Dandenong Ranges

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

DI sela-sela kunjungan ke Deakin University, Melbourne, Australia, saya menyempatkan diri pergi ke Dandenong Ranges. Seperti pengunjung lain, saya memilih waktu libur akhir pekan. Ditemani Pa Ade "the Best fisan" yang sudah tinggal di Australia sejak 1975, saya butuh 45 menit untuk tiba di Dandenong Ranges yang sejuk.

Menaiki jalan mulus berkelok, yang dipenuhi pohon ecaliptus besar yang menjulang di sepanjang kanan dan kiri jalan memberi impresi unik tentang keadaan hutan alam yang terjaga. Bukan hanya pepohonan yang tumbuh subur, perdunya pun terjaga dari tangan jahat. Melihat diameternya yang melebihi satu meter, saya menduga umur ecaliptus tersebut telah ratusan tahun.

Dandenong Ranges dikenal sebagai kawasan hutan yang eksotik. Ke mana pun pandangan diarahkan, hanya keindahan yang tampak. Namun bagi saya, bukan keindadahan alam Taman Nasional Dandenong yang paling mengesankan sebab di Tanah Air pun banyak tempat tak kalah elok.

Satu hal menarik, semua fasilitas yang menyempurnakan keindahan Dandenong berfungsi dengan baik. Bukan hanya infrastruktur jalan yang mulus atau fasilitas dasar seperti air bersih layak minum, kamar mandi dan toilet yang bersih tetapi juga sarana penunjang yang memanjakan pengunjung tersedia.

Bagi mereka yang hendak memanggang daging misalnya, dangau bersih sudah menanti, lengkap dengan tungku pembakaran (barbeque grill) dan gasnya. Di tengah hutan, semua fasilitas yang memanjakan tersedia, tanpa ditongkrongi petugas namun tetap terawat.

Di Dandenong Ranges, keindahan alam bersenyawa dengan modernitas. Semuanya dapat dinikmati sebebas menghirup udara di alam lepas, tanpa calo, bebas dari gangguan preman atau pengamen, dan tentu saja tanpa pungli. Di Dandenong, negara hadir dan pemerintah bekerja untuk memulyakan warga. Ketika saya tanya, apa yang membuat semua tersedia, pajak jawabnya. Pajak yang dibayar, kembali dalam bentuk pelayanan dan fasilitas yang dapat dinikmati warga.

Pengelolaan pajak yang transparan dan penunaian fungsi pemerintahan secara bertanggung jawab membuat semua organ pelayan publik bekerja. Unjuk kerja mesin birokrasi dilumasi kesukarelaan (volunteerism) dan tanggung jawab warga sehingga kapabilitas mesin birokrasi pun bisa optimal.

Tidak ada sampah di lokasi, karena pengunjung membawa kembali sampah yang dibekalnya dari rumah. Semua fasilitas terjaga karena pengguna pun ikut merawatnya dengan baik. Seperti pemerintah lokal yang menyediakan beragam fasilitias, para pengunjung pun berkomitmen memberi servis kepada pengguna berikutnya, dengan mengembalikan fasilitas yang digunakan seperti keadaan semula.

Komitmen memberi servis kepada sesama pengguna telah memungkinkan semua fasilitas publik terjaga. Komitmen ini terlahir dari kesadaran dan tanggung jawab pribadi, sehingga pemrintah lokal tak perlu menggaji anggota satuan pengamanan atau ketentraman dan ketertiban untuk menegakkan norma sosial ini.

Jangan bandingkan dengan usaha Wali Kota Bandung atau Surabaya yang harus menempatkan sekompi tramtib untuk menjaga kerapihan taman atau merantai deretan pot agar tak dicuri, karena kondisinya berbeda. Namun tentu saja kita harus bertanya mulai kapan akan hidup tertib dan peduli sebab keduanya butuh proses dan tidak tertanam sejak lahir.

Proses untuk hidup tertib dan peduli hanya mengenal kata mulai, tanpa mengenal kata akhir. Sebuah kepedulian pada hal-hal kecil, yang selama ini terlanjur dikesani sebagai hal rutin dan serba hadir. Membiasakan hal sederhana, seperti guru yang tak lagi meninggalkan papan tulis kotor ketika akan mengakhiri pelajaran, atau seperti orang tua yang tak lagi membonceng dua orang anak dan istrinya menaiki motor menerobos trotoar sambil melawan arus.

Tanpa kepedulian sosial hidup jadi kerdil. Demikian diajarkan para Nabi ribuan tahun lalu, dan menjadi pesan berulang yang disampaikan para penyeru ke jalan yang benar.

W. H. Davies (1871-1940), penyair kelahiran Newport, South Wales, melekatkan makna hidup pada "Leisure", pada kesempatan untuk berdiri dan menatap. Berdiri di bawah pohon, berdiri di atas sungai, menatap bayang-bayang bintang di dasar sungai yang bening, atau sekedar menatap mulut seseorang hingga tersenyum. "A poor life this if, full of care, we have no time to stand and stare", begitu bait terakhir puisi "Leisure".

Sayangnya selain merengkuh kemajuan, kita pun mereproduksi ketidakpedulian. Lebih parah lagi, ketidakpedulian ditanamkan kepada anak. Teramat banyak contoh untuk disebut, namun yang paling naif ketika kita berharap kenyamanan namun tidak ikut menciptakannya.

Meski secara objektif sulit untuk tidak mengatakan pemerintah belum bisa menggerakkan semua organ pelayanan publiknya, namun mustahil menyerahkan semua urusan kepadanya. Meski tak akan menyelesaikan persoalan publik, tanggung jawab sosial harus diambil setidaknya untuk mencegah pembiaran. Ketika ketidakpedulian dimulyakan, maka kebodohan akan dianggap sebagai kebijakan, demikian kata Thomas Gray (1716-61).

Untuk memutus rantai pembiakan ketidakpedulian, membangun jiwa dan raga warga harus seiring dengan penataan kota atau kampung. Hentikan membangun daerah/kawasan tanpa memupuk kesadaran,memderdayakan, dan membuka akses bagi kebahagiaan warganya, sebab tanpa ketiganya kemajuan fisik hanya akan menjadi kerangkeng yang mengurung warga dalam ketertinggalan, dan mendesak mereka menjadi "penduduk asli" yang tak kuasa menikmati kemajuan.***