Bandung-Cicalengka

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

ADIK kami, Mang Ata, memberikan saran kebahagiaan yang mudah dilaksanakan. "Ajaklah anak-anak naik kereta ekonomi," katanya.

Menjelang akhir liburan sekolah, ia mengajak anak-anak dan istrinya naik kereta jurusan Cibatu-Purwakarta. Naik dari Bandung, ongkosnya cuma Rp 8.000 tiap orang. Turun di Plered, mereka makan sate maranggi. Enak sekali.

Begitu mendengar ceritanya, saya langsung tertarik. Saya ajak anak-anak dan istri saya berwisata kereta. Thomas dan kawan-kawan hanya ada dalam film. Kereta di Taman Ade Irma Suryani biarlah buat balita. Ayo, kita naik kereta sungguhan. Lagi pula, sejak zaman Ignasius Jonan, kereta ekonomi pun lumayan nyaman.

"Purwakarta lima orang," ujar saya kepada petugas loket melalui dinding kaca yang berlubang.

"Habis, Pak," jawab petugas loket yang keramahannya mengingatkan saya kepada lembaga advokasi konsumen.

Sejenak saya terdiam. Baru saya sadari bahwa tiba di stasiun jam setengah delapan pagi layak disebut kesiangan. Lagi pula, kereta ke Purwakarta hanya sekali dalam sehari.

"Yang masih ada tiket ke mana aja?" tanya saya

"Cicalengka."

"Ya, sudah. Cicalengka lima orang."

Begitulah, dengan uang Rp 2.000, kami bisa bepergian sekeluarga menuju ke Cicalengka. Gilang, anak bungsu kami, merayakan hari pertama naik kereta dengan memilih duduk dekat jendela. Pandangannya tertuju ke himpitan tembok rumah di sepanjang rel yang berseling dengan sejumlah lintasan penyeberangan, sebelum diselamatkan oleh pemandangan hamparan sawah di sekitar Gedebage.

Di dekat GBLA, kereta berhenti sejenak. Sekawanan kuntul beterbangan di pesawahan yang mengelilingi stadion. Dalam hati saya khawatir, kalau saja projek Sumarecon terlaksana, burung-burung itu pasti mengalami stress. Habitatnya niscaya berubah. Kata Neil Postman, "teknopolis" memang dapat diartikan sebagai takluknya budaya oleh teknologi. Yang pasti, pagi itu, dari jendela kereta, saya melihat kuntul-kuntul Sumarecon masih dapat menjelajahi pesawahan.

Kereta melanjutkan perjalanan. Meluncur lurus ke timur, kami melewati Haurpugur, Panenjoan, dan akhirnya Cicalengka. Lanskap kota yang saya saksikan tidak seresik Cicalengka yang diceritakan oleh Sanusi dan Samsudi dalam ”Taman Pamekar”, buku bacaan berbahasa Sunda yang saya baca di SD. Kakak-beradik Aman, Isah, dan Ade hidup bahagia dalam kenangan dan kami sekeluarga mencoba berbahagia di jalan raya yang bising dan aspalnya meleleh kepanasan.

Sehabis makan ayam di Jalan Alun-alun, saya ajak anak-anak dan istri saya berkunjung ke rumah peninggalan Dewi Sartika. Dari seberang alun-alun, kami tinggal berjalan sekian ratus langkah kemudian belok kanan. Persis di tepi jalan, sampailah kami di depan dua rumah tua yang halamannya dikasih tiang bendera dengan Merah-Putih berkibar-kibar oleh angin musim kemarau. Pagarnya dirantai dan digembok. Rerumputan tumbuh liar mengepung pokok-pokok hanjuang.

"Dewi Sartika itu siapa?" tanya Gilang.

"Pejuang dari Tatar Sunda yang dulu, pada zaman Belanda, membuka sekolah buat cewek-cewek. Dia juga suka nulis dan giat dalam organisasi kaum ibu. Lahirnya, ya, di sini, di Cicalengka. Orang hebat dia," juar saya menguraikan.

"Harusnya rumah ini dirawat dan dibikin museum ya," istri saya menimpali.

"Ya. Harusnya dan baiknya sekarang kita kembali ke Bandung, yuk. Ayo, naik kereta lagi!" ujar saya.

Sekembalinya kami ke Bandung, saya kirim foto ke grup WhatsApp tempat Mang Ata bergabung. Itulah cara saya berterima kasih kepada adik kami yang sangat mencintai keluarganya.***