Kota yang Mengasingkan Warganya

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

KETIKA informasi begitu mudah dan cepat didapat, maka elastisitas wisatawan untuk berkunjung ke suatu kota menjadi sangat peka. Karena wisata itu berakar pada kenyamanan pengunjung, maka ketika salah satu unsur kenyamanan dalam berwisata itu berubah, maka wisatawan yang sangat peka terhadap perubahan kenyamanan dalam berwisata, akan segera memutuskan untuk tidak atau menangguhkan perjalanan wisata ke suatu kota. Mereka akan sangat peka terhadap tempat wisata yang menjadi lebih nyaman atau sebaliknya menjadi lebih buruk, seperti sering terjadinya gangguan keamanan, kemacetan yang parah, adanya banjir perkotaan yang mengerikan di setiap puncak musim hujan.

Gelombang rentetan dampak dari wisata di suatu kota begitu panjang dan lebar. Pariwisata dapat memperkuat perekonomian kota, perekonomian lokal dan nasional, mendorong pembangunan perkotaan dan transportasi, mempengaruhi citra kota, sehingga meningkatkan investasi dan produktivitas warga kota.

Begitupun ketika pembangunan kota tidak tekonsep dan terencana dengan baik dalam konstelasi mengembangkan kota secara menyeluruh, dan hasil pembangunan fisik kota harus segera terlihat dalam satu periode jabatan, maka pembangunan kota akan menjadi "cepat saji", segera terlihat, dan akan memanfaatkan tempat-tempat yang yang sudah ramai di zaman baheula, sehingga tidak terhindarkan membangunan fasilitas kota menjadi bertumpuk di satu kawasan yang lalu lintasnya sudah seperti benang kusut.

Karena sudah padat dengan kegiatan warga kota, maka kemacetan yang sangat parah menjadi tidak terhindarkan. Selama berbulan-bulan, untuk melaju di jalan yang panjangnya hanya 1.000 meter saja memerlukan waktu lebih dari 60 menit. Inilah awal dari ketidaktertarikan wisatawan yang akan membelanjakan uangnya di kota itu. Kerugian besar bukan hanya bagi pengusaha hotel, rumah makan, dan tempat wisata lainnya, tapi juga pendapatan otoritas negara dari pajak pun akan turun.

Salah satu daya tarik kota bagi wisatawan adalah adanya taman-taman kota yang rindang, yang ditumbuhi pohon yang memberikan naungan. Penataan ruang terbuka justru sering mengorbankan pohon yang sudah ada, akibatnya ruang terbuka hijau hujau berubah menjadi ruang terbuka panas. Inilah titik awal daya tarik kota itu memudar.

Taman-taman kota yang teduh alami akan menjadi tempat bermain gratis bagi warga kota, menjadi tempat untuk bercengkrama, bercerita, berdiskusi, merencanakan kegiatan, sehingga terlalu gegabah bila ruang terbuka hijau itu menjadi bagian wilayah kota yang diasingkan dari warga kotanya. Kota yang mengasingkan warga kota dari tradisi dan kebudayaan warga kota karena ruang terbuka hijau hanya menjadi bagian kecil dari rencana kota yang mengabdi kepada pengusaha. Ruang terbuka hijau di pusat kota menjadi lebih mirip sumuran berdinding gedung-gedung tingi yang mengepung lahan kosong yang seharusnya menjadi milik warga kota.

Seperti alun-alun sebagai jantung kota, cikal-bakal sejarah kota, mempunyai nilai strategis yang tinggi, maka kawasan seputar alun-alun akan menjadi rebutan pemodal untuk mendirikan gedung komersil di lahan negara yang disewakan puluhan tahun. Otoritas Negara yang seharusnya berpihak pada kegiatan yang memuliakan warga kotanya, malah sering berlaku sebaliknya, justru mengasingkan warga kotanya dari kegiatan bersama di lahan-lahan kota.

Gedung-gedung tinggi komersil didirikan dan steril dari kegiatan sosial kemasyarakatan. Warga kota harus puas dengan hanya memandangi gedung-gedung yang menjulang, yang sulit diakses, yang menutupi luas pandang ke sekeliling kota, ke gunung-gunung yang menjadi sumber inspirasi dan imajinasi, yang menjadi sumber udara dan air bersih, yang memberikan kegembiraan dan terjalinnya persahabatan melalui petualang, serta menjadi sumber cerita dan ilmu pengetahuan.

Kota-kota dibangun dengan selera tunggal. Kekuatan negara menyebabkan adanya monopoli rasa dan selera dalam membangun kota. Padahal, masing-masing kota mempunyai karakternya sendiri-sendiri. Akibatnya, karakter alam dan budaya warga kota, serta keautentikan kota menjadi hilang. Kota dibangun dengan tergesa, sehingga melupakan sejarah kotanya, melupakan budaya warga kota, dan pembangunan kota tanpa edukasi, sehingga otoritas negara berjalan sendiri, merancang pusat keramaian di pusat kota, namun tanpa pendidikan bagi warga kotanya.

Pembangunan kota harus kokoh agar bermanfaat lebih lama, berguna bagi keselamatan warga kota, dan indah. Namun, karena pembangunan fasilitas kota itu dibangun minus edukasi, maka warga kota sulit untuk berpartisipasi memelihara kotanya. Padahal, kota cerdas itu dibangun bukan untuk mengasingkan warga kota akan kotanya, tapi justru kota pintar itu dibangun untuk sebesar-besar keterlibatan warga kota akan kotanya.

Pembangunan kota yang mengasingkan warga kotanya hanya akan menyuburkan individualisme, sehingga daya rekat sosial warga kota menjadi longgar. Semakin berat beban ekonomi bagi warga kota, dan semakin diperparah dengan buruknya kualitas lingkungan perkotaan, air tanah semakin dalam, energi semakin boros, semuanya itu bermuara pada meningkatkan stres dan menyuburkan kriminalitas.***