lincoln diakui bukan saja oleh bangsa Amerika tetapi berterima di seluruh dunia.

Obama pun tidak meletakkan “tanda” kemajuan demokrasi Amerika pada  apa yang diraih dalam masa pemerintahannya. Tidak juga pada ajaran ibunya tentang pentingnya menghargai sesama dan memahami dunia dari sudut pandang orang lain. Namun Obama meletakkan “tanda” demokrasi Amerika pada peralihan kekuasaan antarpresiden secara damai.

Lebih dari sekedar menjamin proses transisi pemerintahan secara damai, Obama memelihara hubungan baik dengan pendahulunya, Bush dan keluarganya. Seperti Bush yang menjaga proses transisi pemerintahan dengan baik, Obama pun menjamin peralihan kekuasaan dengan Trump berjalan mulus, meski kemunculan sang milyuner di Gedung Putih terus dihujani kritik hingga menjelang pelantikannya 20 Januari mendatang. Demi  menjaga hubungan baik dengan penggantinya, Obama tidak sepatah kata pun mengkritik Trump, bahkan mendoakan agar pemerintahannya sukses dan dapat membawa Amerika lebih baik.

Selama memimpin Gedung Putih, beberapa kali Obama berbincang akrab dengan Bush untuk sebuah urusan menyangkut negaranya. Meski kedua tokoh berasal dari partai yang berbeda, mereka mampu mengesampingkan orientasi partisan demi kepentingan negaranya.

Inilah salah satu legacy Obama yang penting, memelihara hubungan baik dengan pendahulu dan penerusnya, demi Amerika. Obama menjadi clif hanger, yang menjamin terjadinya peralihan dan kesinambungan pemerintahan demokratis yang sehat. Obama telah menambah daftar panjang Presiden Amerika yang kemudian menjadi guru bangsanya.

Tentu bukan karena tidak ada hal yang membuatnya tidak setuju, atau bahkan mungkin sempat membuat kupingnya memerah, yang membuatnya amat menghargai Bush dan menghormati Trump. Namun loyalitas dan komitmennya pada kebesaran bangsanya membuat perbedaan diantara mereka tidak berarti.

 Menghargai kepemimpinan terdahulu dan menghormati penerusnya adalah bentuk kenegarawanan yang genuine.  Sebuah sikap yang hanya akan lahir dari mereka yang tidak etnosentrik, yang terbebas dari jebakan ilusi tentang kebesaran diri, keluarga, dan rezimnya, sambil menafikan yang lain.

Barack Obama sukses membebaskan dirinya dari dilema partisan. Meski diusung Partai Demokrat, namun loyalitas kepartaiannya tidak membatasi loyalitasnya pada Amerika. Itulah sebabnya, Obama tidak menepuk dada ketika berhasil mengambil alih kursi kepresidenan dari Partai Republik, dan tidak menyerahkannya dengan wajah cemberut.

Ulang-alih kekuasaan antarpartai adalah hal yang wajar. Pergantian pemimpin pun alamiah. Yang tidak wajar dan alami adalah ketika para  pemimpin bermusuhan, saling menyandera dalam kerangkeng kebencian, dan membiarkan dendam kesumat menang melawan akal sehat dan tindakan yang adil.***