Ngaseuk dan Késang

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

BINTANG-BINTANG menyampaikan isyarat kepada kaum tani. Kapan tanah dibuka, kapan benih ditanam, dan kapan padi dipetik, diputuskan dengan astronomi. Tangan yang memegang pacul dan arit di bumi adalah tangan yang terampil menerjemahkan gerak-gerik bintang di langit. Pertanian di bumi seiring dengan perbintangan di langit. Dengan kata lain, kaum tani menjalin kontak antara bumi dan langit.

Kata almarhum Pak Kusnaka Adimihardja yang meneliti budaya petani padi di Tatar Sunda, sedikitnya ada dua rasi bintang yang amat beken dalam pranata mangsa. Itulah kerti dan kidang. Kerti tersusun dari tujuh bintang. Pedagang puyer menyebutnya "bintang tujuh". Adapun kidang cukup melibatkan tiga bintang. Pembajak tanah menyebutnya bintang wuluku. Sekiranya kedua rasi itu digabungkan, jumlah bintangnya niscaya melebihi logo Nahdlatul Ulama. Ini juga berarti jenderal manapun di muka bumi mestinya memberi hormat kepada kaum tani.

Saya sendiri, meski bukan pramuka ataupun tentara, langsung memberi hormat kepada para petani begitu saya datang lagi di Ciptagelar, nun di pedalaman Gunung Halimun, pekan lalu. Jumat, 14 Oktober 2016, di situ berlangsung upacara ngaseuk. Itulah istilah Sunda buat kegiatan melubangi tanah huma dengan tongkat kayu atau sejenisnya. Benih padi lalu ditaburkan ke dalam lubang-lubang itu. Dengan upacara ini, dimulailah musim tanam di kasepuhan. Saking salutnya kepada para pekerja keras di sana, saya bersama beberapa teman dari kota ikut nimbrung menaburkan butir-butir padi, menyatukan diri dengan kegembiraan warga kasepuhan.

Dalam siklus yang diuraikan oleh Pak Kusnaka, ada satu masa yang digambarkan sebagai "kerti mudun, kidang matang méncrang di tengah langit". Artinya, sang kerti lagi turun, dan sang kidang lagi cemerlang di tengah langit. Itulah pertanda telah datang masanya bagi para petani huma buat melaksanakan ngaseuk.

Di Ciptagelar fase ngaseuk dirayakan dengan rangkaian upacara. Semalam menjelang ngaseuk, di kasepuhan ada pentas wayang golék, musik jipéng, angklung, topeng, dan lain-lain. Ki Arsan membawakan carita pantun sambil memetik kecapi di Imah Gedé.

Esok harinya, pagi-pagi, warga kasepuhan sudah berkumpul di huma. Abah Ugi Sugriana Rakasiwi bersama Ema Alit dan Ema Ageung, juga jajarannya, datang diiringi musik angklung dan disambut dengan bunyi perkusi. Di satu titik di tengah huma, Abah duduk bersila didampingi kedua Ema, memanjatkan doa, memimpin upacara. Dupa naik ke langit, butir-butir padi ditaburkan ke dalam beberapa lubang kecil. Titik itulah yang menjadi pungpuhunan, semacam pusat ritus tanam. Begitu Abah dan Ema selesai menaburkan benih padi di pungpuhunan, bertebaranlah semua warga kasepuhan ke seantero huma. Sebagian membuat lubang, sebagian lagi menaburkan benih. Gerak kolektif ini melingkar, dari pusat ke luar. Berbeda dengan gerak panen yang memusat, dari luar ke dalam. Dalam tempo sekitar satu jam kegiatan itu rampung sudah.

Sepulang mengikuti upacara ngaseuk, saya ikut mendoakan semoga keringat warga kasepuhan membawa berkah bagi kemanusiaan. Tentang itu saya yakin, bahkan haqqul yaqin, sebab langit dan bumi adalah sahabat kaum tani. Pancer pangawinan.***