Jatuh Toropong

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

BAIK dalam kisah Sangkuriang maupun dalam kisah Lutung Kasarung ada adegan jatuhnya toropong. Adegan seperti itu, agaknya, merupakan motif formulaic dalam narasi, semacam template dalam komunikasi mutakhir. Motif itu ada di sejumlah kisah, sebagai insiden yang turut mengarahkan jalan cerita.

Dalam kisah Sangkuriang, jatuhnya toropong merupakan mata rantai yang mempertautkan Dayang Sumbi dengan Si Tumang. Dalam kisah Lutung Kasarung, hal serupa terjadi pada Purbasari dengan Si Utun. Insiden jatuhnya toropong dalam kedua kisah itu merupakan salah satu pemicu perubahan nasib tokoh-tokoh cerita.

Apa itu toropong? Hati-hati, jangan sampai istilah Sunda toropong tertukar dengan istilah Indonesia teropong. Kamus Basa Sunda susunan R.A. Danadibrata (2009) menerangkan kata toropong sebagai “ngaran parabot ninun pikeun ngasupkeun pakan, wangunna saperti songsong leutik (nama perkakas menenun buat memasukkan pakan, bentuknya seperti songsong kecil)”.

Sekarang benda itu niscaya tidak populer lagi. Sudah lama kegiatan tenun-menenun menghilang dari kehidupan sehari-hari, kecuali barangkali di sejumlah lingkungan kecil, di kantung-katung budaya yang mencoba bertahan. Sebagaimana kegiatan menjahit, menyulam, dan merenda sudah lama menghilang dari suasana rumah tangga, demikian pula kegiatan tenun-menenun tidak lagi mejadi bagian dari kegiatan sehari-hari banyak orang.

Saya adalah bagian dari generasi yang waktu kecil ikut menonton Ira Maya Sopha berperan dalam film Cinderella versi Indonesia —kalau tidak salah. Lagunya masih terngiang-ngiang sampai sekarang: "kerja, kerja, mari kita kerja//gunting jahit jadilah gaun..."

Di Jakarta, beberapa bulan lalu, saya melihat seorang lelaki penjahit keliling yang mengandalkan sepeda hasil modifikasi sehingga kendaraan itu menyatu dengan sarana jahit-menjahit. Pemandangan itu sangat menarik buat saya karena mewartakan banyak hal, antara lain bergesernya kegiatan tisik-menisik dan jahit-menjahit dari lingkungan privat ke ruang publik dan berubahnya pembagian kerja di antara perempuan dan lelaki. Kedua gejala itu, sudah pasti, sudah berlangsung sangat lama.

Sekali pernah saya bertemu dengan Ceu Alit Djajasoebrata, penulis dan penelaah tekstil yang bermukim di Rotterdam. Waktu itu saya dikasih sebuah esai karangan Ceu Alit sendiri, “Weaving Myth of Sunda”. Itulah esai tentang mitos bertemakan tenun-menenun di Tatar Sunda. Salah satu legenda yang dipetik oleh Ceu Alit, berdasarkan catatan C.M. Pleyte, melibatkan tokoh kahyangan yang amat penting dalam kebudayaan Sunda, yakni Nyai Pohaci, dalam kisah tentang asal mula kegiatanan tenun-menenun.

Baiklah di sini saya petik sedikit kisah itu, dari bagian yang menceritakan Nyai Pohaci hendak menenun: “Namun untuk bisa menenun, Nyi Pohaci pertama-tama harus membuat alatnya. Nyi Pohaci menyumbangkan tubuhnya, dan dari itulah alat tenun pertama tercipta. Pahanya menjadi penopang balok; lengan bagian atas menjadi pemutar; rusuknya menjadi toropong. Singkatnya, semua bagian tubuhnya, yang masing-masing diberi nama dalam puisi yang didendangkan oleh para pujangga, menjadi perlengkapan alat tenun.”

Selagi bekerja menyunting esai itu menjelang publikasi, saya kian sadar betapa tenun-menenun pernah menjadi kegiatan yang begitu penting dalam kehidupan masyarakat kita. Kegiatan itu, seperti yang tergambar dalam dongeng tentang Dayang Sumbi atau Purbasari, lazimnya dilaksanakan oleh kaum perempuan.

Ingat kisah Nini Antéh? Apa kerjanya nun di planet bulan sana? Setiap bulan purnama, kita melihat sang nenek sedang tekun menenun, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Industrialisasi masinal, yakni kegiatan produksi yang mengandalkan mesin buat menghasilkan barang dalam jumlah massal, rupanya tidak sampai menyentuh bulan.

Waktu kecil saya membayangkan, bagaimana jadinya jika toropong Nini Antéh jatuh ke bumi? Apakah dia akan mengucapkan nazar seperti yang dilakukan oleh Dayang Sumbi? Siapa pula yang sanggup menolongnya mengembalikan perkakas kecil itu ke atas sana?

Teman saya, Yaman dari Kanekes, masih suka membawa kain-kain hasil tenunan setempat kalau dia berkunjung ke Bandung. Kain tenunan setempat sangat bagus, dijadikan iket, sarung, samping, dan sebagainya. Di kampungnya, saya yakin, toropong tidak sampai jatuh. Menenun toh tidak berhenti.***