Harapan Baru

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

BAGI sebagian orang tahun baru adalah harapan baru. Mereka merumuskan harapan  tersebut sebagai sebuah resolusi atau pernyataan komitmen hidupnya setahun yang akan datang. Sebuah pernyataan yang menyiratkan kesadaran universal untuk berubah dan menjadi lebih baik.

Datangnya libur awal tahun seolah memberi ruang untuk mengekspresikan harapan kedalam ritus sosial pergantian tahun. Ada yang berpesta di hotel berbintang, ada yang merayakannya dengan menyelam atau mendaki gunung, namun tidak sedikit yang berkumpul bersama keluarga sambil bakar jagung, memanggang daging (barbeque) sambil memasang tenda di halaman.

Kesadaran untuk berubah dan menjadi lebih baik memberi setiap orang semangat hidup dan tenaga untuk mewujudkannya. Jangan berhenti berharap, karena harapan adalah pelita yang memandu pikir, rasa, dan tindakan. Meski apa yang diharapkan tidak selalu datang sesuai harapan, namun hidup akan memberi kesempatan. Tirulah spirit orang Jepang, “tujuh jatuh, delapan bangkit”. Tidak ada ruang untuk putus asa, dan menyerah kalah pada keadaan. 

Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, menjelaskan bahwa harapan (raja’) berbeda dengan angan-angan (tamanni), dan keterpedayaan (ghafur). Bisa jadi seseorang merasa menaruh harapan, padahal sejatinya hanya menebar angan-angan. Itulah sebabnya, ada pemeo yang mengatakan barangsiapa berharap bersiaplah untuk kecewa.

Menurut Al-Ghazali harapan adalah kepuasan hati karena menanti sesuatu yang diinginkan dengan memenuhi sebab-sebabnya. Keterperdayaan adalah penantian yang kehilangan sebab yang memungkinkan  apa yang dinantkannya terwujud. Penantian hanya disebut sebagai angan-angan bila ada dan hilangnya sebab adalah seimbang.

Apa yang dijelaskan Al-Ghazali bisa digambarkan dalam contoh berikut. Bagi petani hidroponik yang sudah mengatur medium, sirkulasi air dan nutrisi yang diperlukan dengan formula yang tepat, memanen sayuran dalam dua atau tiga minggu adalah harapan. Demikian pula bagi petani di Subang yang menebar benih unggul di sawah yang subur, perairan yang teratur, dan menabur pupuk sesuai takaran berharap dapat memanen padi dalam tiga atau empat bulan ke depan.

Namun bila petani menanam sosin di tanah kering dan tandus karena tergoda temannya yang memanen sosis dari tanah yang subur lagi gembur adalah keterperdayan, sebab subur dan gemburnya tanah menjadi syarat tumbuhnya sosin tidak terpenuhi. Mirip dengan keterperdayaan, seorang petani yang menanam sosis di lahan subur namun sulit mendapatkan air sambil berharap Tuhan menurunkan hujan adalah angan-angan.

Sederhananya sebuah harapan hanya akan tinggal jadi keterperdayaan atau angan-angan bila hal yang menjadi penyebab terwujudnya sesuatu yang diharapkan tidak terpenuhi. Setiap orang bisa berharap apa saja, namun terwujud atau tidaknya bergantung kepada usahanya menempuh sebab atau mencukupkan apa yang menjadi syaratnya.

Karena itu, bila pada akhir tahun dirasa ada harapan yang belum terwujud boleh jadi karena usaha memenuhi sebab belum cukup. Ini berarti, dalam pandangan yang amat realistik, sukses akan datang bila sebab-sebab terwujudnya harapan telah tercukupkan.

 Adalah sunatullah bila setiap orang  berharap mendapat  yang terbaik dalam hidupnya, meski menyadari sulit memenuhi sebab-sebabnya. Pa Cici tetangga saya, yang sehari-hari menanam sayuran di bekas tanah perkebunan Ciater, beharap memiliki sawah dengan irigasi yang bagus, meski hal itu diakuinya sebagai hal yang hampir mustahil.  Ketika saya tanya kenapa, dia bilang jangankan membeli sawah, sekedar untuk menyambung hidup saja harus tutup lubang gali lubang.

Pada situasi seperti ini pemimpin harus hadir dan menjadi perantara tercukupkannya sebab-sebab yang menjadi syarat terwujudnya harapan. Bila pemimpin hadir hanya memberi janji tanpa menunjukkan cara mewujudkannya maka ia hanya menjadi penebar angan-angan belaka.

“A leader is a dealer in hope”, demikian ucapan terkenal dari Napoleon. Tugas pemimpin memberi harapan kepada pengikutnya. Memberi tahu tempat yang akan dituju dan memandu langkah menapaki jalan untuk menempuhnya.

Pemikir lain mengingatkan jangan pernah menjelaskan tujuan tanpa menunjukkan caranya, sebab cara dan tujuan tidak bisa dipisahkan. Sayangnya, retorika  politisi masa kini kadang terlalu penuh deskripsi tentang target yang dituju, namun gagal memberi arah jalan untuk mencapainya.

Ritus sosial pergantian tahun sejatinya menjadi momentum penegasan harapan dan cara mewujudkannya. Bila cara atau sebab terwujudnya harapan masih samar, boleh jadi kemeriahan pesta akhir tahun hanya menjadi hajatnya para pemilik business plan yang mapan, yang dirayakan oleh mereka yang cerdas  menangkap peluang, dan disambut oleh histeria massa yang bingung mendefinisikan harapan ke dalam langkah yang mencukupkan syarat terwujudnya harapan.

Tanpa kesadaran tentang padunya harapan dan cara, kemeriahan pesta akhir tahun hanya akan bermakna salam perpisahan kepada angka enam dan ucapan selamat datang kepada angka tujuh dalam sistem penanggalan Masehi yang dipakai. Bila ini yang terjadi, tidap perlu ada kembang api pengobar semangat, sebab perubahan alamiah seperti ini tetap akan datang meski tidak diundang.***